51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Teknologi Sistem Informasi Geografis sebagai Alat Bantu untuk Pemetaan Penyakit Infeksi HIV

Tingginya angka kasus penyakit infeksi human immunodeficiency virus (HIV) telah menjadi sebuah masalah besar dibidang kesehatan masyarakat di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penularan HIV dan jumlah angka kematian akibat HIV/acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Namun upaya tersebut belum berhasil juga mengurangi penyebaran HIV di Surabaya.

Dalam penelitian ini, kami menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyebaran HIV di Surabaya dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Kami melakukan analisis secara spasial terhadap kluster HIV/AIDS di Surabaya dari tahun 2016 hingga 2020. Autokorelasi spasial dan analisis spatio-temporal yang digunakan untuk mengidentifikasi pengelompokan HIV secara lokal. Selain itu, indeks Global Moran™s I diterapkan untuk mendeteksi pengelompokan kasus HIV di tingkat kecamatan.

Surabaya menjadi fokus penelitian ini. Surabaya merupakan ibu kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Surabaya juga memiliki prevalensi HIV tertinggi di antara kota-kota di tanah air. Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, kemungkinan besar akan ada lebih dari 300 kasus HIV baru yang dilaporkan di Surabaya pada tahun 2021. Tren secara spatiotemporal yang kompleks pada prevalensi HIV dan proyeksi AIDS relatif mudah diprediksi dengan menggunakan teknologi GIS.

Interpolasi spasial pada data GIS mengungkap pola spasial dan tren peningkatan kasus HIV di Surabaya selama dua dekade terakhir. Data dari rekam medis memungkinkan kami menganalisis tingkat kejadian HIV/AIDS dengan menggunakan perangkat lunak terkait prediksi yang lebih canggih dan akurat yang bisa membantu kami memperkirakan perkembangan penyakit HIV/AIDS di wilayah Surabaya.

Dari hasil analisis GIS menunjukkan bahwa HIV paling banyak terjadi pada kaum laki- laki sebesar 70,3% (683/969) pada kelompok usia produktif (20“35 tahun) dan infeksinya ditularkan sebagian besar melalui hubungan seksual sebesar 97,2% (942/969). Kluster kasus HIV terbesar teridentifikasi di beberapa kecamatan di Surabaya Pusat yang merupakan hotspot HIV. Kecamatan tersebut merupakan kawasan pusat bisnis, dimana banyak terdapat gedung perkantoran, kantor pemerintahan, kawasan perbelanjaan, tempat nongkrong, taman, hotel, pub, bar, sehingga prevalensi HIV dikecamatan ini lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya di wilayah Surabaya. Begitu pula dengan resiko penularan HIV, berdasarkan analisis hotspot, daerah dengan jumlah kasus HIV yang tinggi belum tentu menjadi hotspot jika daerahnya berada disekitar  daerah yang memiliki kasus HIV yang rendah. Sejalan dengan

karakteristik demografi, seseorang melakukan hubungan seksual memiliki risiko infeksi HIV yang lebih tinggi dibandingkan jalur penularan perinatal dan narkoba suntikan. Dalam penelitian ini, kami menganalisis penularan HIV secara spasial dan temporal di Surabaya dan mengidentifikasi faktor risiko penularannya, seperti jenis kelamin dan usia. Hasilnya menunjukkan adanya korelasi antara penularan HIV dan perilaku seksual, serta dengan bentuk geografisnya. Hotspot HIV yang teridentifikasi dan faktor risiko penularan HIV dapat berguna untuk perumusan kebijakan dan manajemen program HIV.

Intervensi di masa depan harus fokus pada daerah atau kelompok berisiko tinggi. Penelitian ini juga menyarankan kerjasama dengan Dinas Kesehatan Surabaya dalam menyediakan tes HIV secara berkala didaerah yang merupakan hotspot HIV, terutama di pub dan bar. Pemantauan terus menerus terhadap wilayah yang merupakan hotspot kasus HIV yang teridentifikasi diperlukan untuk mengurangi jumlah kasus HIV di Surabaya. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai penularan HIV di Surabaya, yang dapat membantu mengurangi penularan HIV penyebaran infeksi HIV di wilayah tersebut.

Kesimpulannya, analisis HIV secara spasial dan temporal dan ditambah dengan analisis terhadap faktor-faktor yang mendorongnya epidemi, dapat membantu pemerintah merumuskan kebijakan dan merancang intervensi yang ditargetkan untuk mencegah dan mengendalikan epidemi HIV di Surabaya, Indonesia.

Penulis: Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Khairunisa, SQ, et.al. (2023). Characterization of spatial and temporal transmission of HIV infection in Surabaya, Indonesia: Geographic information system (GIS) cluster detection analysis (2016“2020). HELIYON. 2023 Aug 25;9(9). doi: Available oline at

AKSES CEPAT