Penelitian terbaru mengenai anatomi lutut menunjukkan bahwa wanita memang memiliki struktur patellofemoral yang berbeda dari pria, dan perbedaan ini menjelaskan mengapa ketidakstabilan tempurung lutut lebih sering terjadi pada populasi wanita. Dalam studi yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, para peneliti menganalisis 86 hasil MRI lutut”45 pria dan 41 wanita”untuk mengidentifikasi perbedaan bentuk trochlea, posisi patella, lateralitas tibial tuberosity, dan ukuran tempurung lutut. Hasil analisis menunjukkan bahwa wanita memiliki lekukan trochlea yang lebih dangkal dan facet asymmetry yang lebih kecil, sebagaimana terlihat pada nilai trochlear depth dan facet asymmetry yang berbeda signifikan antara kedua kelompok. Trochlea yang lebih dangkal membuat pergerakan patella menjadi kurang stabil, karena tempurung lutut tidak duduk cukup dalam pada alurnya. Ketika lekukan ini tidak cukup dalam, patella menjadi mudah bergerak keluar jalur, terutama saat lutut menekuk atau mengalami rotasi tiba-tiba. Hal ini dapat menjelaskan tingginya angka dislokasi patella pada wanita, terutama dalam aktivitas yang membutuhkan perubahan arah cepat atau beban mendadak pada lutut.
Selain perbedaan pada struktur trochlea, penelitian ini juga menemukan perbedaan signifikan pada posisi patella. Pada wanita, patella cenderung berada lebih tinggi (patella alta) serta lebih bergeser ke arah lateral, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai Insall-Salvati Index, Caton-Deschamps Index, dan Bisect Offset Index yang lebih tinggi. Patella yang lebih tinggi memiliki kontak lebih sedikit dengan trochlea, sehingga stabilitasnya berkurang. Ketika posisi awal patella sudah kurang stabil, risiko pergeseran, maltracking, atau dislokasi saat aktivitas fisik menjadi lebih tinggi. Kondisi ini sudah cukup dikenal sebagai salah satu penyebab utama nyeri di bagian depan lutut, terutama pada wanita yang aktif bergerak. Fakta bahwa posisi patella wanita lebih lateral juga menambah beban pada sisi luar lutut, sehingga meningkatkan risiko cedera.
Di sisi lain, ukuran patella pada wanita juga ditemukan lebih kecil di seluruh parameter”panjang craniocaudal, lebar transversal, diameter anteroposterior, keliling, dan luas permukaan. Tempurung lutut yang lebih kecil berarti bidang kontak antara patella dan femur menjadi lebih terbatas. Akibatnya, gaya tekan yang diterima lutut saat berlari, naik tangga, atau berolahraga menjadi lebih terkonsentrasi di area tertentu, sehingga membuat sendi lebih mudah mengalami peradangan atau iritasi. Kombinasi antara ukuran patella yang kecil, posisi yang tinggi, dan trochlea yang dangkal menciptakan kondisi biomekanik yang kurang stabil.
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa lateralitas tuberositas tibia”yang sering dikaitkan dengan ketidakstabilan”tidak lebih besar pada wanita. Artinya, ketidakstabilan patella pada wanita bukan berasal dari kelainan lokasi tendon patella di tulang tibia, melainkan dari faktor-faktor lain seperti bentuk trochlea dan posisi patella. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa perbedaan anatomi antara pria dan wanita merupakan faktor utama penyebab tingginya angka instabilitas patellofemoral pada wanita. Pemahaman ini sangat penting karena dapat membantu dokter menentukan strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih tepat, misalnya dengan fokus pada latihan penguatan otot quadriceps dan gluteus, peningkatan kontrol gerak lutut, serta penyesuaian teknik olahraga. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa struktur lutut wanita bersifat unik dan memerlukan perhatian khusus, baik dalam diagnosis maupun penanganan klinis sehari-hari.
Penulis : Florensius Ginting, Dwikora Novembri Utomo, Rosy Setiawati
Judul Artikel : Comparative Analysis of Patellofemoral Anthropometry by Gender Using Magnetic Resonance Imaging
Jurnal : Edelweiss Applied Science and Technology
Tautan : https://learning-gate.com/index.php/2576-8484/article/view/3110





