51动漫

51动漫 Official Website

Sudahkah UNAIR menjadi Kampus Siaga Bencana?

Gempa Bumi
Gempa Bumi di Tuban, Jawa Timur (sumber: Republika Online)

Peringatan hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang jatuh pada Jumat, 26 April 2024 baru saja berlalu. Namun acaman bencana, khususnya di Jawa Timur pada 3 bulan terakhir.  Menengok ke belakang saat kejadian bencana gempa bumi besar di Jatim pada tanggal 22 Maret 2024 yang mencapai skala 6,5 SR. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, pusat gempa itu terjadi di timur laut Tuban, Jawa Timur. Gempa pertama terjadi pukul 11.22 WIB, dengan kekuatan 6,0 skala richter (SR). Kemudian gempa kembali dirasakan pada pukul 12.31 WIB dengan kekuatan 5,0 SR. Setelah terjadi dua kali, gempa kembali dirasakan oleh warga Surabaya. Gempa ketiga yang terjadi pada pukul 15.52 WIB sebesar 6,5 SR. Wilayah yang merasakan guncangan di antaranya Bawean, Jepara, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Surabaya, Kudus, Blora, Pekalongan, Nganjuk, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Sidoarjo, Madiun, Pasuruan, Malang, Semarang, dan Yogyakarta.

Dilaporkan telah terjadi kerusakan pada bangunan Rumah Sakit 51动漫 (), Surabaya. Gempa yang terjadi berulang kali tersebut telah menyebabkan setidaknya 2 bangunan gedung milik Rumah Sakit runtuh dan menimpa 2 sepeda motor yang terparkir di sekitarnya. Tidak ada laporan adanya korban jiwa maupun luka. Akibat sejumlah kerusakan pada bangunan ini.

Pada hari Jumat, tanggal 22 Maret 2023 pukul 11.30 WIB di saat mahasiswa semester 2 sedang padat berada di GKB Kampus C untuk mengikuti perkuliahan PDB terjadi gempa, pada goncangan pertama dan menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Mahasiswa, dosen dan seluruh penghuni gedung berlarian menuju ke bawah gedung dan menjauh dari gedung untuk tujuan menyelamatkan diri. Gemuruhnya para mahasiswa dan penghuni lain di GKB kampus C yang berlarian tak tentu arah dan bahkan ada yang menangis histeris ketakutan serta ada beberapa mahasiswa yang tertegun tidak dapat berjalan (dalam kondisi freeze) karena bingung kemana arah melarikan diri yang aman, menjadikan perhatian serius bagi penulis yang juga berada dilokasi saat kejadian bencana (penulis sedang berada di dalam lift yang bergerak menuju lantai 4).

Sebagai seorang pengajar di Prodi Keselamatan dan Kesehatan kerja, penulis merasa 渢ertampar keras menyaksikan kondisi tersebut, yang menyiratkan kondisi dimana ternyata Kampus Tercinta 淯NAIR belum menjadi 淜ampus yang Siaga Bencana. Apakah benar siaga bencana hanya milik mahasiwa Prodi K3 saja? Sebuah pertanyaan besar yang memerlukan jawaban yang tidak sederhana. Sungguh kondisi yang ironis mengingat pada kenyataannya di GKB kampus C tersebut telah terdapat rambu petunjuk jalur evakuasi, tersedia alarm system dan safety device sebagai fasilitas pengaman saat kondisi darurat, namun sangat disayangkan masih terdapat civitas academica UNAIR yang belum mengetahui arah jalur evakuasi.

Ketidaktahuan tentang rute atau jalur evakuasi di tempat kerja atau fakultas masing-masing dinyatakan oleh sebanyak 12% (dari 233 responden yang menjawab survey singkat yang dilakukan oleh penulis pada kurun waktu 5 12 Mei 2024). Kondisi ini relevan dengan jawaban sebanyak 40,8 % responden yang menyatakan tidak pernah mendapatkan sosialisasi tentang Pengenalan Tanggap Darurat dan Siaga Bencana selama anda bekerja atau kuliah di UNAIR yang telah dilakukan oleh tim tanggap darurat di lingkungan fakultas / universitas atau di kegiatan lain yang dilakukan di lingkungan UNAIR.

Moment peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang diselenggarakan setiap tanggal 26 April seyogyanya dapat dijadikan sebagai awal dari kegiatan sosialisasi tanggap darurat bencana di lingkungan UNAIR, namun pada kenyataannya di lingkungan UNAIR belum semua lini merasa kegiatan sosialisasi dan simulasi tanggap darurat bencana, khususnya bencana gempa bumi, adalah kegiatan yang penting untuk di implementasikan. Selain sebagai bentuk kesiapsiagaan bencana, aksi simulasi siaga bencana sendiri merupakan event yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan seluruh civitas academica dalam menghadapi segala jenis bencana menuju Indonesia Tangguh Bencana. 

