Sonchus arvensis L. atau tempuyung Adalah tanaman obat popular di Pulau Jawa. Sonchus arvensis Linnaeus subsp. arvensis (perennial sow-thistle) adalah anggota famili Asteraceae yang tumbuh liar di seluruh wilayah beriklim sedang Eurasia, dengan akar yang dalam dan kuat. Di luar wilayah asalnya, tanaman ini merupakan spesies invasif yang sukses, telah dinaturalisasi secara luas dan dianggap sebagai gulma berbahaya di Amerika Utara dan Australia. Penyebarannya baru-baru ini ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menimbulkan potensi ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan pertanian lokal. Di Jawa, S. arvensis ditemukan di lingkungan yang terganggu, tumbuh subur di sepanjang tepi jalan, di ladang, dan di zona riparian, di mana pertumbuhan kompetitif dan kemampuan adaptasinya memungkinkan tanaman ini untuk mendominasi. Tanaman ini mampu bereproduksi secara vegetatif dan menghasilkan biji dalam jumlah besar, dengan satu tanaman dapat menghasilkan hingga 60.000 biji, yang memfasilitasi penyebarannya yang cepat di wilayah baru.
Meskipun berstatus sebagai gulma invasif, di Indonesia, tanaman ini (dikenal secara lokal sebagai tempuyung) juga digunakan dalam pengobatan tradisional, direbus untuk mengobati pembengkakan, batu ginjal, dan hipertensi. Bukti dari studi yang dipandu bioaktivitas mengkonfirmasi adanya fitokimia terapeutik, seperti lakton sesquiterpen, asam fenolik, dan glikosida flavonoid, yang memiliki efek antiinflamasi, antihipertensi, dan antioksidan. Peran ganda sebagai ancaman invasif dan sumber daya obat menciptakan tantangan pengelolaan yang kompleks, yang membutuhkan identifikasi yang akurat.
Tantangan ini diperparah oleh kesamaan morfologi yang luas dalam genus Sonchus. Khususnya di Jawa, S. arvensis sulit dibedakan baik dari kerabat introduksi seperti S. oleraceus dan S. asper, maupun dari spesies asli Jawa berdasarkan morfologi daun, lateks, dan struktur bunga saja. Lebih lanjut, S. arvensis sendiri terdiri dari berbagai tingkat ploidi: tetraploid (2n = 36) dan heksaploid, yang menunjukkan garis keturunan evolusi yang berbeda dengan potensi invasif yang bervariasi. Ambiguitas taksonomi ini menggarisbawahi kebutuhan kritis akan pendekatan molekuler untuk memastikan identifikasi yang akurat, yang merupakan langkah pertama dalam strategi pengelolaan atau konservasi yang efektif.
Pengkodean DNA, menggunakan gen kloroplas rbcL dan matK seperti yang direkomendasikan oleh Consortium for the Barcode of Life, menyediakan alat yang efisien untuk identifikasi tersebut. Kombinasi rbcL yang sangat universal dan matK yang lebih bervariasi telah terbukti efektif untuk resolusi tingkat spesies di banyak kelompok tumbuhan. Di Sonchus, penanda ini telah membantu memperjelas hubungan filogenetik, misalnya, mengungkapkan bahwa spesies gulma tahunan lebih dekat hubungannya dengan spesies berkayu dari Kepulauan Canary daripada dengan tumbuhan tahunan di daratan.
Meskipun pengurutan genom kloroplas lengkap S. arvensis telah memberikan kerangka taksonomi yang kuat dalam suku Cichorieae, kegunaan lokus barcode standar (rbcL dan matK) untuk menentukan asal geografis populasi invasif dan membedakannya dari kerabat asli pada tingkat regional masih perlu dieksplorasi sepenuhnya. Ini adalah aplikasi penting untuk biologi invasi.
Bagi spesies invasif, memahami asal usul genetik populasi yang diperkenalkan dapat mengungkapkan sejarah invasinya (misalnya, introduksi tunggal vs. ganda), memprediksi perilaku ekologisnya, dan memberikan informasi tentang strategi pengendalian hayati. Lebih lanjut, mengkonfirmasi perbedaan genetik spesies invasif dari spesies asli sangat penting untuk menilai risiko seperti persaingan dan hibridisasi, yang merupakan inti dari upaya konservasi. Oleh karena itu, penelitian ini melampaui sekadar identifikasi sederhana.
Kami menggunakan analisis filogenetik rbcL dan matK untuk mencapai identifikasi molekuler definitif populasi Sonchus di Jawa dan menempatkannya dalam konteks filogenetik global. Tujuan kami adalah: (1) mengkonfirmasi identitas taksonomi populasi Jawa sebagai S. arvensis, dan (2) menilai hubungan filogenetiknya dengan aksesi global dan kerabat asli Australasia. Kami mencatat bahwa sifat konservatif dari penanda kloroplas ini membatasi kegunaannya untuk menyimpulkan jalur introduksi atau proses tingkat populasi; kegunaan utamanya di sini adalah untuk penentuan spesies yang akurat.Sonchus arvensis subsp. arvensis adalah tanaman tahunan yang berfungsi sebagai ramuan obat tradisional dan gulma invasif yang produktif. Penyebarannya baru-baru ini ke Asia Tenggara, termasuk Jawa, Indonesia, menimbulkan potensi ancaman terhadap keanekaragaman hayati asli, namun asal genetik dan sejarah invasinya di wilayah tersebut belum terkarakterisasi. Penelitian ini merupakan konfirmasi molekuler pertama S. arvensis di Jawa menggunakan barcode DNA. Meskipun telah menetapkan identitas spesies, studi genomik lebih lanjut diperlukan untuk menyelesaikan sejarah populasi, jalur penyebaran, dan dampak ekologis dari spesies invasif ini.
Oleh: Dwi Kusuma Wahyuni
Link:





