51动漫

51动漫 Official Website

Tabir Surya Berbahan Nanopartikel ZnO dan TiO2 untuk Penderita Lupus Cutaneous Erythematosus

ILUSTRASI penyakit lupus. (Foto: halodoc.com)
ILUSTRASI penyakit lupus. (Foto: halodoc.com)

Lupus merupakan penyakit autoimun yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh, termasuk kulit. Salah satu bentuk lupus yang memengaruhi kulit adalah Lupus Cutaneous Erythematosus(CLE), yang menyebabkan berbagai jenis ruam dan lesi, mulai dari ruam berbentuk kupu-kupu di wajah hingga bercak bersisik. Insiden tahunan CLE tercatat sekitar 4 kasus per 100.000 orang, dengan prevalensi mencapai 73 kasus per 100.000 orang. Penggunaan tabir surya sangat penting bagi penderita CLE untuk mengurangi risiko perburukan gejala dan menjaga kesehatan kulit, karena paparan sinar matahari dapat memperburuk kondisi ini.

Tabir surya berfungsi untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet A dan B (UVB dan UVA), yang dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang seperti pigmentasi dan pembentukan bekas luka. Terdapat dua jenis tabir surya yang umumnya digunakan, yakni tabir surya kimia dan fisik. Tabir surya fisik yang berbahan mineral seperti Zinc Oxide (ZnO) dan Titanium Dioxide (TiO2), bekerja dengan memantulkan sinar matahari tanpa diserap ke dalam kulit, sehingga lebih aman bagi kulit sensitif bagi penderita CLE.

Eksplorasi penggunaan kombinasi nanopartikel ZnO dan TiO2dalam tabir surya untuk penderita CLE merupakan topik penelitian yang menarik. Formulasi yang tepat dapat memberikan perlindungan yang seimbang terhadap sinar UV-A dan UV-B, terutama bagi penderita CLE yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kedua jenis sinar ultraviolet tersebut. Penggunaan nanopartikel sebagai bahan tabir surya fisik dapat memberikan reaksi yang lebih efektif terhadap sinar UV karena peningkatan rasio luas permukaannya terhadap volume.

Dalam penelitian ini, dilakukan preparasi nanopartikel ZnO dan TiO2menggunakan HEM (High Energy Milling) untuk mendapatkan ukuran partikel yang diinginkan. Formulasi tabir surya dibuat dengan mencampurkan nanopartikel tersebut ke dalam sediaan krim yang terdiri dari fase minyak dan fase air. Uji karakterisasi menunjukkan bahwa kedua nanopartikel memiliki stabilitas yang baik, dengan ukuran partikel yang sangat kecil, yakni 7,77 nm untuk ZnO dan 4,44 nm untuk TiO2. Selain itu, krim tabir surya yang dihasilkan juga menunjukkan stabilitas fisik yang baik, termasuk kestabilan pH dan homogenitas selama 21 hari penyimpanan.

Hasil pengujian terhadap kemampuan tabir surya dalam melindungi dari paparan sinar UV menunjukkan bahwa formulasi dengan kombinasi ZnO dan TiO2 memberikan perlindungan yang optimal terhadap sinar UV-B, dengan kategori proteksi tertinggi yaitu total blockpada formula tertentu. Sediaan ini juga menunjukkan nilai SPF (Sun Protection Factor) yang sangat baik, mengindikasikan kemampuannya dalam memblokir hampir seluruh sinar UV. Formula dengan SPF tinggi ini sangat efektif dalam melindungi kulit dari kerusakan lebih lanjut akibat paparan sinar matahari, terutama penderita CLE.

Dengan hasil yang menunjukkan perlindungan maksimal terhadap sinar UV dan kestabilan yang baik, tabir surya yang diformulasikan dengan nanopartikel ZnO dan TiO2dapat menjadi pilihan ideal bagi perlindungan kulit. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan produk perawatan kulit yang lebih aman dan efektif bagi penderita penyakit autoimun CLE, serta membuka jalan bagi pengembangan tabir surya dengan perlindungan lebih baik dan formula yang lebih ramah bagi kulit sensitif.

Artikel selengkapnya dapat dilihat pada:

Siswanto, Fitriyatul Qulub and Vallery Ofelia Viannco Junico, 2025, Nanoparticle Formulation of ZnO: TiO2as Sunscreen Cream for Cutaneous Lupus Erythematosus (CLE) Patients, Journal of Physics: Conference Series 2945 (February 10, 2025) 012019,

AKSES CEPAT