51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Sindroma Emboli Lemak Cerebral

Sindroma Emboli Lemak Cerebral
Sumber: Wowkeren

Emboli lemakadalah adanya gumpalan lemak yang memasuki sirkulasi darah tepi (seringkali tanpa gejala). Sedangkan Sindroma Emboli Lemak merupakan komplikasi dari emboli lemak,mengakibatkan suatu tanda dan gejala klinis gangguan pernapasan dan gangguan saraf pusat yang mengancam jiwa. Patofisiologi Sindroma Emboli Lemak sebagian besar masih belum diketahui, meskipun telah dijelaskan terutama pada pasien dengan patah tulang panjang akibat trauma tumpul, di mana lemak memasuki sirkulasi darah tepi sebagai akibat dari patah tersebut atau setelah tindakan pembedahan.

 Emboli lemak  ini paling sering ditemukan pada daerah yang terdapat banyak pembuluh darah kecil, contohnya emboli lemak pada paru-paru dan emboli lemak pada otak.  Emboli lemak  cukup umum terjadi, lebih dari 90% pada pasien patah tulang panjang, tetapi tidak semua kasus emboli lemak mengarah pada sindrom emboli lemak. Sindroma emboli lemak  terjadi setelah patah pada tulang panjang, pelvis atau patah beberapa tulang. Akan tetapi, dapat juga ditemukan dalam kondisi non-trauma seperti artoplasti pinggul atau lutut, luka bakar, pankreatitis, sedot lemak dan transplantasi sumsum tulang.  Secara keseluruhan insiden emboli lemak pada pasien patah tulang panjang sekitar 0,9%. Semua pasien yang mengalami Sindroma emboli lemak  membutuhkan penanganan secara intensif. Sindroma emboli lemak  dianggap sebagai komplikasi trauma yang mematikan tetapi manajemen waktu dapat membantu memberikan hasil yang lebih baik. Pemasangan pelat pada tulang panjang setelah patah tulang yang signifikan dapat mencegah terjadi sindroma emboli lemak. Pada pasien patah tulang panjang, paska operasi harus dirawat dengan kewaspadaan yang ketat dan memperhatikan adanya tanda-tanda kekurangan oksigen atau perubahan sensorium kemudian meningkatkan kecurigaan Sindroma emboli lemak memerlukan penanganan ruang intensif dini.

Teori mekanik menjelaskan bahwa kekuatan mekanis dari luar seperti cedera traumatis atau operasi invasif menyebabkan Sindroma Emboli lemak dari sumsum tulang atau jaringan adiposa memasuki sirkulasi  vena. Sel-sel lemak ini mennjukkan sifat inflamasi dan trombotik yang dapat menghasilkan agregasi platelet dan terbentuknya fibrin saat beredar melalui vena. Kemudian dapat memasuki sistem pernafasan dan menumpuk pada tepi kapiler pulmonal paru-paru, menyebabkan gagal nafas dari pendarahan antar sel dan pembengkakan, penyempitan  alveolar paru, dan penyempitan pembuluh sekunder pada kekurangan oksigen. Gejala non-pulmonal, petekia, dan perubahan neurologis seperti pusing, diduga timbul dari sel lemak yang masuk pada sistem arterial. Teori biokemikal menduga bahwa hilangnya lemak dari sumsum tulang pada patah tulang  panjang melalui penghancuran lemak (lipolisis), membentuk gliserol dan racun asam lemak bebas, menyebabkan pembengkakan paru dan pendarahan. Ini menyebabkan distres sindrom pernapasan akut (ARDS “ acut respiratory distress syndrome), disfungsi kontraktilitas jantung dan meningkatnya plasma konsentrasi lipase dan juga dapat memicu disfungsi dan gagal multiorgan. Secara khusus, di paru-paru, asam lemak bebas langsung menyerang sel  endotelial pulmonal, menyebabkan pembengkakan alveolar dan kemungkinan pendarahan, berlanjut  terjadinya cidera paru akut (ALI), ARDS, dan gagal nafas.  

Wilson mengusulkan kriteria diagnostik untuk emboli lemak.

Diagnosis Sindroma Emboli lemak dapat dibantu dengan penggunaan pemeriksaan laboratorium dan radiologi seperti rontgen dada, Computerized Tomography Pulmonary Angiogram (CTPA) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).  Foto dada  menunjukkan infiltrasi yang tidak merata, penyumbatan paru, dan/atau perdarahan alveolar. Identifikasi lobulus lemak dalam urin atau sputum mendukung diagnosis.

Sindroma emboli lemak tidak ada pengobatan khusus, sangat penting untuk memberikan perawatan penunjang termasuk oksigenasi melalui kanula hidung, sungkup muka, atau ventilasi mekanis; penggunaan cairan intravena untuk menjaga volume vaskular; transfusi produk darah seperlunya; pemeliharaan nutrisi yang tepat; dan pencegahan trombosis vena dalam. Ketika Sindroma emboli lemak didiagnosis lebih awal dan perawatan suportif dimulai dengan cepat, angka kematian biasanya <10%.

Penulis: Dr Marjono Dwi Wibowo dr SpB (K)

Link artikel:

Baca juga: Phlegmon Dasar Mulut

AKSES CEPAT