51动漫

51动漫 Official Website

Stunting di Keluarga Miskin Indonesia: Benarkah Ibu Bekerja Menjadi Faktor Risiko?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Sumber: kaltimtoday.co

Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling serius di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stunting sebagai kondisi gagal tumbuh kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya. Dampaknya tidak hanya terlihat pada tubuh anak yang lebih pendek, tetapi juga pada peningkatan risiko infeksi, gangguan perkembangan kognitif, prestasi belajar yang rendah, hingga penurunan produktivitas ekonomi di masa dewasa. Bahkan, stunting berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit degeneratif seperti diabetes dan penyakit jantung.

Di kawasan Asia Tenggara, sekitar 24,1% anak balita mengalami stunting. Indonesia termasuk negara dengan prevalensi tertinggi, kedua setelah Timor Leste. Meski pemerintah telah memprioritaskan penurunan stunting sejak 2017, laju penurunannya masih tergolong lambat. Dalam delapan tahun (20122020), prevalensi stunting nasional hanya turun 2,7%, lebih rendah dibandingkan rata-rata kawasan. Situasi ini menegaskan bahwa upaya yang ada belum cukup kuat untuk memutus siklus kekurangan gizi antargenerasi, terutama pada keluarga berpenghasilan rendah.

Penelitian ini menjadi menarik karena menyoroti status pekerjaan ibu攆aktor yang sering diperdebatkan攄alam kaitannya dengan stunting pada anak usia di bawah dua tahun dari keluarga miskin. Di satu sisi, ibu bekerja diasumsikan memiliki pendapatan tambahan yang dapat meningkatkan akses pangan dan layanan kesehatan. Namun di sisi lain, beban kerja dapat mengurangi waktu pengasuhan, termasuk pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping yang tepat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19,0% anak Indonesia usia di bawah dua tahun dari keluarga miskin mengalami stunting. Secara nasional, sekitar 23,5% ibu dalam keluarga miskin berstatus bekerja. Peta sebaran menunjukkan bahwa wilayah Indonesia Timur攕eperti Papua, Nusa Tenggara, dan Maluku攎emiliki kerentanan lebih tinggi, baik dari sisi stunting anak maupun proporsi ibu bekerja.

Temuan utama yang cukup mengejutkan adalah bahwa ibu yang tidak bekerja justru memiliki risiko sedikit lebih tinggi untuk memiliki anak stunting dibandingkan ibu bekerja. Artinya, dalam konteks keluarga miskin, pekerjaan ibu dapat berperan sebagai faktor protektif, meskipun efeknya relatif kecil. Hal ini membuka perspektif baru bahwa persoalan stunting tidak bisa disederhanakan hanya sebagai 渋bu bekerja versus ibu tidak bekerja.

Ibu bekerja berpotensi meningkatkan pendapatan rumah tangga, memperbaiki ketahanan pangan, dan memperluas akses terhadap layanan kesehatan. Selain itu, keterlibatan dalam dunia kerja sering kali berkaitan dengan tingkat pendidikan yang lebih baik, paparan informasi kesehatan dan gizi, serta meningkatnya posisi tawar ibu dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada pola pengasuhan dan pemenuhan gizi anak yang lebih baik.

Namun, penelitian ini juga menegaskan bahwa usia anak merupakan faktor paling dominan. Anak usia 1223 bulan memiliki risiko stunting lebih dari tiga kali lipat dibandingkan anak usia 011 bulan. Fase ini merupakan periode krusial ketika ASI mulai dilengkapi dengan makanan pendamping. Ketidaktepatan pemberian MP-ASI, infeksi berulang, dan pengasuhan yang kurang optimal pada usia ini dapat berdampak besar pada pertumbuhan anak.

Selain itu, faktor lain yang berhubungan dengan stunting adalah tempat tinggal perkotaan, usia ibu yang lebih muda, tingkat pendidikan ibu yang rendah, tidak melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC), serta jenis kelamin anak laki-laki. Menariknya, anak dari ibu yang tinggal di perkotaan justru lebih berisiko mengalami stunting, yang mengindikasikan adanya persoalan kemiskinan perkotaan, biaya hidup tinggi, sanitasi buruk, dan konsumsi pangan tidak sehat.

Urgensi penelitian ini terletak pada implikasi kebijakannya. Temuan bahwa pengangguran ibu menjadi faktor risiko stunting menunjukkan perlunya pendekatan lintas sektor. Penanggulangan stunting tidak cukup hanya melalui intervensi gizi, tetapi juga harus mencakup pemberdayaan ekonomi perempuan, penyediaan lapangan kerja yang ramah ibu, akses penitipan anak yang terjangkau, serta perlindungan maternitas.

Dengan menempatkan ibu攂aik bekerja maupun tidak攕ebagai pusat strategi pencegahan stunting, penelitian ini memberikan pesan kuat: stunting bukan sekadar masalah gizi, melainkan cerminan ketimpangan sosial dan ekonomi. Tanpa intervensi yang menyasar akar masalah tersebut, target penurunan stunting berisiko sulit tercapai secara berkelanjutan.

Penulis: Ratna Dwi Wulandari – Fakultas Kessehatan Masyarakat 51动漫

Sumber: Wulandari, R. D., Laksono, A. D., Astuti, Y., Matahari, R., Rohmah, N., Prihatin, R. B., & Elda, F. (2025). Stunting Among Low-Income Families in Indonesia: Is Mother’s Employment a Risk Factor?. Journal of research in health sciences25(3), e00654. https://doi.org/10.34172/jrhs.7450

DOI:

AKSES CEPAT