51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Kerang Hijau (Perna viridis): Sumber bahan pangan dan Indikator pencemaran perairan

Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)
Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)

Industri perikanan merupakan sektor ekonomi yang vital di Indonesia yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan, pendapatan masyarakat pesisir, peluang kerja, dan pertumbuhan ekonomi nasional. Perkembangan pesat sektor perikanan terlihat dari peningkatan nilai produksi antara tahun 1980 dan 2012, yang menempatkan Indonesia sebagai produsen perikanan terbesar keempat di dunia攎enyumbang 4,6% dari produksi global dengan total produksi 3.067.660 ton. Hal ini menjadikan Indonesia memainkan peran penting dalam produksi protein hewani khususnya dari sektor perikanan.

Di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, ketersediaan protein hewani dari daging putih dan produk perikanan terus meningkat. Perikanan air tawar (misalnya, ikan lele dan ikan nila) dikembangkan bersamaan dengan perikanan air payau dan laut dengan produksi utama berua ikan bandeng. Di antara lima komoditas ekspor perikanan teratas攗dang, tuna, rumput laut, kepiting, dan cumi-cumi攗dang putih (Litopenaeus vannamei) memberikan pendapatan tertinggi per kilogram, mencapai sekitar USD 2.040,2 juta, atau 39% dari total nilai ekspor. Tuna dan cumi-cumi masing-masing menyumbang 14% dan 10%, sementara rumput laut dan komoditas perikanan lainnya menyumbang 5% dan 25% dari total output Industri Pengolahan Hasil Perikanan pada tahun 2020. Namun, produksi udang di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, telah menurun dalam beberapa tahun terakhir akibat penurunan kualitas air dan lingkungan, yang menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit.

Berbagai sumber polusi diyakini berkontribusi terhadap penurunan kualitas air, yang berdampak negatif pada hasil panen udang. Di antara sumber-sumber tersebut, kontaminasi logam berat攕eperti timbal (Pb), kadmium (Cd), arsenik (As), dan merkuri (Hg)攎enyebabkan ancaman serius bagi kehidupan akuatik, termasuk udang, serta menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi manusia melalui bioakumulasi dalam makanan laut. Logam berat ini berbahaya bagi kesehatan manusia, dan kehadirannya di lingkungan telah diperparah oleh industrialisasi dan aktivitas antropogenik. Polusi logam beracun di air dan udara merupakan masalah lingkungan global yang memengaruhi ratusan juta orang, terutama anak-anak. Logam berat bersifat persisten di lingkungan, sulit terurai, dan cenderung terakumulasi dalam organisme hidup, berpotensi menyebabkan konsentrasi mematikan. Paparan logam beracun seperti merkuri dan timbal dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius, termasuk nyeri perut kronis, pendarahan gastrointestinal, diare, dan gagal ginjal.

Kerang, terutama kerang hijau, diakui sebagai bioakumulator karena sifat bentiknya. Sebagai pemakan filter yang tidak selektif dengan mobilitas rendah, mussel hijau (Perna viridis) merupakan bioindikator yang efektif untuk polusi air. Jaringan tubuhnya dapat mencerminkan konsentrasi logam berat di habitatnya. Namun demikian, budidaya kerang hijau bersifat murah dan ramah lingkungan yang saat ini banyak dikebangkan di Pesisir Gresik Jawa Timur.

Berdasarkan hasil penelitian ini, konsentrasi logam berat pada tiram hijau (Perna viridis) di tiga kelompok ukuran menunjukkan bahwa akumulasi cenderung meningkat seiring dengan ukuran kerang. Kerang yang memiliki ukuran lebih besar menunjukkan konsentrasi timbal (Pb), kadmium (Cd), dan arsenik (As) yang lebih tinggi, menunjukkan korelasi positif antara ukuran tiram dan bioakumulasi logam berat. Nilai Indeks Geoakumulasi (Igeo) untuk Pb, Cd, dan As menunjukkan bahwa sedimen di wilayah studi berkisar dari tidak terkontaminasi hingga terkontaminasi sedang. Di antara indikator kontaminasi, logam berat Arsenik menunjukkan nilai Faktor Kontaminasi (CF) tertinggi (0,441), sementara Kadmium menunjukkan nilai Faktor Enrichment (EF) tertinggi (2,432), menunjukkan pengaruh antropogenik yang ringan.

Penilaian risiko kesehatan berdasarkan Estimated Daily Intake (EDI), Target Hazard Quotient (THQ), dan Hazard Index (HI) menegaskan bahwa tiram hijau dari perairan Ujungpangkah攖erlepas dari ukurannya攎asih aman untuk dikonsumsi manusia dan tidak menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Namun, penting untuk berhati-hati dan mempertimbangkan sumber seafood alternatif dengan tingkat kontaminasi logam berat yang lebih rendah, terutama bagi komunitas dengan konsumsi seafood tinggi, untuk meminimalkan paparan jangka panjang dan risiko kesehatan.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T.

Sitasi: Andriyono, S., Chandra, A., Hartanto, M. D., Dewi, N. N., Lutfiyah, L., Edinur, H. A., … & Fitrani, M. (2025). Heavy Metals Bioaccumulation in Different Sizes of the Green Mussel (Perna viridis) from Ujungpangkah Waters, Gresik, Indonesia. Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries29(4), 863-879.

Tulisan lengkap pada link:

AKSES CEPAT