Penyakit malaria dan resistensi Plasmodium terhadap senyawa antimalaria, pada saat ini menjadi permasalahan lokal dan global. WHO melaporkan bahwa jumlah kasus malaria mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh terjadinya resistensi Plasmodium terhadap obat-obat antimalaria yang tersedia seperti kuinin, klorokuin, dan sulfadoksin. Rekomendasi yang dikeluarkan oleh WHO dalam permasalahan ini adalah penggunaan Artemisinin-based Combination Therapie (ACTs) yang saat ini dianggap sebagai paling efektif. Dalam metode terapi ini, digunakan kombinasi antara artemisin dan turunannya serta suatu senyawa aktif lain sebagai pendamping. Peran senyawa artemisinin adalah untuk mereduksi jumlah parasit selama 3 hari pertama perawatan, sedang peran senyawa aktif pendamping adalah untuk mereduksi parasit yang masih tersisa. Walaupun salah satu tujuan dari penggunaan ACTs adalah untuk meminimalkan terjadinya resistensi parasit terhadap senyawa antimalaria, tetapi kasus resistensi Plasmodium terhadap ACTs sudah dilaporkan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian terhadap permasalahan ini.
Senyawa turunan metoksi amino calkon (C-3) telah diketahui memiliki aktivitas antimalaria melalui mekanisme inhibisi interaksi Fd (feredoksin) “ FNR (feredoksin-NADP+ reduktase) yang melibatkan proses redoks dengan transfer elektron pada proses respirasi Plasmodium. Dalam penelitian lanjutan yang dilakukan, senyawa C-3 digunakan sebagai senyawa partner untuk mengetahui aktivitas antimalaria sesuai konsep ACTs. Pada penelitian, digunakan 5 jenis senyawa, yaitu DHA (suatu turunan artemisinin), C-3, DFP, DFP-RVT, dan CM1 dengan struktur molekul seperti berikut ini. Sedang parasit yang digunakan adalah P. falciparum 3D7 sebagai parasit induk, dan 3 buah P. falciparum transgenik, yaitu mutan fdD193Y_3D7, k13C580Y_3D7, dan k13C580YfdD193Y_3D7.
Nilai IC50 antimalaria senyawa uji terhadap parasit induk berturut-turut adalah 4-5 nM (DHA), 8-10 µM (DFP-RVT), 21-25 µM (C-3), 32-41 µM (DFP), dan 32-38 µM (CM1). Sedang nilai IC50 masing-masing senyawa uji untuk parasit transgenik tidak berbeda jauh dengan nilai IC50 parasit induknya. Aktivitas antimalaria C-3 yang moderat terhadap parasit induk dan tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan parasit transgenik dapat dijelaskan melalui eksperimen in silico, yang menunjukkan bahwa senyawa C-3 terikat pada sisi aktif Fd yang letaknya agak jauh dari mutasi D193Y. Artikel yang melaporkan aktivitas antimalaria C-3 yang lebih baik (IC50) lebih rendah memberikan informasi bahwa senyawa C-3 ini dapat memiliki aktivitas antimalaria melalui penghambatan target lain.
Hasil uji interaksi farmakologis antara kombinasi DHA“senyawa uji lain menunjukkan bahwa nilai ΣFIC (Fractional Inhibition Concentration) kombinasi antara DHA-C3 memiliki harga rata-rata antara 1,21-1,32 terhadap parasit induk. Sedang nilai ΣFIC DHA-C-3 untuk parasit transgenik tidak ada perbedaan yang signifikan nilai rata-rata ΣFIC yang teramati antara fdWT dan fdMT. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi DHA-C3 menunjukkan interaksi antagonis yang moderat. Hasil dari penelitian ini memberikan informasi bahwa mekanisme antimalaria dari senyawa C-3 masih belum dapat disimpulkan secara jelas.
Penulis: Hery Suwito
Jurnal:





