51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Terapi Penderita Traumatic Brain Injury (TBI) Rhesus Negatif dengan Pemberian Transfusi Rhesus Positif

Manajemen Traumatic Brain Injury (TBI) bertujuan untuk mencegah cedera otak sekunder yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya hipoksia, hipotensi, dan anemia. Transfusi menjadi salah satu terapi untuk penderita TBI dengan anemia. Namun, terdapat risiko timbulnya efek samping yang mungkin terjadi sebagai hasil dari pemberian transfusi, terutama transfusi yang menggunakan rhesus yang berbeda.

Seorang pria dengan rhesus negatif (Rh-) berusia 33 tahun jatuh dari ketinggian 8 meter, kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat dalam keadaan tidak sadar dan syok. Resusitasi dilakukan dan terjadi peningkatan tekanan darah. Hasil pemeriksaan didapatkan kadar hemoglobin 13 g/dL. 6 jam berikutnya pemeriksaan diulangi, dan didapatkan kadar hemoglobin turun menjadi 6,2 g/dL. Pemeriksaan CT-scan menunjukkan adanya intracranial haemmorage (ICH) pada regio frontotemporal kanan. Penderita kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Setibanya di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dilakukan pemeriksaan tambahan lainnya dan didapatkan bahwa hasil pemeriksaan Focused Abdominal Scan for Trauma (FAST) tidak menemukan adanya cairan di rongga perut. Hasil rontgen pada tungkai menunjukkan adanya fraktur intertrochanter pada femur kanan. Operasi harus dilakukan untuk penanganan ICH dan fraktur pada femur kanan. Sehubungan dengan kadar hemoglobin yang rendah maka harus dilakukan transfusi. Kendalanya adalah stok darah yang ada pada saat itu, semua dengan Rh+.

Dilakukan KIE pada keluarga tentang pentingnya melakukan transfusi walaupun harus menggunakan tipe rhesus yang berbeda pada penderita. Operasi tidak bisa dilakukan apabila kadar hemoglobin terlalu rendah. Keluarga setuju, operasi evakuasi ICH dan fiksasi eksternal fraktur intertrochanter femur kanan dilakukan setelah penderita mendapatkan transfusi 1 kantung darah packed red blood cells (PRBCs). Selama operasi penderita mendapatkan transfusi 2 kantung darah PRBCs Rh+. Tidak didapatkan adanya reaksi transfusi.

Selama perawatan di ICU, penderita mendapatkan support ventilator. Diberikan cairan kristaloid sebanyak 1000 mL dalam 24 jam, antibiotik 1 g setiap 12 jam, dan nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAID) 1 g setiap 8 jam. Selain itu penderita juga mendapatkan anti-emetik, manitol 100 mL setiap 4 am dan injeksi fenitoin 100 mg tiap 8 jam sebagai pencegah terjadinya kejang. Penderian diet dimulai dengan enteral nutrisi dosis rendah.

Pada hari kedua, ditambahkan pemberian tambahan analgetik fentanil 10 µg/jam sebagai analgetik, kombinasi dengan NSAID. Penderita juga dierika transfus 1 kantung whoole blood (SWB) Rh+. Pada hari ke-4 perawatan, dilakukan operasi open reduction and internal fixation (ORIF) platting untuk fraktur intertrochanter. Selama operasi, penderita mendapatkan 2 kantung whole blood (WB) Rh-, yaitu sesuai dengan rhesus penderita. Tidak ditemukan adanya reaksi transfusi.

Rh- lebih sering ditemukan pada ras kaukasia (15%) lebih sedikit ditemukan pada komunitas orang hitam (8%), dan jarang ditemukan pada ras asia (1%). Di Indonesia sendiri hanya 1,2 juta (<1%) penduduk yang mempunyai golongan darah dengan rhesus negatif. Hal inilah yang menjadi penyebab sulitnya ketersediaan darah ataupun produk darah dengan rhesus negatif.

Pada operasi “ operasi yang sifatnya emergency seringkali penderita disertai dengan kondisi anemia yang harus segera diatasi karena meningkatkan risiko untuk perburukan kondisi penderita. Transfusi darah dengan Rh yang berbeda dari Rh penderita hanya diperkenankan untuk kondsi emergency yang membutuhkan tindakan penanganan secara cepat.

Rhesus positif mempunyai antigen yang dapat mengakibatkan bahaya bagi orang “ orang dengan rhesus negatif yang tidak memiliki antigen. Pada tahap awal, mungkin saja efek samping tidak terjadi, tetapi sistem imun akan memberikan respon dengan antigen “ antigen tersebut dengan antibodi (anti-D). Bila transfusi dilakukan lagi setelah terbentuknya anti-D maka dapat terjadi penyerangan terhadap sel “ sel darah merah.

Hal “ hal yang tidak diinginkan dapat terjadi misalnya, pembentukan klot, mismatch reaction, ataupun hemolisis sel “ sel darah merah. Hal ini secara klinis tampak sebagai jaundice dan hemoglobinuria. Reaksi yang terjadi dapat bersifat ringan, sedang, atau fatal. Pada pasien ini tidak didapatkan hal “ hal seperti komplikasi yang disebutkan. Hal ini mungkin karena transfusi dilakukan Rh- sebelum anti-D terbentuk atau anti-D sudah tereliminir ketika Rh- diberikan. Penggunaan produk darah dengan rhesus yang berbeda harus diberikan dengan hati “ hati dan pengawasan yang ketat untuk menghindari terjadinya reaksi transfusi.

Penulis: Dr. Maulydia, dr., SpAn-TI, Subsp. TI(K).

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Maulydia M, Hendriana DR. A Successful Treatment of Rhesus Positive Transfusion in Traumatic Brain Injury Patient with Rhesus Negative: A Case Report. Bali Journal of Anesthesiology. 2022; 6: 239-242; https://doi.org/10.4103/bjoa.bjoa_153_22.

AKSES CEPAT