Pandemi covid-19 menyebabkan kondisi semakin terbatasnya ruang gerak dan akses masyarakat di berbagai sektor memaksa masyarakat untuk dapat beradaptasi ditengah kondisi pandemi dengan adaptasi kebiasaan baru. Hal ini terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, mereka semua dalam kondisi dan situasi yang sama, yakni ˜pandemi™. Hasil riset Komnas Perempuan pada rentan waktu April “ Mei 2020 melaporkan bahwa perempuan lebih rentan stress dimasa pandemi covid-19 daripada laki-laki karena salah satunya banyak perempuan harus memikul beban ganda (double burden). Hasil kajian tersebut menyebutkan, perempuan menyatakan beban pekerjaan rumah tangga semakin meningkat dimasa pandemi, beban pengeluaran sehari-hari semakin banyak sedangkan pemasukan semakin kecil, dan kekhawatiran akan kehilangan pekerjaannya atau suami kehilangan pekerjaan. Ironi kondisi perempuan di masa pandemi seperti saat ini harus menjadi perhatian dari berbagai pihak, tidak terkecuali organisasi perempuan yang bersentuhan secara langsung dengan anggotanya, salah satunya ˜Aisyiyah yang sejak tahun 1923 konsisten dalam ikhtiar pemberdayaan dan pemandirian perempuan dengan semangat pemberantasan kebodohan dengan peningkatan kualitas pengetahuan perempuan. Salah satu gerakan yang dilakukan ˜Aisyiyah, khususnya di Jawa Timur pada masa pandemi antara lain adalah pendampingan dan penguatan terhadap keluarga kader di masa pandemi. Tabligh atau Syiar yang kemudian dapat kita maknai sebagai jenis Information Sharing merupakan upaya yang dilaksanakan oleh gerakan Aisyiyah. Adapun secara esensial yang dilakukan oleh ˜Aisyiyah tersebut selaras dengan pemikiran Erich Fromm tentang rasa tanggung jawab, cinta dan kasih antar sesame yang dapat direpresentasikan antara ˜Aisyiyah dengan seluruh kadernya, apa yang dilakukan oleh ˜Aisyiyah merupakan bentuk cinta-kasih dan tanggung jawab untuk saling menguatkan dan melindungi dimasa pandemi seperti ini, Fromm (2005) memaknai hakikat cinta sebagai sikap dan orientasi watak, salah satunya adalah bentuk cinta persaudaraan seperti yang dilakukan oleh ˜Aisyiyah.
Kondisi Tabligh ˜Aisyiyah di Masa Pandemi
Secara umum, konsep Tabligh merupakan kegiatan menyampaikan informasi atau ajaran mengenai agama islam serta mengajak dan memberikan contoh kepada orang lain agar mau melakukan perbuatan yang benar di kehidupan sehari-hari atau sering disebut dengan syiar/pengajian. Indikator/kriteria Tabligh (Syiar/Pengajian) di ˜Aisyiyah yaitu sikap yang baik, sabar dan ikhlas; menggunakan bahasa yang mudah dimengerti; mengutamakan musyawarah; materi yang disampaikan harus memiliki dasar yang kuat dalam islam; serta tidak menyampaikan hasutan agar saling berselisih. Namun, kondisi pandemi memaksa ˜Aisyiyah untuk menggunakan Tabligh sebagai sarana perlawanan bersama terhadap pandemi dengan ilmu dan pengetahuan yang cukup. Salah satu gambaran Tabligh dimasa pandemi adalah penyesuaian kegiatan, dari yang semula tatap-muka, berubah menjadi daring dengan pembahasan-pembahasan terkait ketahanan kader terhadap masa pandemi.
Adapun berbagai materi yang menjadi substansi Tabligh antara lain dorongan untuk tetap kuat menghadapi Covid-19 dengan tidak meninggalkan Al Quran dan Sunnah, disamping itu, wilayah substansi yang lebih praktis adalah mengedepankan hal-hal yang dilakukan sehari-hari seperti panduan ibadah serta protokol kesehatan yang harus dipahami masyarakat dalam menghadapi pandemi. Penyesuaian kegiatan Tabligh lainnya adalah masalah waktu pengajian atau pertemuan yang semula dilakukan dua kali sebulan menjadi hanya sekali sebulan. Adapun gerakan-gerakan lain, selain Tabligh yang masih konsisten dilakukan salah satunya adalah ˜Gerakan Ta™awun™ yang dimulai sejak awal pandemi bulan April 2020 dengan memberikan bantuan terhadap masyarakat terdampak pandemi seperti bantuan sembako, dan barang-barang yang dibutuhkan sehari-hari.
Dampak yang terjadi setelah kegiatan Tabligh ˜Aisyiyah
Setidaknya, ada dua hal yang menjadi dampak dari peralihan model kegiatan Tabligh yang dilaksanakan ˜Aisyiyah, antara lain masih banyak kader di daerah yang memiliki keterbatasan akses seperti sinyal, kemampuan, dan lain sebagainya.
Namun, dampak positif yang dihasilkan juga cukup banyak, antara lain berkurangnya biaya operasional dan akomodasi untuk melaksanakan kegiatan secara daring, disamping makin banyak ilmu dan pengetahuan yang tersampaikan dengan bantuan visualisasi dan berbagai metode digital sehingga kader ˜Aisyiyah dapat memahami dan menerapkan secara baik.
Adapun, bentuk dukungan yang dilakukan pimpinan sebagai luaran dari aktivitas Tabligh ini antara lain mengkomunikasikan ke rumah sakit untuk isolasi kemudian mereka juga memperhatikan nutrisinya dan dipantau sampai 14 hari. Terkait dengan tanggung jawab responsibilitas Pimpinan Daerah ˜Aisyiyah terhadap kadernya yang terpapar yaitu dengan cara mengawal dari isolasi mandiri, mencarikan rumah sakit, mengadakan swab masal gerakan vaksin dan sebagainya. Usaha yang dilakukan pimpinan tersebut dilakukan untuk ˜mengikhtiarkan™ keselamatan dan kesehatan kadernya.
Penulis: Dr. Tri Soesantari, Dra., M.Si.
Jurnal: https://vc.bridgew.edu/jiws/vol24/iss8/11/