Sungguh disayangkan jika kesadaran akan pentingnya melakukan simulasi tanggap darurat bencana belum dilakukan secara masif dan terintegrasi di lingkungan UNAIR khususnya di masing-masing Fakultas, mengingat rekam jejak kejadian bencana gempa bumi pada tanggal 22 Maret 2024 menyisakan dampak kerugian materiil yang tidak sedikit. UNAIR memiliki Fakultas yang seharusnya dapat mengimplementasi kegiatan simulasi tanggap darurat bencana secara rutin menjadi kegiatan yang terintegrasi dengan unit sarana dan prasarana di tingkat rektorat antara lain Fakultas Vokasi (terdapat prodi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja), Fakultas Kesehatan Masyarakat dengan S1 peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta Sekolah Pasca Sarjana dengan Magister Manajemen Bencana). Kerjasama lintas sektoral yang terintegrasi dengan baik serta terencana semestinya dapat dilakukan agar dapat mewujudkan UNAIR yang tidak hanya Excellent With Morality, namun juga dapat menjadi 淜ampus Siaga Bencana.

Terkait gempa bumi yang terjadi pada hari Jumat, 22 Maret 2024, Pkl.16.20 WIB, pihak rumah sakit telah melakukan upaya tanggap darurat bencana sebagai berikut: Prosedur Baku apabila ada gempa bumi (code Green) pasien dan semua pengunjung di evakuasi dari gedung rumah sakit untuk mengantisipasi supaya tidak terdapat hal-hal yang tidak di inginkan terutama pasien rumah sakit. RS UNAIR selalu berkomitmen untuk memberikan pelayanan yg terbaik termasuk keamanan pasien saat terjadi bencana (HUMAS RSUA, 2024).

Jika pihak Rumah Sakit Pendidikan UNAIR telah sangat masif melakukan upaya tanggap darurat dan siaga bencana, lalu bagaimana dengan kondisi di masing-masing fakultas yang ada di lingkungan UNAIR? Berdasarkan survey cepat yang penulis lakukan dalam periode 5 sampai 12 Mei 2024 yang diikuti oleh 233 responden terdiri dari (mahasiswa, dosen dan tendik di lingkungan UNAIR), penulis mendapatkan data bahwa belum semua program studi memberikan materi tentang pengenalan tanggap darurat bencana pada mahasiswa, dosen maupun tendiknya.

Belum adanya materi khusus tentang sosialisasi tanggap darurat dan siaga bencana di semua program studi pada fakultas-fakultas yang ada lingkungan UNAIR menjadikan belum terciptanya kesadaran yang tinggi akan pentingnya memahami bagaimana cara menyelamatkan dan melindungi diri saat terjadi bencana. Pentingnya sosialisasi dan praktik tentang tanggap darurat serta siaga bencana ini bertujuan untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun korban luka. Implementasi pengenalan tidak harus dalam wujud mata kuliah khusus.

Namun dapat diselenggarakan dalam bentuk pemberian materi pada saat kegiatan PPKMB bagai mahasiswa baru saat pekan orientasi. Kemudian langkah selanjutnya adalah memberikan kegiatan praktik tanggap darurat dan siaga bencana melalui kegiatan simulasi di masing-masing fakultas yang dikoordinasi oleh Tim Tanggap Darurat Bencana di Tingkat Universitas. Sebanyak 85,4 % responden menyatakan sangat perlu dilakukan sosialisasi tentang Pengenalan Tanggap Darurat dan Siaga Bencana di lingkungan UNAIR. Dipihak lain sebanyak 14,2 % responden menyatakan perlu  dilakukan sosialisasi tentang Pengenalan Tanggap Darurat dan Siaga Bencana di lingkungan UNAIR.

Pada pertanyaan tentang pada forum apakah materi Pengenalan Tanggap Darurat dan Siaga Bencana di lingkungan UNAIR, disampaikan sebanyak 70 % responden menyatakan disampaikan pada forum Kegiatan PPKM, sedangkan sisanya menyatakan perlu disampaikan pada forum Pembekalan Tendik/ dosen (18%), kuliah umum ( 4 %) dan kuliah reguler di masing-masing fakultas (8%). Terkait berapa frekuensi sosialisai tersebut dilakukan, sebanyak 43,3 % responden menjawab 1-2 kali dalam setahun; 28,3% menjawab minimal 1 kali dalam setahun dan 28,3% responden lainnya menjawab sesuai kebutuhan).

