Lesi ulseratif mulut (OUL) adalah lesi paling umum pada mukosa mulut. Kondisi ini dapat timbul dari berbagai faktor lokal atau sistemik, seperti trauma, penyakit yang diperantarai kekebalan tubuh, infeksi, dan neoplasma. Adanya nyeri pada OUL mengganggu homeostasis sistem stomatognatik, yang menyebabkan penurunan kualitas kesehatan mulut. hidup (OH-QoL). Penatalaksanaan OUL wajib dilakukan untuk membatasi dampaknya yang melemahkan, terutama pada kasus OUL yang kompleks (yaitu ulserasi kronis pada pasien diabetes melitus, populasi geriatri, dan penyakit pembuluh darah). Seringkali, kasus-kasus seperti ini tidak dapat diatasi dengan terapi konvensional. Perawatan baru diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Defek arsitektur epitel yang mencapai lamina propria merupakan karakteristik lesi ulseratif. Mendorong pemulihan total jaringan yang hilang sangat penting dalam penatalaksanaan OUL. Terapi regeneratif adalah paradigma baru yang menjanjikan untuk mengatasi masalah ini karena tujuan terapeutiknya adalah mengganti jaringan yang rusak. Salah satu cara terapi regeneratif yang paling menonjol adalah terapi sel induk mesenkim (MSCs).
MSC adalah sel induk multipoten non-hematopoietik yang dapat diisolasi dari berbagai jaringan dewasa dan perinatal. Kemampuan regeneratif MSC dipengaruhi oleh kemampuan MSC untuk berdiferensiasi menjadi sel dewasa dan menggantikan sel inang yang rusak. Kemampuan MSC untuk menginduksi regenerasi juga dimediasi oleh kemampuannya untuk mensekresi sejumlah besar faktor trofik yang bertanggung jawab untuk regenerasi jaringan. dan perbaikan yang bekerja dengan cara parakrin. Kumpulan faktor trofik yang disekresi ini disebut MSCs sekretome (MSC-S). MSC-S dapat menginduksi aktivitas regeneratif seluler dan molekuler sel di dekatnya melalui mekanisme parakrin. Artikel ini mencoba meninjau pengetahuan relevan terkini tentang penerapan MSC-S dalam pengelolaan regeneratif OUL.
Prosedur
Langkah pertama untuk memperoleh MSC-S adalah mengisolasi MSC dari berbagai jaringan dewasa, seperti sumsum tulang, jaringan adiposa, pulpa gigi atau lainnya. Jaringan donor kemudian diolah menjadi kultur sel. Karakterisasi MSC-S sangat penting untuk menentukan manfaat terapeutiknya. Molekul bioaktif protein MSC-S dapat dideteksi dan diukur menggunakan uji pengikatan antigen-antibodi, seperti uji imunosorben terkait-enzim (ELISA), rangkaian berbasis manik Luminex, mikroarray, western blotting, dan rangkaian antibodi sitokin. Molekul terlarut dari MSC-S dilaporkan mengandung berbagai faktor pertumbuhan, sitokin, kemokin, adipokin, molekul antioksidan, faktor pro-angiogenik, dan faktor anti-apoptosis.
MSC-S juga mengandung berbagai molekul yang bertindak sebagai pola molekul terkait resolusi (RAMPs). RAMP (misalnya HSP10, aB-crystallin (aBC), HSP27 dan binding immunoglobulin Protein (BiP)) adalah molekul yang dilepaskan oleh sel jika terjadi stres seluler dan berfungsi untuk mengimbangi efek inflamasi dan respons imun yang disebabkan oleh molekul terkait patogen. pattern (PAMPs) atau pola molekul terkait kerusakan (DAMPs). RAMP adalah protein multifungsi yang diproduksi secara konstitutif yang aktivitas imunoregulasinya bergantung pada disintegrasi cepat lingkungan intraseluler, baik secara aktif (sebagai respons terhadap stres sel) atau secara pasif (sebagai respons terhadap kematian sel nekrotik). Resolusi RAMP membantu pemulihan homeostasis imunologi dengan memberikan sinyal regulasi dan antiinflamasi pada jaringan yang terluka dan dengan menonaktifkan sel imun. RAMP juga berperan dalam menginduksi polarisasi makrofag M1 ke M2.
Proses ini disebut mekanisme resolusi, dimana RAMP berikatan dengan TLR-2/4 pada permukaan sel makrofag dan menginduksi faktor transkripsi dan proses enzimatik untuk makrofag M2. Polarisasi makrofag M1 ke makrofag M2 sangat penting dalam penyembuhan luka karena Kemampuan makrofag M2 untuk melepaskan berbagai faktor pertumbuhan dan sitokin anti-inflamasi. Faktor-faktor ini akan membatasi fase inflamasi, sehingga memungkinkan terjadinya fase penyembuhan luka berikutnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan mekanisme ini merupakan mekanisme patogenik yang mendasari luka yang tidak dapat disembuhkan.
Faktor-faktor
MSC-S terdiri dari sejumlah besar faktor trofik, termasuk faktor pertumbuhan, sitokin, kemokin, dan molekul lainnya. Molekul MSC-S yang diidentifikasi dianggap relevan dalam memfasilitasi regenerasi dan perbaikan sel-sel di mukosa mulut. Penerapan MSC-S telah terbukti efektif dalam menginduksi aktivitas regeneratif keratinosit, fibroblas, dan sel endotel dalam penelitian in vitro terbatas. Selain itu, efek imunomodulator MSC-S dianggap sebagai fitur penting MSC-S dalam meningkatkan penyembuhan luka. Teori-teori ini mengimplikasikan penerapan MSC-S sebagai pendekatan terapi baru dalam manajemen OUL. Namun, potensi MSC-S yang menjanjikan dari studi praklinis, khususnya studi in vivo, masih sangat terbatas. Studi masa depan mengenai penerapannya dalam pengelolaan OUL sangat diperlukan
Penulis: Alexander Patera Nugraha
Link:
Baca juga: Penerapan Artificial Intelligence untuk Estimasi Usia Gigi di Bidang Odontologi Forensik





