Depresi adalah gangguan mendasar yang ditandai dengan perubahan suasana hati atau afek ke arah depresi dengan atau tanpa kecemasan. Gangguan depresi pada anak-anak dan remaja seringkali tidak terdeteksi atau diobati. Gangguan depresif dini pada anak-anak dan remaja seringkali berupa keluhan perilaku dan fisik, yang mengaburkan gejala depresi seperti yang terlihat pada orang dewasa. Keluhan depresi pada anak dan remaja dapat muncul seperti mood mudah tersinggung atau rewel, kebosanan kronis, atau kehilangan minat terhadap aktivitas hiburan yang menyenangkan. Pasien juga dapat menarik diri dari lingkungan sosial seperti tidak mau bergaul dengan teman dan menghindari sekolah yang dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik. Masalah lain seperti perubahan pola tidur-bangun, seringnya keluhan nyeri fisik yang tidak dapat dijelaskan, masalah perilaku, dan penyalahgunaan obat dapat terjadi akibat depresi.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa prevalensi depresi dapat bervariasi menurut usia, dengan angka tertinggi dilaporkan pada orang dewasa yang lebih tua (>7,5% pada wanita usia 55-74 tahun dan >5,5% pada pria). Data Riskesdas tahun 2018 menyebutkan prevalensi depresi pada penduduk usia 15 tahun di Indonesia sebesar 6,1%. Kejadian depresi pada anak dilaporkan juga terjadi pada pasien Diabetes Mellitus Tipe I (T1DM). Penatalaksanaan farmakologi dan non farmakologi dapat diberikan pada kondisi ini (World Health Organization, 2017). Pengobatan juga tergantung pada derajat depresi, seperti ringan, sedang, dan berat.
Obat antidepresan dapat digunakan sebagai modalitas pengobatan awal untuk pasien dengan episode depresi ringan, sedang, atau berat. Berdasarkan Mojtabai & Olfson (2008), antidepresan generasi kedua, seperti SSRI dan SSNRI adalah agen farmakologis yang paling sering digunakan dalam pengobatan gangguan depresi mayor akut (MDD) (Gartlehner et al., 2017). Pilihan pengobatan farmakologis sebagai modalitas untuk mengobati depresi didasarkan pada riwayat gejala klinis yang berespon positif terhadap terapi antidepresan, depresi sedang hingga berat, gangguan tidur atau kehilangan nafsu makan yang signifikan, agitasi, preferensi pasien, dan antisipasi kebutuhan untuk perawatan. terapi (American Psychiatric Association, 2000).
Cognitive-behavioral therapy (CBT) merupakan bagian dari salah satu terapi nonfarmakologi yang dapat digunakan sebagai pendekatan terapi depresi pada anak. Model CBT mengusulkan bahwa kognisi dapat memediasi hubungan antara situasi dan reaksi perilaku, emosional, dan fisiologis. Oleh karena itu, tujuan terapi berbasis CBT adalah untuk membangun hubungan antara kognisi dan perilaku sehingga jelas bagi individu dan individu tersebut menjadi sadar. Dengan demikian, individu dapat memperbaiki pola berpikir maladaptif. Manajemen T1DM meliputi pemberian insulin, manajemen diet, olahraga, pendidikan, dan pemantauan diri. Pemberian insulin bertujuan untuk memastikan bahwa kadar insulin cukup dalam tubuh selama 24 jam untuk memenuhi kebutuhan metabolik, baik diberikan sebagai insulin basal maupun insulin terkoreksi dengan kadar yang lebih tinggi (bolus) karena efek glikemik makanan (Yati & AAP, 2017).
Pasien adalah seorang gadis berusia 13 tahun, Hindu, Bali. Saat ini kelas 2 SMP, belum menikah, dan berstatus pelajar. Pasien dirujuk ke bagian psikiatri dengan keluhan sedih. Pasien mengalami perubahan perilaku setelah mengeluh nyeri saat ini (Rodin et al., 2002; Kakleas et al., 2009). Pasien menjadi pendiam dan jarang bersosialisasi. Kesadaran pasien masih jernih dan tidak ada kesulitan dalam berbicara. Pasien merasa sedih yang dimulai 3 bulan yang lalu dan memburuk dalam 2 minggu terakhir saat berkunjung ke rumah sakit. Pasien menjadi sedih disertai perasaan lelah dan pandangan masa depan yang suram. Pasien khawatir sakitnya tidak kunjung sembuh. Pasien juga mengalami gangguan tidur akibat memikirkan nyeri disertai penurunan nafsu makan (Laraeni et al., 2021; Mustika et al., 2016).
Pasien didiagnosis DMT1 pada Januari 2019. Pasien dirawat di RSUP Sanglah pada Maret 2020. Keluhan awal mual, muntah, diare sekali, disertai sakit kepala. Selanjutnya, hasil pemeriksaan darah menunjukkan adanya peningkatan gula darah. Pasien tampak mengalami perubahan perilaku seperti menyendiri dan tampak sedih sejak sakit. Oleh karena itu, pasien dikonsultasikan oleh dokter spesialis anak ke dokter spesialis psikiater di Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Universitas Negeri pada 23 Oktober 2021. Setelah dilakukan pemeriksaan kejiwaan, pasien mendapatkan terapi fluoxetine 10 miligram setiap 24 jam secara intraoral, diminum setiap malam. . Menurut ibunya, pasien lahir normal dan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Pasien dikatakan tidak pernah ketinggalan kelas di sekolah. Pasien adalah anak ke-3 dari empat bersaudara. Pasien adalah anak yang tertutup dan ketika ada masalah, pasien lebih cenderung menyimpan masalahnya sendiri. Kadang-kadang, pasien sulit diatur jika disuruh oleh ibunya (Rechenberg & Koerner, 2021; de Groot et al., 1999).
