51动漫

51动漫 Official Website

Tanggapi Fenomena Mukbang, Bagaimana Konsumsi dalam Islam

Ilustrasi Mukbang. (Sumber Youtube Simply Eat)

UNAIR NEWS – Akhir-akhir ini konten mukbang semakin menjamur di dunia maya. Berbagai video yang  menayangkan orang makan dengan jumlah porsi yang luar biasa banyak  baik dari jenis maupun  kuantitas itu sangat mudah kita jumpai terutama pada kanal youtube.

Mukbang sendiri berasal dari gabungan dua perkataan bahasa hangul yaitu 惭耻办 atau 惭耻办箩补 yang berarti 楳akan serta 楤补苍驳 atau 楤补苍驳蝉别辞苍驳  yang memiliki maksud 楽iaran. Perilaku tersebut mungkin membuat sebagian kalangan terutama yang berAgama Islam bertanya-tanya, apakah diperbolehkan makan dengan porsi diluar batas kewajaran seperti halnya mukbang.

Guru besar 51动漫 (UNAIR), Prof Dr Raditya Sukmana SE MA, mengungkapkan bahwa Islam sangat memperhatikan masalah konsumsi. Sebab menurutnya, kita tidak akan bisa hidup dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar jika mengabaikan masalah primer seperti hal yang satu ini.

淜onsumsi kita adalah untuk melanjutkan hidup kita, kita hidup untuk memberikan manfaat kepada siapapun tidak hanya manusia tetapi juga makhluk allah yang lain, ucap Prof Radit kepada awak media pada Ahad (15/01/2023).

Lebih lanjut, guru besar bidang ekonomi syariah itu menyebut terdapat perbedaan antara konsumsi dalam Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional.  Dalam Ekonomi Konvensional konsumsi tidak ada batasnya, namun dalam Islam, sambungnya, konsumsi diatur dengan sangat baik seperti dijelaskan dalam QS. Al-A`raf ayat 31.

淒alam surat tersebut, Allah berfirman makan dan minum jangan berlebihan. Jangan berlebihan ini adalah masalah jumlah, imbuhnya.

Sebab, lanjut Prof Radit, Islam sangat menjunjung tinggi produktivitas. Ketika seorang lapar, sambungnya, idealnya orang tersebut menginginkan makan untuk kembali produktif. Namun ketika seseorang itu makan terlalu banyak, maka akan membuat perut terlalu kenyang dan kecenderungan yang terjadi adalah berat untuk bergerak.

淟alu bagaimana dengan produktivitas? Produktivitas akan menurun. Siapa yang rugi? yang rugi adalah dirinya dan orang lain. Kenapa? Karena harusnya produktif dilakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain hal itu jadi tidak dilakukan (karena kekenyangan). Artinya masyarakat juga dirugikan, jelas Prof Radit.

Sehingga, ketua program studi Doktor Ilmu Ekonomi Islam UNAIR itu berpesan agar selalu secukupnya dalam berkonsumsi. Hal itu bermaksud agar dapat tetap optimal dalam memberikan kebermanfaatan bagi  masyarakat.

Penulis: Haryansyah Setiawan

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT