51动漫

51动漫 Official Website

Studi Perbandingan Mikrobiota dari Usus Fauna Dekomposer yang Terdapat pada Komposter Rumah Tangga Menggunakan Pendekatan Metataksonomi

Foto oleh Philly Mag

Salah satu permasalahan yang dialami oleh berbagai kota besar, termasuk Surabaya adalah penumpukan limbah padat rumah tangga. Permasalahan yang mungkin terjadi akibat penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) antara lain termasuk akumulasi sampah organik di lahan, pencemaran air tanah karena lindi, dan emisi metana. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menangani permasalahan terkait limbah rumah tangga, misalnya melalui terbitnya PP No. 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga. Upaya lain yang dilakukan adalah kerjasama dengan pihak ketiga yang membantu mengubah sampah yang menumpuk di TPA menjadi energi.

Upaya untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga sebenarnya dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat, misalnya melalui pengomposan. Beberapa rumah tangga di Surabaya telah melakukan pengomposan sampah organik rumah tangga. Hasil pengomposan dapat digunakan sebagai media tanam.  

Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti terhadap komposter limbah rumah tangga di Surabaya yang telah digunakan selama lebih dari sepuluh tahun, terdapat berbagai fauna tanah yang berperan dalam proses pengomposan. Fauna tanah yang ditemukan di antaranya adalah siput (Achatina fulica), kaki seribu (Cylindroiulus sp.), kecoa (Pycnoscelus surinamensis), dan larva kumbang (Oryctes rhinoceros sp.).

Pada proses pengomposan, selain fauna tanah, mikroorganisme yang hidup bebas maupun yang bersimbiosis dengan fauna tanah juga berperan penting dalam proses pengomposan. Kemampuan fauna tanah dalam membantu proses pengomposan dapat berhubungan dengan keberadaan mikroorganisme yang terdapat dalam saluran pencernaan hewan tersebut. Penelitian ini membandingkan keanekaragaman, kelimpahan dan distribusi mikrobiota prokariotik usus di antara beberapa anggota fauna pengurai yaitu kecoa, kaki seribu, larva kumbang, dan keong, serta kompos dari komposter rumah tangga di Surabaya, Indonesia, menggunakan pendekatan metataksonomi. Pendekatan metataksonomi dilakukan melalui analisis DNA komunitas mikroba pada usus keempat hewan decomposer dan kompos yang terdapat pada dekomposer dengan metode next generation sequencing (NGS).

Berdasarkan analisis NGS yang dilakukan, baik pada usus dekomposer maupun pada kompos yang dianalisis, terdapat dua domain mikrobiota, yaitu Bacteria dan Archaea. Sebanyak 42 filum dan 495 genus mikroba terdapat pada seluruh sampel. Diversitas mikroba usus tertinggi ditemukan pada usus kecoa, namun diversitasnya lebih rendah dibanding yang terdapat pada kompos. Similaritas antara struktur komunitas mikroba yang terdapat pada keempat usus mikroba dan yang ditemukan di kompos mengindikasikan bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang kuat mikroba usus fauna dekomposer. Komunitas mikroba dapat memasuki usus dari fauna dekomposer melalui makanan dan bertahan di dalam usus fauna tersebut.

Filum mikroba yang mendominasi adalah Proteobacteria yang ditemukan pada seluruh sampel. Filum lain yang turut mendominasi adalah Tenericutes, Firmicutes, Actinobacteria, Bacteroidetes, Gemmatimonadetes, Acidobacteria, Synergistetes, Euryarchaeota, dan Chlorofexi. Selain filum, hasil sekuensing pada penelitian ini juga menunjukkan keberadaan berbagai genus yang diketahui berperan dalam proses dekomposisi. Desulfovibrio dikenal sebagai bakteri pereduksi sulfat (SRB). Kelompok bakteri pereduksi sulfat memiliki peran penting dalam siklus sulfur dan daur ulang karbon. Cellulomonas dan Gaiella diketahui memilikii peran dalam proses dekomposisi. Genus Lactobacillus dan Christensenellaceae R7 group diketahui dapat hidup pada pada kondisi anaerob fakultatif, misalnya saluran pencernaan beberapa fauna.

Dalam studi ini, pendekatan metataksonomi telah berhasil mengungkap keanekaragaman mikrobiota yang tidak hanya hadir di lingkungan tetapi juga di usus fauna dekomposer yang berpotensi mendegradasi organik senyawa. Komunitas mikroba ini dapat menjadi sumber alami berbagai enzim katalitik yang berguna untuk industri serta agen biorecycling untuk penanganan limbah rumah tangga. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini juga bisa dijadikan referensi untuk memetakan peran microbiota yang bersimbiosis dalam usus fauna dekomposer. Mikrobiota potensial yang berperan dalam proses dekomposisi dapat dieksplorasi untuk penelitian lebih lanjut.

Sumber: Ni’matuzahroh, Affandi M, Fatimah, Trikurniadewi N, Khiftiyah AM, Sari SK, Abidin AZ, Ibrahim SNMM. Comparative study of gut microbiota from decomposer fauna in household composter using metataxonomic approach. Arch Microbiol. 2022 Mar 12;204(4):210. doi: 10.1007/s00203-022-02785-1. PMID: 35278140.

Authors: Ni’matuzahroh, Affandi M, Fatimah, Trikurniadewi N, Khiftiyah AM, Sari SK, Abidin AZ, Ibrahim SNMM.

Judul: Comparative study of gut microbiota from decomposer fauna in household composter using metataxonomic approach.

Link:

AKSES CEPAT