Kader kesehatan merupakan elemen masyarakat yang paling dekat dengan keluarga dan pasien serta berperan penting dalam menghubungkan pelayanan kesehatan dengan pasien dan keluarga. Kader berfungsi sebagai staf pembantu Puskesmas dalam menjalankan tugasnya, seperti mendampingi pasien gangguan jiwa dan keluarga yang merawatnya. Kader adalah anggota masyarakat awam yang mendapat pelatihan khusus dan menjadi relawan atau dibayar secara insidentil dan bersedia bekerjasama dengan sistem pelayanan kesehatan setempat baik di pedesaan maupun perkotaan. Kader berperan penting sebagai garda depan yang dapat membantu komunitas rentan, termasuk pasien gangguan jiwa dan keluarganya, untuk mengakses layanan kesehatan mental dan membantu dalam identifikasi dini gangguan kesehatan dan mental di masyarakat. Saat ini, kader kesehatan menghadapi tantangan seperti penolakan dari pasien dan keluarga. Keluarga seringkali menolak bantuan CHW karena khawatir masyarakat akan mengetahui kondisi kesehatan mental pasien. Penolakan ini menghalangi kemampuan CHW untuk memberikan dukungan menyeluruh dan efektif kepada individu yang mengalami gangguan kesehatan mental.
Kajian secara kualitatif telah dilakukan dari berbagai desa di tiga kota di Indonesia, yaitu kota Banda Aceh, kota Yogyakarta dan kota Surabaya. Sebanyak empat puluh kader kesehatan berpartisipasi dalam diskusi kelompok terfokus. Data yang disampaikan di analisis menggunakan metode analisis fenomenologis interpretatif. Hasil kajian didapatkan bahwa kader menghadapi tantangan berupa stigma keluarga dan terbatasnya pemahaman mengenai gangguan mental. Sementara itu kader juga berupaya mengatasi tantangan dengan cara menjaga motivasi diri, menumbuhkan efikasi diri, dan menggunakan keterampilan komunikasi saat mendekati keluarga dan pasien. Kader menyampaikan berbagai ekspresi keluarga yang memungkinkan mereka memahami stigma keluarga mengenai kondisi pasien. Selain itu, kader seringkali menghadapi tantangan internal, seperti terbatasnya pengetahuan tentang gangguan kesehatan mental saat menjalankan tugasnya. Kader yang merupakan tenaga sukarela menyadari berbagai tantangan tersebut dan memiliki startegi khusus untuk tetap mau melaksanakan tugasnya. Kader berupaya untuk menjaga motivasi dalam membantu orang lain dan menawarkan solusi khususnya yang melibatkan masalah kesehatan mental. Keyakinan dalam melakukan yang terbaik memperkuat tekad para kader untuk terus memenuhi tanggung jawab mereka. Kader sering mengalami kesulitan mengumpulkan informasi yang akurat, karena keluarga merasa malu untuk menceritakan situasi mereka kepada orang di luar keluarga mereka. Untuk mengatasi masalah ini, kader menerapkan berbagai strategi komunikasi, termasuk mencari informasi rinci, mendengarkan secara aktif, dan mengklarifikasi pernyataan ambigu dari anggota keluarga.
Peningkatan keterampilan dan pemberdayaan kader kesehatan membantu meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendukung kader kesehatan melalui program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan mental dan keterampilan komunikasi, serta mengurangi stigma keluarga.
Penulis: Dr. Rizki Fitryasari Patra Koesoemo, S.Kep., Ns., M.Kep.
Link:
Baca juga: Literasi Kesehatan Mental Calon Pengantin dalam Persiapan Pernikahan





