Di tengah munculnya pandemi COVID-19, pos pelayanan terpadu yang penting bagi perempuan dan anak di tingkat komunitas di Indonesia mengalami gangguan. Perubahan ini mengakibatkan pergeseran dalam pengawasan kesehatan ibu dan anak (KIA). Penelitian bertujuan untuk mengkaji pelajaran dari praktik pengawasan KIA berbasis komunitas di Indonesia di tengah tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19. Penelitian dilakukan di Depok, Jawa Barat, sebuah daerah perkotaan di Indonesia.
Sebanyak 20 informan kunci dari unsur masyarakat dan pejabat pemerintah diwawancarai antara Oktober dan Desember 2022. Data dianalisis melalui analisis konten. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah munculnya COVID-19 menyebabkan peningkatan pengawasan KIA berbasis komunitas karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melindungi masyarakat. Para informan, meskipun semuanya mengakui pentingnya pengawasan KIA, menunjukkan beragam perspektif, menyoroti kesenjangan dalam persepsi. Empat kendala diidentifikasi, termasuk tantangan dalam merekrut petugas kesehatan komunitas (kader), masalah administratif, ketidaksetaraan sosial ekonomi dalam kelompok keluarga, dan stigma sosial. Merekrut kader untuk pengawasan kesehatan ibu dan anak (KIA) bukanlah tugas yang mudah karena sifat pekerjaan yang sukarela. Persyaratan untuk mendedikasikan waktu untuk pelaporan, pemantauan, pelatihan, dan pertemuan rutin dengan pusat kesehatan serta insentif yang rendah bagi kader menyebabkan anggota masyarakat ragu untuk bergabung karena komitmen yang tinggi. Masalah administratif sering menghambat pengumpulan data KIA, seperti kasus di mana penduduk dengan tempat tinggal sementara (menyewa) tidak memiliki kartu identitas lokal (Kartu Tanda Penduduk disingkat KTP) tetapi memiliki KTP domisili asli dari daerah lain, sehingga pendaftaran dan pemantauan mereka sering tidak dilaporkan. Beberapa kasus baru terungkap ketika, misalnya, ibu hamil mengalami masalah kesehatan yang parah atau ketika mereka telah meninggal dunia. Selain itu, kader kesehatan komunitas (kader) menghadapi tantangan dalam mengumpulkan data kesehatan ibu dan anak (KIA) di lingkungan yang makmur, karena jenis penduduk ini seringkali lebih menyukai fasilitas perawatan kesehatan dan tidak menerima kader, dengan menganggap kader hanya cocok untuk memantau kesehatan penduduk yang kurang mampu secara sosioekonomi. Terakhir, banyak ibu dengan anak merasa malu atau enggan untuk melaporkan jika anak mereka teridentifikasi mengalami stunting, sehingga mengakibatkan kurangnya pelaporan. Lebih lanjut, wanita hamil yang belum menikah seringkali lolos dari pemantauan karena stigma sosial dan para ibu juga menerima stigma dari kader jika pertumbuhan anak mereka tidak memenuhi harapan dan standar.Empat strategi dalam pengawasan kesehatan ibu dan anak berbasis komunitas, termasuk pemanfaatan teknologi digital, kunjungan dari rumah ke rumah, komunikasi lisan untuk mengidentifikasi kasus kesehatan ibu dan anak, dan pertemuan komunitas, berdampak positif pada pelaporan dan respons. Namun, penggabungan teknologi menimbulkan tantangan, seperti tingkat keterampilan yang beragam di antara kader dan kebiasaan umum untuk menghasilkan salinan cetak setelah memasukkan data. Pengawasan kesehatan ibu dan anak berbasis komunitas selama COVID-19 di Indonesia, melalui alat digital, kunjungan dari rumah ke rumah, dan komunikasi lisan, terbukti efektif dalam menjangkau populasi yang kurang terlayani dan meningkatkan pelaporan tepat waktu, sebagian besar karena peran terpercaya dari petugas kesehatan komunitas. Meskipun praktik-praktik tersebut berdampak positif, temuan ini menyoroti perlunya mitigasi tantangan dalam pelaporan data. Dua pendekatan dapat mencakup standardisasi praktik pelaporan dengan menggunakan aplikasi pengawasan kesehatan ibu dan anak tunggal yang dapat diakses oleh kader dan program pelatihan untuk menjembatani kesenjangan kemampuan dalam teknologi digital. Studi ini menyoroti bahwa meskipun petugas kesehatan masyarakat berperan penting dalam pengawasan kesehatan ibu dan anak, tantangan seperti keterbatasan teknologi, partisipasi masyarakat yang tidak merata, dan ketergantungan pada metode pelaporan yang sudah ketinggalan zaman berdampak pada akurasi dan cakupan data.
Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas petugas kesehatan masyarakat melalui pelatihan digital, mengintegrasikan sistem pelaporan seluler, dan mengamankan dukungan kebijakan dan penelitian merupakan tindakan penting untuk meningkatkan ketahanan dan skalabilitas pengawasan kesehatan ibu dan anak berbasis masyarakat agar dapat memberikan dampak global yang baik.
Penulis: Wahyu Septiono, Ferdinand Pangihutan Siagian, Lutfan Lazuardi, Samsriyaningsih Handayani, Sabarinah Prasetyo
Link artikel:





