51动漫

51动漫 Official Website

Sistem Kesantunan Komunikasi Masyarakat Etnik Tionghoa di Wilayah Budaya Jawa

Foto oleh artikelusaha.net

Etnik Tionghoa di Wilayah Budaya Jawa (WBJ) merupakan etnik minoritas. Di wilayah ini mereka telah hidup di tengah-tengah pusaran budaya Jawa yang sangat kuat. Meskipun sebagian dari mereka bisa menggunakan bahasa Mandarin, namun dalam komunikasi sehari-hari mereka lebih cenderung menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia sebagaimana etnik Jawa. Yang menarik adalah mereka cenderung menerapkan sistem kesantunan komunikasi yang berbeda dengan etnik Jawa betapapun mereka menggunakann bahasa yang sama. Tampaknya perbedaan ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dimaksudkan untuk menjaga identitas diri mereka sebagai sebuah etnik, yang berbeda dengan etnik Jawa.

Hasil Penelitian

Penelitian ini mengkaji sistem kesantunan komunikasi masyarakat etnik Tionghoa di wilayah budaya Jawa. Tujuannya adalah menjelaskan konteks penggunaan strategi involvement dan independence dalam masyarakat etnik Tionghoa di WBJ dan bagaimana implikasinya terhadap sistem kesantunan yang dipraktikkan dalam komunikasi sehari-hari. Penelitian ini menggunakan teori Scollon & Scollon (2001) dengan sedikit modifikasi. Kedua pakar ini berpandangan bahwa berdasarkan perbedaan power  dan social distance  di antara partisipan komunikasi, kita dapat membedakan tiga macam sistem kesantunan, yaitu the deference politeness system, the solidarity politeness system, dan the hierarchical politeness system. Deference politeness system merupakan sistem kesantunan di mana penutur (O1) dan mitra tutur (O2) memiliki relasi yang berjarak (+D) dan mereka memandang diri mereka memiliki power yang sedrajad (=P). Solidarity politeness system merupakan sistem kesantunan di mana O1 dan O2 memiliki relasi yang akrab (-D) dan disamping itu mereka memandang diri mereka sederajad (=P). Hierarchical politeness system merupakan sistem kesantunan di mana O1 dan O2 memiliki power yang tidak sederajad (-P atau +P) sementara social distance dianggap tidak penting. Analisis data dalam penelitian ini didasarkan pada teori ini.  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam masyarakat etnik Tionghoa di WBJ, strategi involvement cenderung diwujudkan dengan bahasa Jawa ngoko, sedangkan strategi independence diwujudkan dengan bahasa Indonesia. Dalam praktik komunikasi sehari-hari, strategi involvement digunakan manakala hubungan O1 dan O2 mengdung ciri (-D). Apabila mengandung ciri (+D) penggunaan strategi involvement cenderung dihindari karena dinilai tidak santun. Sementara itu, ciri (+P) atau (-P) cenderung kurang diperhatikan karena dinilai tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan strategi involvement. Dengan demikian, pemakaian strategi involvement bisa terjadi dalam konteks (-P-D) atau (+P-D), tetapi cenderung tidak bisa terjadi dalam konteks (-P+D) atau (+P+D). Pemakaian strategi involvement (oleh O1 dan O2) dalam konteks (-P-D) tidak ada masalah jika dilihat dari sistem kesantunan Scollon and Scollon (2001) karena komunikasi yang berlangsung dalam konteks (-P-D) mencerminkan solidarity politeness system. Akan tetapi, pemakaian strategi involvement (oleh O1 dan O2) dalam konteks (+P-D) mengandung masalah karena konteks seperti itu mencerminkan hierarchical politeness system menurut-teori Scollon and Scollon, sedangkan faktanya O1 dan O2 dalam masyarakat etnik Tionghoa di WBJ saling menggunakan strategi involvement sehingga komunikasi cenderung berlangsung dalam solidarity politeness system.

Strategi independence wajib digunakan manakala hubungan O1 dan O2 mengandung ciri (+D). Sementara itu, ciri (+P) atau (-P) cenderung kurang diperhatikan karena dinilai tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan strategi independence. Dengan demikian, strategi independence wajib dipakai dalam konteks (-P+D) atau (+P+D). Pemakaian strategi independence (oleh O1 dan O2) dalam konteks (-P+D) tidak ada masalah jika dilihat dari sistem kesantunan Scollon and Scollon (2001) karena komunikasi yang berlangsung dalam konteks seperti itu mencerminkan deference politeness system. Akan tetapi, pemakaian strategi independence (oleh O1 dan O2) dalam konteks (+P+D) bermasalah karena konteks seperti itu mencerminkan hierarchical politeness system menurut-teori Scollon and Scollon. Akan tetapi, faktanya O1 dan O2 dalam masyarakat etnik Tionghoa di WBJ saling menggunakan strategi independence sehingga komunikasi cenderung berlangsung dalam deference politeness system.

Simpulan

Dalam komunikasi sehari-hari etnik Tionghoa di wilayah budaya Jawa cenderung hanya menerapkan deference dan solidarity politeness system. Sementara hierachical politeness system hampir tidak pernah dipraktikkan dalam komunikasi sehari-hari. Hal ini berbeda degan etnik Jawa yang cenderung menerapkan semua sistem kesantunan, baik deference, solidarity maupun hierarchical politeness system. Bahkan hierarchical politeness system, yang tidak diterapkan oleh etnik Tionghoa, dianggap sangat penting oleh etnik Jawa. Oleh karena itu, diduga ketika kedua kelompok etnik tersebut saling berinteraksi dalam konteks tertentu sangat mungkin terjadi friksi kesantunan apabila kedua kelompok etnik tersebut tidak saling menyadari perbedaan sistem kesantunan tersebut.

Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Authors: Edy Jauhari, Dwi Purnanto

Source  : Kasetsart Journal of Social Sciences, Tahun 2022, Volume 43, No 1 pp 60-66

Doi       :

AKSES CEPAT