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status fisik dalam batas normal, status gizi baik, dan status umum dalam batas normal. Pemeriksaan status psikiatri didapatkan penampilan wajar, kontak visual adekuat, kesadaran jernih, dan mood/efek sedih/depresif. Proses berpikir logis, realistis, koheren, dan tidak ada ide yang aneh. Kemudian, tidak ada persepsi halusinasi dan ilusi. Ada riwayat insomnia tipe campuran. Mekanisme pertahanan diri adalah represi. Kemudian dari pemeriksaan status generalis tidak ditemukan kelainan. Hasil laboratorium PK (11/12/2021: HbA1C 13,8%).
Diagnosis pasien ini menurut Pedoman Klasifikasi dan Diagnosis Gangguan Jiwa Indonesia III (PPDGJ-III) Aksis I adalah Episode Depresif Sedang Tanpa Gejala Somatik (F32.10). Pada Axis II ceria dan mudah bergaul, mekanisme pertahanan ego adalah represi. On-Axis III adalah T1DM dengan riwayat ketoasidosis diabetik sedang. Masalah Axis IV dengan penyakit dan pada Axis V, skor GAF pada pemeriksaan 60-51 dan GAF selama 1 tahun terakhir. Pasien diberikan terapi farmakologi Fluoxetine 10 miligram setiap 24 jam intraoral (pagi hari), sedangkan terapi non farmakologi yang diberikan adalah psikoterapi suportif dan terapi perilaku kognitif. Berdasarkan terapi pediatrik, injeksi Novorapid 8-15-8 unit, injeksi Levemir 14 unit, dan metformin 500 miligram setiap 12 jam diberikan secara intraoral. Keluarga juga diberikan psikoedukasi oleh psikiater (d’Annunzio et al., 2020; Valerio et al., 2007).
Pasien berjenis kelamin perempuan, 13 tahun, berat badan 21 kg, tinggi 146 cm, Hindu, Bali, SMP di Ubud Bali. Pasien dirujuk ke bagian psikiatri dengan keluhan sedih. Pasien mengalami perubahan perilaku setelah mengalami penyakit ini. Penderita menjadi pendiam dan jarang bersosialisasi, namun kesadaran tetap jernih, dan tidak kesulitan berbicara. Kesedihan pasien dimulai pertama kali sejak 3 bulan lalu dan semakin parah dalam 2 minggu terakhir saat berkunjung ke rumah sakit. Penderita mengalami perubahan perasaan menjadi sedih dan mudah lelah. Pasien juga khawatir masa depannya suram dan sakitnya tidak kunjung sembuh. Gangguan tidur juga terjadi karena memikirkan penyakitnya dan penurunan nafsu makan (Kakleas et al., 2010; Zuo et al., 2020). Hasil pemeriksaan darah Hba1C menunjukkan peningkatan glukosa darah. Riwayat diagnosis DM tipe 1 sejak Januari 2019. Kasus ini menurut PPDGJ III dan DSM V didiagnosa sebagai episode depresi sedang tanpa gejala somatik (F32.10). Dalam hal ini, pasien mengalami perubahan perilaku yang terlihat sedih dan mudah lelah. Pasien juga merasa tidak ada harapan untuk sembuh dari penyakitnya saat ini dan memiliki keinginan untuk bunuh diri karena putus asa, namun pasien tidak melakukan percobaan bunuh diri. Pasien mengalami gangguan tidur dan nafsu makan menurun. Hal ini menyebabkan pasien harus diberikan terapi farmakologi dan non farmakologi. Pasien diberikan terapi farmakologi dengan Fluoxetine 10 miligram, setiap 24 jam, secara oral (pagi). Sedangkan terapi nonfarmakologi yang diberikan adalah psikoterapi suportif dan psikoterapi kognitif. Keluarga pasien juga diberikan psikoedukasi (Riquetto et al., 2015; Babatzia et al., 2020).
Berdasarkan analisis psikodinamik, ditemukan beberapa faktor biologis pada pasien ini, seperti adanya gula darah yang tidak stabil dengan diagnosis DMT1. Faktor biologis ini membuat pasien merasa sedih dan menimbulkan pikiran maladaptif. Dari segi psikologis, pasien merasa orang tuanya berbeda. Dia membutuhkan perhatian kasih sayang dari orang tuanya dan keluarga inti. Dari segi sosial, pasien mulai merasa tidak nyaman saat bermain dengan teman-temannya. Dia khawatir dia tidak akan bisa mengobrol dan bermain dengan teman-temannya lagi. Dalam laporan kasus ini dapat disimpulkan bahwa episode depresif sedang dengan T1DM pada anak perlu ditangani dengan tepat (Ruiz, 2000; Riskesdas, 2018). Pengobatan harus terdiri dari terapi farmakologis dan non-farmakologis.
Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)
Untuk lebih detail terkait Signs and Symptoms of Depression in Children and Adolescents with Type 1 Diabetes Mellitus dapat mengunjungi





