51动漫

51动漫 Official Website

Soal Potensi AI Gantikan Pendidik, Pakar Sosiologi Pendidikan Angkat Suara

Bill Gates prediksi AI mampu gantikan peran guru dan dosen sepuluh tahun kedepan (Foto: Istimewa)
Bill Gates prediksi AI mampu gantikan peran guru dan dosen sepuluh tahun kedepan (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kecerdasan Buatan (AI) semakin berkembang dari tahun ke tahun. Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan, AI dinilai mampu menggantikan peran tenaga pendidik, guru, termasuk dosen. Hal ini seiring dengan semakin mudahnya masyarakat dalam mengakses berbagai informasi termasuk ilmu pengetahuan melalui AI.

Menanggapi isu tersebut, Guru Besar Sosiologi Pendidikan, 51动漫 (UNAIR), Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi turut bersuara. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi semacam AI adalah keniscayaan.

淜ita tidak bisa menghindar dari perkembangan teknologi dan informasi, tidak mungkin tidak menerima hal itu. Kita coba merangkul atau mengenal lebih dekat, dan sekaligus melihat kemungkinan untuk ikut mengembangkan dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Akan tetapi tidak meninggalkan jati diri kita sebagai manusia, jelasnya.

Alat Bantu

Berkaitan dengan konteks pendidikan saat ini, kita sebagai manusia yang memiliki kecerdasan sudah seharusnya mampu memanfaatkan AI sebatas sebagai alat. 淪aya rasa kalau kita khawatir itu menggantikan peran kita sebagai guru dan dosen, menurut saya terlalu naif. Artinya kita sebagai manusia, kalau semua bergantung pada robot atau AI, maka jati diri kita akan hilang, ungkapnya. 

Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi saat memberikan orasi ilmiah pada pengukuhan Guru besar (Foto: PKIP UNAIR)
Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi saat memberikan orasi ilmiah pada pengukuhan Guru besar (Foto: PKIP UNAIR)

Dengan segala kecanggihan yang ada pada AI saat ini, Prof Tuti menyebutkan bahwa AI tetap merupakan alat bantu. Manusia harus mampu mengontrol dan menggunakannya dengan bijaksana. 淎I dapat membantu menjadi semacam guidance. Kita yang kemudian mengembangkan menjadi suatu hal yang lebih berbobot atau lebih ada jiwanya, tuturnya. 

Kompetensi Pendidik

Ketika AI terus berkembag tanpa henti, Prof Tuti turut mengungkapkan bahwa sebagai pengajar atau pendidik, sudah seharusnya juga terus belajar. 淣amanya manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk segala hal. Saya rasa kita sebagai manusia harus terus berkembang, bukannya diam karena pakai AI. Harus terus mengembangkan diri dan belajar mencari dari berbagai sumber dan berinteraksi dengan banyak orang, ungkap Dosen FISIP itu. 

Dengan manusia terus meningkatkan pengalamannya, maka manusia akan semakin terasah kemampuan berpikirnya. 淎pakah itu akan disamai oleh AI, saya rasa tidak. Jadi yang perlu dimiliki adalah rasa curiosity untuk terus belajar dan mencari, sebutnya.

Ia meyakini, dengan pengalaman yang dimiliki oleh para pendidik saat ini, mampu menjadi filter atas berbagai akses informasi yang tertuju kepada mahasiswa atau murid. 淜ita sama-sama belajar. Kami yang lebih senior punya pengalaman. Teman-teman yang masih muda punya pengetahuan lebih. Itu kita kolaborasikan, ucapnya. 

Meski menjadi tantangan, ia berharap pendidik atau pengajar tetap harus terus meningkatkan kualitas dan tidak terlalu bergantung pada kecerdasan buatan. 淚tu jadi tantangan ya buat kita, artinya kita tidak bisa diam. Tidak bisa diam di sini kita harus terus berkembang juga, mau bagaimanapun juga jangan sampai kita yang bergantung dengan AI. Karena sesuatu yang kita kerjakan kalau tidak ada sisi kemanusiannya, maka tidak akan berbobot, pungkasnya.

Penulis: Mohammad Adif Albarado

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT