UNAIR NEWS – Enam kontingen 51动漫 yang tergabung dalam Unit Kegiatan Tari dan Karawitan (UKTK) berhasil memperoleh Juara I pada kompetisi tari yang diadakan oleh Universitas Indonesia, Jumat (17/3). Kompetisi tari itu bertajuk Lomba Tari National Folklore Festival Indonesia 2017.
Pada kompetisi yang dilangsungkan di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Depok itu, kontingen UKTK UNAIR berhasil memperoleh juara pertama, disusul kemudian kontingen dari Universitas Gadjah Mada pada posisi kedua, dan Universitas Negeri Jember pada posisi ketiga.
Kontingen UKTK membawakan tarian Jaripah, tarian yang mengangkat sejarah Barong dari Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi. Tarian ini menceritakan tentang seorang laki-laki dengan paras cantik, lembut, sekaligus gagah perkasa yang berkelana di wilyah masyarakat Osing. Diceritakan juga, laki-laki itu menyebarkan pesan-pesan religius dan menjadi salah satu bagian dari persebaran agama di Jawa.
Berdasarkan seleksi internal yang dilakukan, terjaring tujuh mahasiswa yang mewakili UNAIR dalam kompetisi itu. Namun, satu diantara mereka tidak dapat turut serta hingga kompetisi dilangsungkan dikarenakan sakit.
Sebagai tarian rancak, keenam penari harus menunjukan kelincahan saat membawakan tarian Jaripah. Mereka juga harus pandai memerankan dua karakter sekaligus, yaitu karakter genit dan gagah. 淜edua karakter itu jadi tantangan tersendiri bagi saya, ujar Ajeng Lailly, salah satu penari.
Kiranya, dalam waktu 1.5 bulan anggota UKTK mempersiapkan untuk unjuk gaya pada kompetisi ini. Mereka mempersiapkan dengan rinci sebelum kompetisi berlangsung, mulai dari seleksi peserta internal UKTK, latihan olah tubuh kelenturan, latihan rutin dan intensif sejak sore hingga larut pagi.
淏erproses di UKTK itu sangat luar biasa. Tidak hanya latihan saja tetapi juga belajar bagaimana menumbuhkan rasa pada tarian yang dibawakan. Apalagi waktu membawakan tarian Jaripah, dengan menjadi sosok centil (banci) dan membawa properti barong, itu menjadi tantangan terendiri bagi kami, ujar Ajeng, salah satu penari lainnya. (*)
Penulis: Disih Sugianti
Editor: Binti Q. Masruroh





