Infeksi saluran pernapasan bawah atau sering juga disebut dengan Lower Respiratory Tract Infections (LR-TIs) merupakan penyakit infeksi yang sering ditemukan pada manusia dan menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di dunia. LR-TIs terdiri dari community-acquired pneumonia (CAP), influenza, bronkitis akut, acute exacerbation of chronic bronchitis (AECB), bronkiolitis, trakeitis, dan acute exacerbation bronchiectasis. Kondisi akut pada LR-TIs disebabkan adanya infeksi bakteri sehingga membutuhkan antibiotik sebagai terapi pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi patogen penyebab LR-TIs pada pasien, sensitivitas antibiotik terhadap patogen, serta ketepatan pemberian antibiotik oral yang terdiri dari Cefditoren, Azithromycin, Amoxicillin-Clavulanic Acid, dan Cefixime untuk menghambat infeksi.
Bakteri penyebab LR-TIs ditemukan berbeda di setiap waktu dan tempat. Penelitian ini menemukan bahwa bakteri penyebab LR-TIs didominasi oleh bakteri gram negatif. Penelitian ini menemukan bahwa K.pneumonia merupakan bakteri dengan persentase tertinggi sebagai penyebab LR-TIs (21,73%). K.pneumonia dapat menyebabkan terjadinya CAP. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan, ditemukan bahwa semua antibiotik baik Ceftriaxone, Ceftazidime, Ampicillin-Sulbactam, Meropenem, Gentamycin, Cotrimoxazole, maupun Ciprofloxacin berpotensi dalam membunuh K.pneumonia.
S.aureus merupakan bakteri dengan urutan kedua tertinggi sebagai penyebab LR-TIs dengan persentase sebesar 18%. Berdasarkan identifikasi dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa bakteri S.aureus dapat menyebabkan terjadinya CAP. Gentamycin, Cotrimoxazole, Quinolones, dan Macrolides merupakan golongan antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri S.aureus.
P.aeruginosa ditemukan sebagai bakteri penyebab LR-TIs tertinggi ketiga setelah S.aureus dengan persentase sebesar 11,59%. P.aeruginosa sebagian besar ditemukan pada pasien yang membutuhkan perawatan ICU, mengalami infeksi nosokomial, dan fibrosis kistik. Sebagai upaya mengeliminasipertumbuhan P.aeruginosa, penelitian ini menemukan bahwa penggunaan antibiotik Ceftazidime, Meropenem, dan Gentamycin merupakan langkah yang efektif.
A.baumanii complex merupakan bakteri keempat penyebab LR-TIs tertinggi pada penelitian ini (6,55%). A.baumanii complex sering ditemukan sebagai penyebab infeksi nosokomial yang menyerang paru-paru saat pasien berada di ICU. Bakteri ini dapat mengembangkan resistensi antimikroba terhadap hampir semua antibiotik. Penelitian ini menunjukkan bahwa Ceftazidime, Ampicillin-Sulbactam, Meropenem, Gentamycin, Cotrimoxazole dan Ciprofloxacin berpotensi dalam mengatasi infeksi bakteri A.baumanii complex.
S.pneumonia memiliki persentase sangat kecil sebagai penyebab LR-TIs pada penelitian ini (4,34%). S.pneumonia ditemukan sebagai bakteri penyebab CAP. Meski penelitian terdahulu menyebutkan bahwa S.pneumonia resisten terhadap penicillin, penelitian ini menunjukkan bahwa S.pneumonia tidak menunjukkan resisten terhadap penicillin dan dapat dieliminasi secara efektif dengan pemberian Levofloxacin atau Macrolide pada pasien.
Kesesuaian pemberian antibiotik terhadap LR-TIs dapat berdampak pada efektivitas biaya karena dapat memaksimalkan perbaikan klinis dan meminimalkan toksisitas obat serta pengembangan resistensi antimikroba. Sebagai antibiotik oral yang tergolong baru di Indonesia, Cefditoren dapat melawan infeksi dari bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif. Cefditoren menunjukkan efektivitas lebih tinggi dalam melawan S.pneumonia dengan MIC lebih rendah jika dibandingkan dengan antibiotik lain seperti Azithromycin, Amoxicillin-Clavulanic Acid, dan Cefixime.
Penelitian ini menjelaskan lebih detail mengenai jenis bakteri penyebab berbagai infeksi saluran pernapasan bawah beserta efektivitas antibiotik dalam eliminasi pertumbuhan bakteri. Selain itu penelitian ini juga membandingkan beberapa penggunaan antibiotik oral sebagai terapi pada pasien LR-TIs.
Penulis: Alfian Nur Rosyid
Informasi lebih lanjut dapat diakses pada:
Rosyid, et al. 2022. The Spectrum of Cefditorenfor Lower Respiratory Tract Infections (LRTIs) in Surabaya. Current Drug Therapy, 17(1), pp. 30-38





