51动漫

51动漫 Official Website

Tim PKM Psikologi UNAIR Angkat Isu Eksploitasi Seksual Anak di Dunia Digital Bermodus Roleplay

Potret Lolos Pendanaan PKM-RSH Maria Vanessa Ferdianto (kiri), Fadiani Risqita Mamang (tengah kiri), Nafisa Spica Diraelanabil (tengah kanan), dan Mardhatillah Syahrani Fauziah (kanan). (Foto Istimewa).

UNAIR NEWS Mahasiswa kembali menunjukkan kepedulian akademiknya terhadap isu sosial yang kompleks. Melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), tim yang diketuai Fadiani Risqita Mamang berhasil lolos pendanaan Kemdiktisaintek 2025 dengan proposal bertajuk Roleplay to Sexplay: Menguak Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) Berkedok Roleplay dalam Dunia Virtual.

Bersama anggota tim Maria Vanessa Ferdianto, Mardhatillah Syahrani Fauziah, Nafisa Spica Diraelanabil, dan Gaby Valenia Rosa Purba, riset ini dibimbing langsung oleh Herdina Indrijati, M.Psi., Psikolog. Tim berharap dapat membawa isu ini hingga Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2025.

Riset ini berangkat dari fenomena perubahan aktivitas roleplay (RP) di media sosial yang awalnya hanya dianggap sebagai permainan atau hiburan, namun ternyata bisa berujung pada eksploitasi seksual anak secara terselubung, yang dikenal dengan Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA). Tim peneliti menemukan bahwa peran anonim, interaksi digital yang tidak terpantau, serta potensi kecanduan seksual menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku.

淢asalahnya bukan sekadar aktivitas daring, tapi bagaimana dunia maya membentuk ruang yang rentan terhadap kekerasan seksual digital, ujar Fadiani.

Kebaruan riset terletak pada pendekatannya yang mengangkat transisi dari roleplay menjadi sexplay, yang belum banyak dikaji sebelumnya. Tim pun mengembangkan alat ukur khusus untuk mendeteksi kecenderungan adiksi seksual serta menyusun strategi pencegahan yang berbasis psikologi ruang siber dan teori pilihan rasional (Rational Choice Theory).

淧endekatan kami menggabungkan perspektif psikologi, komunikasi digital, dan kriminologi untuk menghasilkan solusi yang holistik, jelas Maria.

Tantangan utama tim adalah menjangkau informan yang pernah mengalami OCSEA dengan pendekatan riset yang aman dan etis. Tim menyiapkan protokol wawancara yang ketat, supervisi psikologis, dan validasi instrumen internal.

淚su ini sangat sensitif, karena itu penting bagi kami untuk mengedepankan riset yang trauma-informed care dan tidak invasif, ungkap Mardhatillah.

Kedepan, tim berencana mengembangkan temuan riset ini menjadi skripsi, publikasi ilmiah, dan policy brief untuk lembaga perlindungan anak. Tim juga membuka kemungkinan merancang platform edukasi dan kampanye digital berbasis hasil riset.

Di akhir wawancara, tim menyampaikan pesan reflektif kepada masyarakat luas. 淭idak semua kekerasan terlihat. Di balik akun anonim, ada anak-anak yang perlahan dijerat oleh eksploitasi. Saat kita diam, kita membiarkan mereka tanpa perlindungan. Perlindungan anak bukan pilihan, tapi tanggung jawab kita bersama, tegas Gaby. (*)

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT