Perubahan iklim telah menjadi masalah global yang mendesak, dengan emisi karbon dioksida (CO2) sebagai salah satu penyebab utama. Dalam hal ini, aktivitas sehari-hari kita yang menggunakan bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak untuk listrik, transportasi, atau industri akan menghasilkan gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. Dampak pemanasan global ini sangat luas dan mendalam. Sehingga diperlukan mitigasi yang efektif dalam mengendalikan emisi CO2 dengan menggunakan strategi komprehensif yang menggabungkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan keterjangkauan dan efisiensi energi bersih. Banyak negara sedang berjuang mencari solusi energi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi disaat yang sama tidak memperparah krisis iklim. Hal ini memerlukan perhatian intensif dari berbagai pihak untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kondisi lingkungan. Lalu bagaimana hal ini dapat terwujud? Sebuah studi terbaru yang berjudul 淎nalyzing the environmental impact of fuel switching: Evidence from ARDL analysis for policy considerations yang merupakan kolaborasi dari beberapa peneliti dari berbagai universitas di dunia termasuk Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Ekonomi Pembangunan, menemukan bagaimana pergantian energi bahan bakar seperti minyak dan batubara ke energi terbarukan seperti gas alam akan mengurangi emisi CO2.
Dalam hal ini, gas alam merupakan salah satu opsi yang dapat digunakan. Meskipun tidak sebersih energi terbarukan seperti angin atau matahari, gas alam menghasilkan lebih sedikit emisi CO2 dibandingkan batu bara atau minyak. Dalam studi ini, peneliti melihat bahwa peralihan dari bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara ke gas alam di Malaysia dapat menjadi solusi sementara yang efektif dalam mengurangi emisi karbon sampai energi terbarukan lebih banyak digunakan.
Dalam studi yang dilakukan, para peneliti memperkenalkan konsep Fuel Switch Variable (FSV), yang mewakili rasio konsumsi gas terhadap konsumsi minyak dan batu bara, untuk mengukur dampak peralihan dari bahan bakar yang lebih kotor ke yang lebih bersih. Dengan menggunakan data dari tahun 1980-2020, studi ini menemukan bahwa peningkatan penggunaan gas alam dibandingkan minyak dan batu bara dapat membantu mengurangi emisi CO2. Studi ini juga menggunakan model ARDL untuk menilai hubungan antara peralihan bahan bakar, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan populasi, emisi CO2.
Hasil studi mengungkapkan bahwa peralihan energi ke gas alam secara signifikan terbukti mengurangi emisi CO2. Namun pertumbuhan populasi dan ekonomi meningkatkan emisi CO2. Hal ini dapat terjadi karena ketika perekonomian tumbuh, permintaan akan energi meningkat. Dengan meningkatnya konsumsi energi, lebih banyak bahan bakar yang dibakar, dan emisi karbon juga bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gas alam dapat membantu mengurangi emisi CO2, pertumbuhan ekonomi dan populasi tetap menjadi faktor utama yang meningkatkan polusi karbon di Malaysia. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menemukan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai tindak lanjut dari temuan penelitian ini, kebijakan yang mendukung peralihan bahan bakar dari minyak dan batu bara ke gas alam sangatlah penting untuk mengurangi emisi CO2. Pemerintah dapat memberikan insentif seperti subsidi dan potongan harga untuk mendorong rumah tangga dan industri beralih ke gas alam, serta meningkatkan infrastruktur gas agar lebih mudah diakses. Selain itu, kebijakan yang mengintegrasikan efisiensi energi dengan pajak karbon akan mendorong perusahaan untuk mengadopsi teknologi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Penerapan standar efisiensi energi yang ketat dan dukungan untuk riset dan pengembangan teknologi gas akan mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih. Hal ini memungkinkan Malaysia mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dengan lebih efektif.
Jurnal : https://doi.org/10.1016/j.sftr.2024.100317
Oleh Dr. Miguel Angel Esquivias





