Analgesik merupakan golongan obat yang sangat banyak digunakan di dunia, mulai dari dibeli secara mandiri oleh pasien sebagai obat OTC (over the counter), hingga digunakan untuk perawatan pasca operasi. Di sisi lain analgesik yang digunakan memiliki beberapa efek samping misalnya mengiritasi lambung, bahkan dapat menyebabkan perdarahan di lambung. Untuk mengatasi hal tersebut, ahli di bidang farmasi berlomba lomba meminimialisir efek samping tersebut, baik melalukan berbagai inovasi di bidang drug delivery sistem, maupun mengembangkan senyawa analgesik baru.
Di sisi lain senyawa tiourea terbukti memiliki potensi sebagai analgesik yang lebih poten dibandingkan Na diklofenak, jenis analgesik yang umum digunakan. Modifikasi kimia suatu senyawa dapat memberikan perubahan, peningkatan atau penurunan aktivitas farmakologisnya. Oleh karena itu, Tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dr. Siswandono melakukan modifikasi struktur pada senyawa aliltiourea menjadi senyawa yang diharapkan memberikan efek analgesik yang lebih baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis 1-alil-3-(4-tersier-butilbenzoil)tiourea dan mengetahui aktivitas analgesiknya melalui pengujian pada hewan coba mencit (Mus musculus). Sintesis dilakukan dengan reaksi Schotten-Baumann, melalui reaksi substitusi nukleofilik alliltiourea dengan senyawa benzoil klorida tersubstitusi. Uji geliat dilakukan untuk mengamati aktivitas analgesik dalam senyawa uji. Keberhasilan reaksi sintesis dibuktikan melalui konfirmasi struktur senyawa berdasarkan data spektra UV, IR, 1H-NMR, dan 13C-NMR. Hasil uji aktivitas penghambatan nyeri menunjukkan senyawa turunan aliltiourea ini memiliki aktivitas analgesik yang lebih baik daripada natrium diklofenak.
Penulis: Dr. Juni Ekowati, Dra., M.Si., Apt Untuk melihat lebih detail mengenai penelitian tersebut dapat diakses pada