Selain melakukan sosialisasi, penting pula melakukan pembentukan kader atau Duta Tanggap Darurat dan siaga bencana di lingkup fakultas. Mengingat kader atau duta inilah yang nantinya sangat berperan penting saat terjadinya bencana di lingkungan fakultas masing-masing. Kader dan duta tersebut merupakan kepanjangan tangan dari tim tanggap darurat bencana di Tingkat fakultas. Tugas Kader atau duta tersebut adalah membantu kerja tim tanggap darurat universitas untuk melakukan kegiatan mitigasi serta evakuasi bencana di lingkungan UNAIR. Sehingga saat terjadi bencana serupa tanggal 22 Maret 2024 yang baru lalu, seluruh civitas academica UNAIR tidak lagi panik. Serta dapat mengetahui jalur evakuasi, mengetahui letak titik kumpul dan dapat melindungi diri masing-masing dengan teknik perlindungan diri yang telah di ajarkan dan disimulasikan oleh masing-masing tim tanggap darurat bencana di masing-masing fakultas.

Sebetulnya, gempa bumi itu tidak melukai atau bersifat membunuh. Namun jatuhnya material yang menimpa diri kita dapat menimbulkan potensi bahaya. Kejatuhan material itulah yang membuat terluka bahkan hingga meninggal dunia. Sosialisasi dan simulasi dapat menambah pemahaman tentang bencana gempa dan cara evakuasi diri, hingga semuanya siap untuk selamat. Sejumlah 92,7% responden menyatakan bentuk kegiatan upaya pengenalan Tanggap Darurat dan Siaga Bencana di Lingkungan UNAIR berupa sosialisasi dan praktik, 6,4% menyatakan bentuk kegiatan berupa sosialisasi saja dan sebanyak 0,9% berupa himbauan dari pimpinan saja cukup.

Salah satu contoh yang telah dilakukan oleh Program studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2024 adalah dengan mencetak kader atau duta tanggap darurat dan siaga bencana agar dapat membantu terwujudnya 淜ampus Siaga bencana dengan menggelar Praktik Simulasi Tanggap darurat bencana gempa bumi yang dilaksanakan selama 2 hari mulai tanggal 29 dan 30 April 2024 yang berlokasi di Kampus B dan Kampus Gresik. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh mahasiswa Program Studi D-IV K3 (berjumlah kurang lebih 280 mahasiswa) yang nantinya akan di kader menjadi Satgas Tanggap darurat bencana dilingkungan Program studi dengan harapan ke depan mahasiswa tersebut dapat dilibatkan dalam kegiatan serupa di lingkup universitas.

Kegiatan simulasi tersebut di inisiasi oleh PJMK Mata Kuliah Manajemen Tanggap Darurat Dr. Neffrety Nilamsari,S.Sos.,M.Kes dibantu tim dosen Herman, S,KM.,M.K.K.K bekerjasama dengan pihak BPBD Gresik Bapak M. Agus. Kegiatan serupa perlu di duplikasi oleh fakultas -fakultas lain di lingkungan 51动漫. Agar jika terjadi bencana gempa bumi, seluruh civitas academia telah tanggap dan siaga melakukan kegiatan mitigasi dan evakuasi baik secara mandiri maupun di bawah komando tim satgas tanggap darurat Fakultas maupun UNAIR. Dengan demikian kondisi kepanikan seperti yang terjadi pada tanggal 22 Maret 2024 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus C tidak terjadi lagi. Karena semua warga UNAIR telah memahami bagaimana cara melakukan mitigasi dan evakuasi untuk meminimalis adanya korban jiwa maupun korban luka.

Harapan penulis, di masa mendatang UNAIR dapat menjadi inspirasi bagi universitas-universitas lain di Jawa Timur bahkan di Indonesia dan dikenal sebagai salah satu 淜ampus Siaga Bencana. Di mana seluruh komponen di lingkungan kampusnya benar-benar siaga bencana (tidak hanya unggul dalam implementasi sistem keamanan di setiap gedungnya, namun juga unggul dalam hal tingkat kesadaran dan keterampilan civitas academicanya dalam menghadapi kondisi bencana). UNAIR hebat, UNAIR siap dan sigap dalam menghadapi bencana.

Penulis: Dr. Neffrety Nilamsari,S.Sos.,M.Kes (Dosen Prodi K3 – Fakultas Vokasi)

AKSES CEPAT