51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Nanopartikel Perak dengan Bioreduktor Bunga Telang untuk Inaktivasi Mikroba Patogen

Ilustrasi bunga telang (Foto: alodokter)
Ilustrasi bunga telang (Foto: alodokter)

Staphylococcus aureus adalah bakteri Gram positif yang bertanggung jawab atas banyak penyakit klinis. Infeksi yang disebabkan oleh patogen ini lazim terjadi di lingkungan masyarakat dan rumah sakit. Pengobatan tetap menjadi tantangan karena munculnya strain yang resistan terhadap banyak obat, seperti Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (M.R.S.A.). Menurut data Sistem Pengawasan Penggunaan dan Resistensi Antimikroba Global (GLASS) WHO tahun 2020, 40% strain S. aureus resistan terhadap MRSA.

Terapi antibiotik konvensional sering kali tidak efektif karena resistensi yang meluas, sehingga perlu pengobatan alternatif. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah pengembangan terapi antimikroba berbasis nanoteknologi, khususnya sintesis nanopartikel yang ramah lingkungan. Nanoteknologi melibatkan produksi material pada skala nano. Nanopartikel perak (AgNP) sangat disukai karena kemudahan produksinya, sifatnya yang unik, dan afinitasnya yang kuat untuk mengikat berbagai biomolekul. Sehingga membuatnya efektif dalam membasmi bakteri sekaligus tidak beracun bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.

Nanopartikel perak disintesis dengan memasukkan agen pereduksi melalui metode sintesis fisik, kimia, biologi, dan hijau. Sintesis hijau sangat menguntungkan karena ramah lingkungan dan tidak beracun selama sintesis. Keberhasilan pembentukan nanopartikel perak bergantung pada prekursor dan reduktan primer yang digunakan dalam sintesis. Prekursor yang umum digunakan adalah perak nitrat (AgNO₃), dan reduktan tradisional meliputi NaBH₄ atau hidrazin. Namun, zat-zat ini berbahaya jikalarutan yang dihasilkan dilepaskan ke lingkungan.

Pendekatan sintesis hijau memanfaatkan bahan-bahan alami akan lebih aman. Salah satu ekstrak tanaman dengan manfaat fungsional bagi tubuh manusia adalah bunga telang (Clitoria ternatea L.). Semua bagian tanaman bunga telang diklaim menawarkan berbagai manfaat kesehatan. Misalnya, kelopaknya dikenal karena sifat antioksidan, antidiabetik, antiobesitas, antikanker, antiinflamasi, dan antibiotiknya. Bunga telang juga menunjukkan potensi farmakologis sebagai agen antimikroba, antidepresan, anthelmintik, antikanker, dan antidiabetik, dengan pigmen antosianin yang larut dalam air dan menghasilkan warna mulai dari merah hingga biru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi fotodinamik laser merah 90 detik menggunakan fotosensitiser nano partikel perak 1 mM yang disintesis hijau dengan bioreduktir ekstrak bunga telang dapat menjadi pendekatan yang menjanjikan untuk mengendalikan infeksi bakteri seperti S. aureus (persen reduksi 96%). Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk mengeksplorasi mekanisme yang mendasari fotoinaktivasi dan mengoptimalkan parameter pengobatan untuk aplikasi klinis.

Penulis: Suryani Dyah Astuti dan Ghina Rihadatul

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT