51动漫

51动漫 Official Website

Status-Quo dan Inovasi: BUM Desa Saat Pandemik Covid-19

IL by Pengadaan

Kebijakan pembatasaan aktivitas dan mobilitas warga (PSBB dan PPKM) dari perspektif kesehatan terbukti ampuh menghambat laju penyebaran dan kematian akibat virus SARS-CoV-2 di Jawa Timur, namun pada saat yang sama berdampak perlambatan ekonomi. Krisis mengakibatkan terancamnya kelangsungan hidup perusahaan dan industri di perkotaan dan pedesaan Jawa Timur. Tidak terkecuali Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), sebagai lembaga ekonomi dan sosial desa yang selama ini berkontribusi menggerakan roda ekonomi desa dan membantu penurunan jumlah penduduk miskin, harus melambatkan kegiatan bisnisnya bahkan ada yang terpaksa berhenti. Data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi tahun 2021, total ada 57.273 BUM Desa dengan perincian 45.233 aktif dan sisanya 12.040 tidak aktif. Dari jumlah BUM Desa yang aktif, ada 15.768 (atau 35%) yang terdampak krisis pandemi Covid-19 sehingga harus merumahkan 123.176 tenaga kerjanya (Waseso, 2021). Angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2020 yang mencapai 10.026 BUM Desa (Kementerian PDTT, 2020).

Salah satu fokus sorotan dari kajian managemen krisis perusahaan (organisasi) kontemporer adalah mengungkap pilihan respon strategis perusahaan saat krisis pandemi Covid-19. Analisa ini berguna untuk menakar, tidak hanya kondisi faktual ketahanan dan adaptasi organiasai terhadap krisis, tetapi juga strategi pemulihan pasca krisis. Studi pustaka Wenzel, Stanske, & Lieberman (2020) mengungkap empat pilihan respon strategis perusahaan yang tidak mutually exclusive, yaitu: berhemat (retrenchment), bertahan (persevering), berinovasi (innovating), dan berhenti (exit).

Survey Kraus, et al., 2020 terhadap perusahaan swasta milik keluarga (family-own enterprises) di lima negara Eropa (Austria, Jerman, Itali, Liechtenstein dan Swiss) menyimpulkan penggunaan tiga strategi utama (berhemat, bertahan, dan berinovasi) dipilih untuk beradaptasi dengan krisis pada jangka waktu yang pendek. Sementara, opsi respon strategis jangka pendek-menengah, yaitu: berhemat, bertahan, dan berhenti diambil oleh perusahaan operator pariwisata di Vietnam (Do, et al, 2022). Di aras lain, respon strategis berbeda diambil oleh perusahaan negara (state-owned enterprises) yang diuntungkan dengan dukungan sumberdaya pemerintah. Mereka memilih tetap gigih bertahan karena garansi dukugan modal dari pemerintah dengan kombinasi pilihan berhemat dan berinovasi (Malik & Purwanto, 2020; Kementerian Keuangan RI, 2020).

Kajian empiris yang berfokus pada respon strategis BUM Desa menghadapi krisis Covid-19 tidak seberlimpah perusahaan swasta ataupun perusahaan negara. Studi Rosyadi, et al., 2021 misalnya hanya menyarankan BUM Desa melakukan inovasi (berorientasi sosial) saat krisis pandemik tanpa penilaian respon strategis. Hal yang sama ditulis Suartana, et al., 2020 yang menggunakan kerangka analisa ketahanan perusahan menyimpulkan pentingnya akuntabilitas BUM Desa pada saat krisis.

Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan mengapa BUM Desa di Jawa Timur memilih respon strategis tertentu saat menghadapi krisis pandemik Covid-19 berdasarkan parameter tata kelola perusahaan, tata kelola pemerintah desa, dan keterlibatan masyarakat desa? Ada tiga signifikansi penelitian ini, yakni: mengetahui respon strategis BUM Desa dalam mengahadapi krisis pandemik Covid-19, mengisi celah kajian respon strategis BUM Desa menghadapi krisis, dan memberikan asupan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pemulihan BUM Desa pasca krisis Covid-19.

Dengan menggunakan kerangka kerja Wenzel, et al., 2020, penelitian ini mengerucut pada empat simpulan: Pertama, perlambatan ekonomi akibat dari krisis pandemik Covid-19 menjalar ke wilayah pedesaan di Jawa Timur yang menjadi sentrum aktivitas bisnis BUM Desa. Sungguhpun demikian, tidak semua BUM Desa di wilayah penelitian mengalami kelumpuhan usaha akibat dari krisis pandemik. BUM Desa yang memiliki ketahanan dan kemampuan adaptasi tinggi dapat bertahan bahkan pulih lebih cepat.

Kedua, perusahaan yang bergerak pada sektor dan industri/produk tertentu memilih satu opsi (atau kombinasi yang terbatas) respon strategis sedangkan BUM Desa yang memiliki unit usaha beragam dan berbagai sektor harus menyesuaikan respon strategis sesuai dengan dampat krisis. Artinya, semakin sedikit unit usaha maka pilihan respon strategisnya semakin mengerucut.

Ketiga, berbeda dengan hasil penelitian-penelitian respon strategis perusahaan keluarga dan perusahaan negara dalam menghadapi krisis, respon strategis pertama yang dipilih oleh BUM Desa secara berurutan lebih condong: bertahan, berhemat, dan berinovasi ketimbang menghentikan kegiatan bisnisnya.

Keempat, pilihan respon strategis BUM Desa ditentukan oleh kalkulasi atas tiga aspek ketahanan, yaitu: organisasi BUM Desa, pemerintah desa, dan keterlibatan masyarakat. BUM Desa dalam kategori maju memiliki ketahanan cukup tinggi pada ketiga aspek tersebut sehingga pilihan yang paling rasional adalah mempertahankan aktivitas bisnisnya sembari melakukan inovasi maupun penghematan. Bagi BUM Desa kategori berkembang dan pemula, pilihan utama mereka berturut-turut adalah berinovasi, berhemat, dan berhenti. Pilihan berinovasi dan berhemat adalah pilihan yang moderat dengan tingkat keberhasilan yang tidak terlalu besar karena rendahnya dukungan dari ketiga aspek. Sementara pilihan kombinasi bertahan lebih didasarkan alasan amanat regulasi UU No. 6/2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah No. 11/2021 tentang BUM Desa.

Penulis: Ucu Martanto, SIP., MA.

Judul Artikel   : Status-Quo dan Inovasi: Respon Strategis Badan Usaha Milik DESA  Menghadapi Krisis Pandemik Covid-19

Link Artikel    :

AKSES CEPAT