51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Status Gizi Balita Suku Tengger

Ilustrasi masyarakat Tengger. (Sumber: Merdeka Malang)

Masalah kekurangan gizi seperti stunting dan underweight masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama di wilayah terpencil dan komunitas adat seperti masyarakat Tengger di Jawa Timur. Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan yang pendek, melainkan cerminan dari kondisi kekurangan gizi kronis yang dapat memengaruhi perkembangan otak, produktivitas masa depan, serta daya tahan tubuh anak. Penelitian Muniroh dkk (2025) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat 51¶¯Âþ mengangkat bagaimana tingkat kecukupan zat gizi yang dikonsumsi balita Suku Tengger memengaruhi status gizinya, khususnya dari segi asupan makronutrien seperti energi, karbohidrat, lemak, dan protein.

Dalam studi ini, ditemukan bahwa satu dari tiga anak balita di komunitas tersebut mengalami stunting dan hampir seperempat lainnya berada dalam kategori underweight. Menariknya, dari berbagai faktor yang diteliti”seperti tingkat pendidikan dan pekerjaan orang tua, usia ibu saat melahirkan, riwayat menyusui, serta metode kelahiran”tidak satu pun yang menunjukkan hubungan signifikan dengan status gizi anak. Satu-satunya faktor yang terbukti secara statistik berhubungan dengan status underweight adalah asupan lemak harian.

Komunitas Tengger memiliki kebiasaan makan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan adat istiadat. Menu harian mereka didominasi oleh nasi aron, sayur mayur sederhana seperti sayur semen dan sup jagung, serta lauk berupa tempe goreng dan kadang-kadang ikan asin. Konsumsi makanan hewani seperti daging dan telur cukup jarang, terlebih bagi ibu menyusui dan balita yang terkadang masih mengikuti pantangan makanan tertentu. Akibatnya, variasi makanan menjadi terbatas, dan asupan zat gizi penting seperti lemak sering kali tidak terpenuhi secara optimal.

Padahal, lemak memiliki peran penting dalam pertumbuhan anak. Selain sebagai sumber energi padat, lemak juga membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K, serta menyediakan asam lemak esensial yang berperan dalam perkembangan otak dan jaringan tubuh. Ketika asupan lemak kurang, bukan hanya energi yang menurun, tapi juga risiko anak mengalami berat badan kurang (underweight) menjadi lebih tinggi. Penelitian ini menemukan bahwa anak-anak yang asupan lemaknya mencukupi cenderung memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan mereka yang kekurangan lemak.

Tingginya angka stunting dan underweight di komunitas ini memperlihatkan pentingnya pendekatan berbasis budaya dalam intervensi gizi. Masyarakat Tengger memiliki nilai-nilai tradisional yang sangat kuat, sehingga pendekatan kesehatan yang konvensional perlu disesuaikan dengan pemahaman lokal. Misalnya, memperkenalkan sumber lemak sehat yang sesuai dengan kebiasaan makan mereka, seperti penggunaan minyak kelapa, kacang-kacangan, atau olahan susu lokal dalam menu sehari-hari.

Upaya edukasi gizi juga perlu diperkuat, terutama kepada para ibu sebagai penentu utama pola makan anak di rumah. Edukasi yang dilakukan tidak hanya menekankan pentingnya makanan bergizi, tetapi juga mengajak mereka memahami cara memodifikasi makanan tradisional menjadi lebih bernilai gizi tanpa meninggalkan budaya mereka. Misalnya, menyarankan penambahan telur atau tahu dalam sup atau memasukkan sumber lemak sehat dalam makanan pendamping ASI.

Secara keseluruhan, penelitian ini menjadi pengingat bahwa pemenuhan gizi anak tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan, tetapi juga pada pola makan, budaya, dan pemahaman orang tua terhadap pentingnya asupan seimbang. Untuk menurunkan angka stunting dan underweight secara efektif, diperlukan intervensi gizi yang bukan hanya berbasis ilmu, tetapi juga berakar pada kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.

Penulis: Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes.

Untuk membaca artikel secara lengkap, dapat melalui tautan berikut:

AKSES CEPAT