UNAIR NEWS Pemanfaatan kekayaan alam berbasis pelestarian lingkungan menjadi bahasan hangat pada talkshow Gelar Inovasi Guru Besar yang diselenggarakan Pusat Informasi dan Humas 51动漫, Kamis (27/7).
Dalam acara tersebut, ketiga profesor yang berbagi kepakarannya adalah Prof. Dr. Herry Agoes Hermadi, drh., M.Si (Fakultas Kedokteran Hewan), Prof. Dr. Agoes Soegianto, Ir., DEA (Fakultas Sains dan Teknologi), dan Prof. Dr. H.J. Mukono, dr., MS., MPH (Fakultas Kesehatan Masyarakat).
Prof. Agoes memaparkan tentang Ekotoksikologi. Prof. Agoes menjelaskan, kajian ekotoksikologi sebenarnya amat diperlukan oleh pemerintah dalam membuat kebijakan soal lingkungan. Namun, kajian ini tak begitu berkembang di Indonesia.
Berbicara soal pelestarian lingkungan, Prof. Herry menyampaikan inovasinya berupa isi perut sapi (rumen) yang dijadikan biofermentor bermerek Aras. Rupanya, dosen FKH ini bersemangat berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
Metode seperti ini juga dapat dimanfaatkan oleh rumah potong hewan yang berbau untuk diolah kembali jadi pakan hewan ataupun biofermentor.
淒alam satu hari, para pemotong hewan bisa menyembelih sekitar seratus ekor sapi. Tak disangka, darah yang dibuang ini bisa dikembangkan menjadi pakan ternak yang memilki nilai ekonomis, imbuh Prof. Herry yang mempublikasikan penelitian berjudul 淐onversation Impact on Molecular Gentic Changes on Java Green Peacock (Pavo musticus) di jurnal Environment and Conversation Ecology.
Menghadirkan narasumber dari berbagai disiplin ilmu, Prof. Mukono membahas tentang dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia serta upaya-upaya yang harus dilakukan. Ia mengatakan, kerusakan alam yang terjadi saat ini, seperti perubahan iklim dan pemanasan global disebabkan oleh ulah manusia.
淒ampak perubahan iklim penyebabkan munculnya berbagai penyakit. Air dan makanan juga menjadi pemicu munculnya penyakit. Untuk itu diperlukan upaya manusia untuk tidak merusak alam dan lingkungan, ucap guru besar FKM.
Dihadiri oleh kalangan sivitas akademika, praktisi, pembuat kebijakan hingga wartawan memberi wawasan. Acara tersebut merupakan komitmen UNAIR dalam untuk terus berinovasi merespon permasalahan lingkungan. (*)
Penulis: Tim UNAIR News





