Stunting merupakan hasil yang tidak dapat diubah dalam kehidupan seorang anak dan memberikan konsekuensi jangka panjang pada individu maupun masyarakat. Konsekuensinya termasuk kognisi dan kinerja pendidikan yang buruk, upah dewasa yang rendah, kehilangan produktivitas, dan risiko penyakit degeneratif di masa dewasa. Stunting selama ini sering diasosiasikan dengan kemiskinan, malnutrisi, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Namun, studi yang kami lakukan mengungkap fakta yang mengejutkan: stunting ternyata juga terjadi di kalangan keluarga kaya di Indonesia. Studi ini memberikan pandangan baru mengenai tantangan kesehatan anak di Indonesia, yang selama ini mungkin terabaikan.
Studi ini mengambil fokus pada anak-anak di bawah usia dua tahun, sebuah kelompok usia yang sangat rentan mengalami stunting. Selama ini, kebanyakan penelitian tentang stunting di Indonesia berkonsentrasi pada keluarga miskin, yang dianggap paling berisiko. Namun, penelitian ini mencoba mengisi celah dengan mengamati prevalensi stunting di kalangan keluarga kaya. Dengan menggunakan metode cross-sectional, kami menganalisis data Survei Status Gizi Nasional Indonesia 2021 yang mencakup 23.957 anak di bawah usia dua tahun.
Dari studi kami, pada tahun 2021, rasio anak stunting di bawah usia dua tahun pada keluarga kaya di Indonesia sebesar 12,5%. Angka ini cukup mengejutkan. Meskipun secara ekonomi tergolong berada, sejumlah anak dari keluarga kaya masih mengalami stunting. Ini menandakan bahwa stunting tidak hanya dipengaruhi oleh status ekonomi, tetapi juga oleh faktor-faktor lain yang mungkin lebih kompleks. Beberapa faktor yang berhubungan dengan stunting pada keluarga kaya di Indonesia meliputi tempat tinggal, usia ibu, status perkawinan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, usia anak, jenis kelamin anak, dan riwayat inisiasi menyusui dini. Hasil studi kami menunjukkan persentase stunting lebih tinggi terjadi pada anak laki-laki pada rentang usia 12-23 bulan, mendapatkan inisiasi menyusui dini, tinggal di pedesaan, dengan karakteristik ibu berusia muda (20-24 tahun), bercerai/janda, tidak memiliki pendidikan formal, dan tidak bekerja,
Pada keluarga kaya di Indonesia, anak usia 12 hingga 23 bulan lebih mungkin mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang berusia kurang dari 12 bulan. Meskipun memiliki akses ke makanan yang cukup dan bergizi, beberapa keluarga kaya mungkin kurang memahami pentingnya asupan makanan yang tepat untuk anak-anak mereka. Prediksi ini diperkuat oleh penentu kuat kedua yang ditemukan dalam studi ini, yaitu tingkat pendidikan ibu yang rendah. Pemenuhan asupan gizi untuk anak memerlukan kemampuan ibu dalam memberikan gaya pengasuhan yang tepat. Kondisi ini menegaskan bahwa faktor perawatan ibu dan asupan makanan secara signifikan menyebabkan stunting.
Hasil lain yang cukup mengejutkan adalah persentase stunting pada anak yang mendapatkan inisiasi menyusui dini sedikit lebih tinggi dibandingkan yang tidak mendapatkan inisiasi menyusui dini (12,9% vs 12,2%). Inisiasi menyusui dini (IMD) merupakan salah satu langkah awal menuju keberhasilan menyusui dan pemenuhan asupan gizi untuk mengurangi risiko stunting. Beberapa studi di Indonesia, Ethiopia, dan Kongo menyatakan bahwa anak yang mendapatkan IMD memiliki kemungkinan stunting yang lebih rendah. Bahkan studi dari Rwanda melaporkan bahwa inisiasi menyusui tidak berhubungan dengan stunting. Studi lain menyebutkan bahwa catatan menyusui eksklusif justru menjadi faktor risiko untuk stunting. Hal ini mungkin terjadi karena tidak adanya ASI setelah kelahiran atau jumlahnya yang tidak memadai, sehingga tidak memenuhi kebutuhan bayi.
Dari berbagai temuan kami, faktor paling kuat yang terkait dengan stunting di kalangan keluarga kaya di Indonesia adalah usia anak, diikuti oleh pendidikan ibu. Hasil ini menegaskan bahwa pola pengasuhan dan asupan makanan lebih kuat menyebabkan stunting dibandingkan faktor kongenital. Penelitian ini membawa implikasi penting bagi kebijakan kesehatan di Indonesia. Selama ini, program penanggulangan stunting sering kali difokuskan pada keluarga miskin. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih komprehensif dan inklusif perlu diterapkan. Pemerintah harus fokus pada sasaran khusus yang dihasilkan dari studi ini untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting di keluarga kaya Indonesia. Pemerintah dapat memasukkan materi tentang pola pengasuhan yang baik dalam kelas prenatal untuk meningkatkan pengetahuan ibu.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari
Link Artikel:





