UNAIR NEWS Candi Purwo diusulkan tim Kuliah Kerja Nyata-Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) 51动漫 di Banyuwangi menjadi wisata baru. Rencana tersebut muncul seusai tim menggelar penelusuran ke lokasi pada Minggu (8/7).
Nilai kesejarahan Desa Kedungasri coba digali tim yang beranggota sembilan orang itu. Selanjutnya, diharapkan hal tersebut mampu mendorong Candi Purwo menjadi alternatif wisata baru di kawasan itu.
Ide tersebut muncul ketika salah satu tim KKN-BBM Tematik 58 UNAIR diterjunkan ke Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Tim melihat adanya banyak potensi di sana. Salah satunya potensi alam. Terutama soal keindahan dan keasrian desanya.
Desa Kedungasri terdiri atas tiga dusun. Yakni, Dusun Pondokasem, Dambuntung, dan Persen. Salah satu dusun, yaitu Dusun Pondokasem, terdapat satu potensi bidang wisata. Yakni, melalui adanya Candi Purwo.
Peningkatan potensi wisata itu dilakukan tim dengan mengunjungi Candi Purwo. Didampingi Kepala Dusun Pondok Asem Parmin dan pejabat Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kedungasri Kowi, tim meneliti potensi tersebut. Turut serta dalam kegiatan itu Bejo, juru kunci Candi Purwo.
Ketua tim KKN-BBM 58 UNAIR Desa Kedungasri Ifan Haidar Ali menyampaikan, Candi Purwo belum banyak dikenal masyarakat. Selama ini, candi tersebut hanya dikunjungi umat Hindu yang akan beribadah.
滾okasinya di tengah hutan. Candi itu memiliki panorama yang cukup indah dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata, katanya.
漇ekitar Candi Purwo, terdapat gundukan tanah yang dikenal dengan sebutan Gumuk Gadung yang konon katanya tidak akan terendam oleh air meskipun air laut pasang, imbuh Haidar.
Berdasar cerita di masyarakat, candi tersebut dibangun untuk mengingat lokasi bertemunya Prabu Brawijaya dengan Sunan Kalijaga. Pertemuan itu membahas tentang isu yang menerpa Kerajaan Majapahit, bahwa Kerajaan Majapahit telah hancur diserang Kerajaan Demak. Kenyataannya, Kerajaan Majapahit hancur bukan karena diserang Demak, melainkan perang saudara.
滺ingga kini, banyak masyarakat Hindu, baik dari Banyuwangi maupun Bali yang berkunjung untuk beribadah ke candi ini, ucap Bejo.
Meski terdapat candi, mayoritas penduduk di Desa Kedungasri beragama Islam. Ada pula agama Kristen. Hal itu menunjukkan toleransi dan keberagaman di sana.
Ayu Nur Imany, salah seorang anggota kelompok KKN itu mengungkapkan bahwa nilai toleransi di Desa Kedusngasri bisa dijadikan daya tarik. Namun, bukan berarti itu hanya sebagai tontonan. Realitas keragaman tersebut bisa dijadikan penguat untuk saling menghargai dan memupuk nilai-nilai toleransi.
淭oleransi beragama menjadikan Desa Kedungasri ini tenang, tertib, serta aktif dalam menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing, tuturnya. (*)
Penulis: Siti Mufaidah
Editor: Feri Fenoria Rifa檌





