Permasalahan lingkungan dan ekonomi menjadi perhatian utama banyak negara, termasuk Amerika Serikat (AS). Sebagai salah satu kontributor terbesar emisi gas rumah kaca, AS memiliki tanggung jawab besar dalam isu perubahan iklim. Pertumbuhan ekonomi yang pesat diiringi oleh peningkatan konsumsi energi dan aktivitas industri telah menempatkan negara ini sebagai salah satu penghasil emisi karbon terbesar di dunia. Sebuah studi terbaru yang berjudul 淒eterminants of environmental sustainability in the United States: analyzing the role of financial development and stock market capitalization using LCC framework yang merupakan kolaborasi dari beberapa peneliti dari berbagai universitas di dunia termasuk Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Ekonomi Pembangunan, mengeksplorasi bagaimana perkembangan keuangan, kapitalisasi pasar saham, keterbukaan perdagangan, dan industrialisasi mempengaruhi keberlanjutan lingkungan di Amerika Serikat dari tahun 1990 hingga 2022.
Penelitian ini menggunakan konsep Load Capacity Factor (LCF) sebagai indikator untuk menilai keseimbangan antara kapasitas lingkungan yang tersedia dan tingkat konsumsi sumber daya manusia. LCF dihitung sebagai rasio antara biocapacity per kapita yaitu kemampuan alam untuk mendukung kehidupan dengan ecological footprint per kapita yaitu jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh manusia. Dalam hal ini, semakin tinggi nilai LCF maka akan semakin baik bagi lingkungan, dan sebaliknya. Selain itu, penelitian ini juga menguji hipotesis Load Capacity Curve (LCC), yang menggambarkan hubungan berbentuk U antara LCF dan pendapatan per kapita. Pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan cenderung memperburuk kualitas lingkungan karena tingginya konsumsi sumber daya dan produksi. Namun, ketika pendapatan mencapai titik tertentu, kesadaran akan pentingnya keberlanjutan meningkat, yang pada akhirnya dapat memperbaiki kondisi lingkungan.
Perkembangan keuangan (financial development/FD) menjadi salah satu fokus penelitian ini. Variabel ini dinilai penting karena liberalisasi sistem keuangan dapat menarik investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dan meningkatkan investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun, perkembangan keuangan ini juga menimbulkan dampak negatif. Selain dapat membawa kemajuan ekonomi sehingga membuka peluang untuk investasi di teknologi ramah lingkungan, peningkatan aktivitas ekonomi seringkali terkait dengan konsumsi energi yang lebih besar, yang berujung pada polusi industri dan degradasi lingkungan. Dalam penelitian ini, hasil estimasi menunjukkan bahwa perkembangan sektor keuangan di AS berkorelasi negatif dengan LCF. Hal ini menunjukkan bahwa ekspansi sektor keuangan yang tidak memperhatikan keberlanjutan justru dapat memperburuk kondisi lingkungan, ini bisa terjadi ketika investasi lebih difokuskan pada perusahaan yang menghasilkan emisi tinggi tanpa mempertimbangkan dampak ekologisnya.
Penelitian ini juga menggunakan variabel Kapitalisasi pasar saham (stock market capitalization/SMC). Kapitalisasi pasar saham merupakan indikator penting dalam penelitian ini, karena sebagai saluran yang menghubungkan sumber daya keuangan dengan berbagai pelaku ekonomi sehingga dapat mempercepat kegiatan ekonomi. Namun, penelitian ini mengungkapkan bahwa peningkatan kapitalisasi pasar saham di AS cenderung memperburuk kondisi LCF dalam jangka panjang. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan yang berfokus pada keuntungan jangka pendek yaitu cenderung berinvestasi pada sektor-sektor yang menguntungkan secara finansial tetapi tidak ramah lingkungan.
Selain itu, variabel Keterbukaan perdagangan (trade openness) juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Dalam hal ini, peningkatan dalam ekspor dan diversifikasi ekonomi dapat meningkatkan pendapatan negara. Namun, peningkatan aktivitas perdagangan ini juga menyebabkan konsumsi energi yang lebih besar dan peningkatan emisi. Penelitian ini menemukan bahwa keterbukaan perdagangan di AS memiliki dampak negatif terhadap LCF, hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan produksi untuk ekspor seringkali menyebabkan degradasi lingkungan.
Berbeda dari variabel-variabel sebelumnya, variabel industrialisasi menunjukkan hasil yang positif. Dalam penelitian ini, hasil estimasi menunjukkan bahwa industrialisasi yang dikelola dengan baik dapat meningkatkan LCF. Hal ini dapat terjadi ketika industri menerapkan teknologi bersih dan metode produksi yang efisien. Oleh karena itu, industri yang beradaptasi dengan teknologi hijau dapat meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban pada lingkungan.
Dari berbagai penjelasan yang dipaparkan diatas, penelitian ini menawarkan beberapa rekomendasi kebijakan penting. Dalam hal ini, Pemerintah Amerika Serikat perlu mendorong sektor keuangan dan pasar saham untuk mendukung investasi dalam teknologi ramah lingkungan, seperti energi terbarukan. Selain itu, regulasi yang ketat terhadap emisi industri juga penting dalam memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak diiringi dengan degradasi lingkungan. Selain itu, kebijakan perdagangan perlu difokuskan pada produk-produk yang mendukung keberlanjutan. Sebagai salah satu negara dengan ekonomi paling maju di dunia, Amerika Serikat memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Jurnal selengkapnya:
Oleh
Miguel Angel Esquivias





