UNAIR NEWS – Pada 2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi indonesia mencapai 5,4 persen – 5,6 persen. Sementara pada 2045 Indonesia diharapkan mampu mewujudkan visi Indonesia Emas. Namun, cita-cita besar ini tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu adanya partisipasi aktif seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda. Menanggapi hal tersebut, 51动漫 (UNAIR) bekerja sama dengan Bakti BCA menghadirkan Genera-Z Berbakti pada Jumat (17/4/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.
Dalam sambutannya, EVP Corporate Communication and Social Responsibility, Hera F. Haryn percaya bahwa pembangunan nasional berkelanjutan merupakan pondasi penting dalam menciptakan Indonesia yang lebih inklusif dan tangguh di masa depan. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga mencakup kesejahteraan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
淏akti BCA hadir sebagai mitra yang berupaya mendorong teman-teman muda Indonesia untuk berkontribusi nyata melalui proposal yang kalian kirimkan untuk melaksanakan program kuliah kerja nyata, pengabdian masyarakat, hingga inisiatif sosial lainnya di lokasi binaan Bakti BCA, ungkapnya.
Sharing Session
Hadir untuk berbagi cerita, Fellicia dan Dela sebagai pemenang Genera-Z Berbakti 2025. Menurut Feli, proses pengajuan hingga pengaplikasian program Genera-Z Berbakti menjadi momen yang sangat berkesan untuk dirinya sendiri maupun anggota timnya.
淲aktu persiapan yang singkat membuat saya dan anggota tim bisa membangun kemistri kuat. Selain itu, banyak manfaat yang saya terima dari program ini, bukan sekadar kita keluar dari zona nyaman. Namun, tentang bagaimana kita bisa menerima kekurangan diri kita sendiri dan melihat suatu masalah dari sudut pandang lain yang mungkin tidak terpikir oleh diri kita sendiri, ujarnya.
Strategi Membuat Proposal
Irwan Tamrin selaku Sustainable Tourism Researcher and Lecturer menyebut bahwa desa tidak boleh lagi menjadi penderita, desa harus menjadi subjek yang dapat membangun diri sendiri. Ia menambahkan ada tiga pilar utama melakukan perubahan di desa, yakni inovasi mahasiswa, potensi lokal, serta sinergi komunitas.
淛adi teman-teman sebagai agen perubahan melalui aksi nyata yang terukur, bukan sekadar membuat, tetapi harus berdampak. Hal ini dapat dilakukan dengan menggali potensi lokal dan menggabungkan kekuatan alam, budaya, serta ekonomi sirkular desa. Terakhir, teman-teman harus mencari cara yang bersinergi dengan komunitas dan mampu membangun ekosistem bersama warga lokal, paparnya.
Lebih lanjut, Irwan menekankan bahwa desa memiliki empat matriks isu kritis dan prioritas desa, yakni lingkungan, kesehatan, UMKM dan budaya, serta pendidikan. Ia juga memberikan tips penulisan proposal berdampak untuk mengikuti program Genera-Z Berbakti. 淎da lima tahapan, yakni merumuskan masalah berbasis data desa, memilih pendekatan riset dan eksekusi, merinci taktik dan alokasi anggaran objektif, mendesain strategi exit dan kemandirian warga, serta yang terakhir, memberikan bukti pendukung dengan format Harvard-APA, imbuhnya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Ragil Kukuh Imanto





