Penyakit kadiovaskuler adalah salah satu penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian tertinggi di negara berpenghasilan rendah. Prevalensi hipertensi di kalangan penduduk paruh baya Indonesia telah meningkat selama beberapa dekade terakhir. Faktor risiko perilaku utama yang dapat mencegah terjadi penyakitan kardiovaskuler adalah pola makan yang tidak sehat dan obesitas, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan tembakau, dan konsumsi alkohol berat. Untuk mengurangi terjadinya hipertensi terkait obesitas adalah memantau Indeks Massa Tubuh (IMT) secara berkala. Prevalensi kelebihan berat badan di Indonesia (pria: 22,5%, wanita: 29,1%) dan obesitas (pria: 8,9%, wanita: 19,6%).
Penentuan status gizi dapat dilihat dari IMT. Status gizi yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskuler adalah status gizi. Para peneliti telah menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menentukan obesitas, seperti BMI, lingkar pinggang (WC), rasio pinggang (WHR), dan rasio pinggang dengan tinggi badan (WSR). Berdasarkan Ren et al, 2016 yang menyelidiki hubungan antara pengukuran obesitas dan risiko hipertensi menggunakan BMI, WC, WHR, atau WSR, yang menghasilkan penurunan titik potong BMI menjadi 鈮 25 kg/m2 untuk obesitas.
Penduduk Asia cenderung memiliki lemak tubuh yang lebih tinggi persentase dari populasi Kaukasia pada tingkat BMI yang setara, sehingga hal ini perlu dilakukan penentuan cut-off IMT untuk penduduk Asia. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tiga klasifikasi IMT yang ditetapkan oleh WHO, Indonesia, dan kriteria Asia dalam memprediksi hipertensi pada orang Indonesia Pada Usia Dewasa Tengah dan menggunakan data survei representatif dari 13 provinsi Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2014, yang dilakukan dari September 2014 hingga Agustus 2015, untuk merencanakan strategi pencegahan yang efektif.
Pada studi ini, nilai BMI rata-rata pria dan wanita masing-masing adalah 23,7 dan 25,7 kg/m2. IMT sebesar 23,7 kg/m2 dikategorikan sebagai 渘ormal hingga kelebihan berat badan menurut kriteria WHO, dan IMT sebesar 25,7 kg/m2 dikategorikan sebagai kelebihan berat badan menurut kriteria WHO dan Indonesia. Responden sebanyak 14,6% yang mengalami hipertensi berdasarkan kategori IMT WHO (12,1% level I, 2,5% level II), 33,4% responden berdasarkan IMT Indonesia, dan 52,0% (37,5% level I, 14,5% level II) berdasarkan IMT Asia. Di sisi lain, penelitian ini menemukan 49% hipertensi pada orang dengan berat badan normal yang diklasifikasikan menurut IMT Indonesia.
Prevalensi hipertensi tetap tinggi untuk penduduk Indonesia usia dewasa tengah meskipun batas obesitas untuk IMT lebih rendah dari kriteria WHO. Perbandingan tiga IMT yang berbeda kriteria dalam penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berlipat ganda pada titik potong IMT 鈮25 kg/m2. Sensitivitas cut-off IMT 鈮25 kg/m2 poin yang diusulkan untuk orang Indonesia lebih rendah dari kriteria Asia dan sejalan dengan Pan dan rekan (2004) hasil studi serta Syaikh dan hasil studi rekan (2016). Hasil studi menyarankan untuk menurunkan cut-off mengikuti kriteria Asia karena cutoff poin yang terkait dengan kriteria WHO rendah kepekaan.
Hasil dari penelitian ini bahwa kriteria IMT menurut kategori IMT 鈮23 kg/m2 sebagai kelebihan berat badan dan 鈮25 kg/m2 sebagai obesitas merupakan cut-off yang sesuai untuk skrining awal dan akurat dari orang obesitas apodiktik dengan risiko tinggi hipertensi dan dapat dikombinasikan dengan indeks adipositas lainnya untuk mendapatkan diagnosis yang lebih baik. Temuan studi kami mendukung sudut pandang kebijakan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran populasi paruh baya mengenai pengaruh pola makan terhadap IMT.
Penulis : Tri Sutanti Puji Hartati, S.Gz dan Emyr Reisha Isaura, S.Gz., M.PH., Ph.D
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Media Gizi Indonesia (National Nutrition Journal).
Hartati, T. S. P., & Isaura, E. R. (2023). Three Body Mass Index Classification Comparison In Predicting Hypertension Among Middle-Aged Indonesians.





