Dewasa ini fenomena konsumsi rokok oleh masyarakat Indonesia merupakan kegiatan yang sangat lumrah. Kendati mengetahui efek samping dari merokok, tak sedikit masyarakat yang masih mengabaikannya. Adiksi ini tentu didukung oleh salah satu kandungan rokok, yaitu nikotin yang dapat membuat perokok mengalami kecanduan dan akan sulit menghentikan kebiasaannya ini. Hal lain yang menyebabkan penikmat rokok semakin menjamur disebabkan oleh mudahnya akses untuk memperoleh rokok..
Salah satu problematika yang terjadi ialah penggunaan rokok oleh anak-anak yang sangat tinggi di Indonesia. Dikutip dari Tobacco Control Support Center, lebih dari 30% remaja Indonesia aktif mengkonsumsi rokok. Generasi muda perokok ini memilih untuk untuk menjadi perokok aktif karena beberapa pengaruh , seperti, lingkungan dengan banyak perokok, promosi perusahaan rokok, media sosial dan lainnya. Yayasan Lentera Anak menjelaskan, 90% toko penjual rokok tidak melarang atau melakukan pemeriksaan dalam penjualan rokok kepada anak-anak. Akibatnya, anak-anak dengan mudah membelinya. Walaupun sudah sangat jelas dalam peraturan pemerintah tentang penggunaan produk tembakau di Indonesia bahwa setiap pelaku usaha dilarang untuk menjual rokok kepada anak dibawah usia 18 tahun serta setiap orang dilarang untuk menyuruh anak dibawah umur untuk menjual, membeli, atau mengkonsumsi produk tembakau.
Banyak yang beranggapan bahwa rokok dapat membantu menghilangkan stres namun bukti medis menunjukan bahwa efek rasa tenang ini hanya sesaat dan justru dapat menyebabkan lebih banyak masalah dikemudian hari. Penyakit yang paling sering timbul setelah penggunaan rokok secara konsisten adalah kerusakan paru-paru serta saluran pernapasan. World Health Organization menjelaskan lebih dari 40% perokok meninggal karena penyakit paru-paru. Selain itu, direktur departemen WHO juga menjelaskan kerugian ekonomi dunia mencapai $1,4 triliun akibat penggunaan tembakau.
Di Indonesia, beban berat akibat merokok dirasakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) akibat maraknya perokok aktif. Hal ini membuat BPJS menggelontorkan dana hingga lebih dari Rp 25 triliun per tahun untuk menangani dan melakukan perawatan penyakit akibat konsumsi rokok. Menteri keuangan, Sri Mulyani, menjelaskan konsumsi produk tembakau ini menjadi ini sangat merugikan baik untuk sektor kesehatan maupun ekonomi karena secara paralel menimbulkan efek hilangnya tahun produktif masyarakat Indonesia.
Jumlah perokok aktif di Indonesia yang tinggi
Biaya ekonomi dan sosial yang timbul dari konsumsi rokok masyarakat Indonesia terus meningkat, Peningkatan yang terjadi lebih banyak ditanggung oleh masyarakat menengah kebawah. Kerugian yang timbul akibat konsumsi tembakau mencapai USD 200 juta, sedangkan angka kematian yang timbul akibat rokok dari tahun-ketahun terus meningkat. Jumlah konsumsi rokok masyarakat Indonesia pada tahun 2016 mencapai 341,7 miliar batang, pada tahun 2017 jumlahnya mengalami sedikit penurunan di angka 336,3 miliar batang. Pada tahun 2018 konsumsi rokok juga mengalami penurunan menjadi 331,5 miliar batang dan mengalami kenaikan 7,4% pada tahun 2019 sebanyak 356,5 miliar batang. Pada tahun 2020 mengalami penurunan lagi sebesar 9,7% dengan konsumsi sebanyak 322 miliar batang.
Si Miskin yang Merokok
Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik, rokok masih menjadi konsumsi utama masyarakat Indonesia. Rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau sebesar Rp 76.583 per kapita per bulan pada maret 2021. Konsumsi rokok tersebut naik 4,3% dari Rp 73.442 per kapita per bulan pada maret 2020. Selain itu konsumsi rokok merupakan yang kedua tertinggi di antara kelompok pengeluaran lainnya. Menurut data yang dikeluarkan oleh BPS, dalam satu bulan, pengeluaran masyarakat Indonesia untuk konsumsi rokok setara dengan gabungan dari konsumsi susu, telur, ayam, dan sayur-sayuran. Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk rokok masih menjadi komoditas yang menjadi penyumbang kemiskinan terbesar kedua setelah makanan.
Persentase penyebab kemiskinan dari konsumsi rokok hanya kalah dari konsumsi beras yang berada pada posisi pertama dengan kontribusi 20,35 persen di perkotaan dan 25,82 persen di pedesaan. Pengeluaran masyarakat yang sangat besar untuk rokok ini memiliki dampak yang positif untuk pemerintah karena menjadi pemasukan yang besar bagi pemerintah, akan tetapi juga menjadi penyebab kemiskinan bagi masyarakat Indonesia.
Melihat hal ini tentunya merupakan fenomena yang miris. Bagaimana tidak, disaat kemiskinan masih merajalela dan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal belum terpenuhi dengan layak, mereka, si miskin yang merokok justru membayar uangnya demi kesakitannya di kemudian hari.
Penulis: Lioni Nur Mahfudah (Mahasiswa FEB 51动漫)





