Ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu ikan hias yang sangat digemari karena keindahan warna dan bentuk siripnya. Warna yang cerah dan menarik tidak hanya menjadi daya tarik estetika, tetapi juga sangat menentukan nilai jual ikan di pasaran. Selama ini, pewarna sintetis sering digunakan untuk memperkuat warna ikan. Namun, penggunaannya menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi berdampak buruk terhadap kesehatan ikan maupun lingkungan. Melihat fenomena tersebut, sekelompok peneliti dari Universitas Brawijaya, 51动漫, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Bangka Belitung, serta Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia melakukan penelitian untuk mencari alternatif pewarna alami yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu kandidat yang menarik perhatian adalah cochineal (Dactylopius coccus), serangga kecil yang hidup pada tanaman kaktus. Serangga ini sudah lama dikenal sebagai sumber pewarna alami merah karmin (carminic acid) dan banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, hingga kosmetik. Tim peneliti mencoba memanfaatkan cochineal dalam bentuk tepung sebagai bahan tambahan pakan untuk meningkatkan kualitas warna cupang.
Dalam penelitian ini, sebanyak 60 ekor ikan cupang dipelihara selama 30 hari dengan pakan yang diformulasikan menggunakan kadar tepung cochineal berbeda, yakni 0% (kontrol), 5%, 10%, dan 15%. Warna ikan kemudian dianalisis melalui foto digital menggunakan perangkat lunak Adobe Photoshop serta pemeriksaan jaringan kulit di bawah mikroskop untuk menghitung jumlah sel pigmen (chromatophore). Kedua metode ini digunakan agar hasil pengamatan lebih objektif dan akurat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% tepung cochineal pada pakan memberikan efek paling optimal. Warna merah pada tubuh cupang terlihat lebih cerah dibandingkan perlakuan lain, dan jumlah sel pigmen pada kulit ikan juga tercatat paling banyak. Sebaliknya, pada dosis 15%, peningkatan warna tidak lagi signifikan bahkan cenderung menurun. Hal ini menandakan bahwa tubuh ikan memiliki batas kemampuan dalam menyerap dan menyimpan pigmen.
Temuan ini menjadi kabar baik bagi para peternak ikan hias. Dengan memanfaatkan sumber pewarna alami, kualitas warna ikan dapat ditingkatkan tanpa harus bergantung pada bahan sintetis yang berisiko bagi lingkungan. Selain itu, penggunaan cochineal juga sejalan dengan tren global menuju praktik akuakultur berkelanjutan atau green aquaculture. Konsumen pun semakin menyukai produk-produk yang diproses secara alami dan ramah lingkungan.
Penelitian kolaboratif lintas perguruan tinggi ini menegaskan pentingnya inovasi dalam bidang akuakultur. Pemanfaatan tepung kutu putih sebagai suplemen pakan tidak hanya meningkatkan nilai jual ikan cupang, tetapi juga mendukung pengembangan teknologi pakan hijau yang berorientasi pada keberlanjutan. Dengan langkah ini, ikan cupang Indonesia berpotensi tampil lebih menawan sekaligus ramah lingkungan di pasar global.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.





