Jumlah penderita hipertensi di Kabupaten Gianyar cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hipertensi menduduki urutan pertama diantara urutan kesepuluh dari penyakit terbanyak, dengan 23% kasus menurut skala prioritas. Pengobatan dan penatalaksanaan hipertensi meliputi pencegahan, diagnosis dini, diagnosis dengan terapi, dan skrining untuk mendeteksi dini penyakit hipertensi. Simptom atau gejala pada hipertensi adalah adanya keluhan pusing, sakit kepala, atau kombinasinya. Berdasarkan standar World Health Organization tahun 2018, seseorang dikatakan hipertensi jika sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dan dilakukan di Puskesmas di Kabupaten Gianyar Bali Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas alat skrining dalam rangka mendukung program pencegahan dan pengobatan tekanan darah tinggi.
Skrining hipertensi dilakukan pada orang berusia >40 tahun yang datang ke Puskesmas pada bulan September 2021. Skrining ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan untuk menegakkan diagnosis penyakit hipertensi dengan cara menggunakan tensimeter digital sebagai standar emas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 86% dari 255 responden didiagnosis menderita hipertensi, yaitu 40% berusia >65 tahun, 75% berjenis kelamin perempuan, dan 31% bekerja sebagai ibu rumah tangga. Alat skrining yang digunakan memiliki nilai sensitivitas 99%, nilai spesifisitas 73% dengan Positive Predictive Value (PPV), dan masing-masing nilai Negative Predictive Value (NPV) masing-masing adalah 96% dan 89%. Kuesioner tentang sakit kepala mengandung nilai sensitivitas 90%, spesifisitas 100%, dengan nilai PPV 100% dan nilai NPV 61%. Kombinasi gejala pusing dan sakit kepala memiliki nilai sensitivitas 76%, dan nilai spesifisitas 82%, dengan PPV 96% dan NPV 36%. Gejala klinis dianggap sebagai diagnosis dini hipertensi. Jika orang yang mengalami keluhan pusing, sakit kepala, atau kombinasi keduanya sebaiknya segera memeriksakan tekanan darahnya sedini mungkin.
Secara umum, implementasi skrining dengan menggunakan symptom atau gejala memiliki hasil yang cukup baik untuk memisahkan penderita hipertensi dari individu yang sehat sehingga tujuan penatalaksanaan hipertensi sejak dini dapat segera dilakukan. Dengan demikian upaya pencegahan terjadinya komplikasi terhadap munculnya penyakit lain seperti penyakit jantung koroner, gagal ginjal, angina pektoris , jantung kongestif, stroke, bahkan kematian mendadak dapat dioptimalkan. Berdasarkan hasil perhitungan validitas alat, nilai sensitivitas dan spesifisitas gejala klinis tunggal yang paling baik dalam penapisan kasus hipertensi adalah pusing dan sakit kepala. Pusing memiliki sensitivitas nilai 99% dan nilai spesifisitas 73%, dengan PPV dan NPV 96% dan 89%. Sakit kepala memiliki nilai sensitivitas 90% dan spesifisitas 100%, dengan PPV 100% dan NPV 61%.28 Gejala umum yang berhubungan dengan hipertensi seperti yang dikemukakan Edward pada tahun 1995 seperti sakit kepala, kelelahan, dan epistaksis, tidak dominan memberikan kontribusi terhadap gejala yang tepat. hipertensi, hal ini berkaitan dengan lokasi dan gaya hidup masyarakat tempat dilakukannya skrining.
Tujuan skrining adalah untuk menemukan kasus secara dini dan memberikan terapi yang adekuat. Jika skrining digunakan untuk menemukan kasus agar mendapat pengobatan dan pengobatan, maka tes dengan nilai sensitivitas tinggi lebih tepat digunakan tanpa memperhatikan nilai spesifisitas test kit. Hasil skrining ini mirip dengan penelitian Long tahun 2019 yang menemukan bahwa hipertensi tingkat pertama tidak bergejala; jika ada gejala klinis awal, pasien umumnya merasakan sakit kepala yang sering muncul . Kesimpulannya adalah alat skrining ini punya validitas tinggi yang dapat digunakan sebagai alat skrining hipertensi. Diharapkan alat skrining perlu lebih banyak diujicobakan pada penderita hipertensi di masyarakat luas.
Penulis: Sri Widati, I Nyoman Purnawan, Chatarina, Umbul Wahyuni. Journal of Publich Health in Africa 2023, Vol 14 (s2): 2550
Artikel lengkap di





