51动漫

51动漫 Official Website

Tinjauan terkini tentang Penyakit Jembrana di Indonesia

Ilustrasi Sapi Ternak (Sumber: foto.bisnis.com)
Ilustrasi Sapi Ternak (Sumber: foto.bisnis.com)

Penyakit Jembrana  adalah penyakit menular yang khusus menyerang sapi Bali di Indonesia. Penyakit ini tidak menyebar ke jenis ternak lain. Penyakit ini disebabkan oleh virus Jembrana (JDV), yang termasuk dalam keluarga Lentiviridae, tergolong sebagai retrovirus. Menariknya, meskipun virus ini hanya menginfeksi sapi Bali secara klinis, hewan seperti kerbau, kambing, domba, dan babi cenderung kebal terhadap penyakit ini dan tidak menunjukkan gejala, meskipun mereka dapat menjadi pembawa virus selama hingga enam bulan. Hewan percobaan seperti kelinci, tikus putih, dan guinea pig juga tidak rentan terhadap Jembrana.

Pada sapi Bali yang terinfeksi, usia paling muda yang terdeteksi sakit adalah 4 minggu, sementara yang tertua mencapai 9 tahun. Sapi yang berhasil pulih dari Jembrana menjadi imun terhadap infeksi ulang, namun mereka tetap dapat menyebarkan virus ke sapi lain. Penyakit ini pertama kali ditemukan di District Sankaragung, Bali, pada Desember 1964, yang menyebabkan kematian massal sapi Bali di daerah tersebut. Nama 淛embrana diambil dari nama daerah di Bali tempat pertama kali muncul kasus ini.

Secara epidemiologis, penyakit ini menyebabkan tingkat kematian sekitar 20% pada sapi Bali yang terinfeksi. Saat ini, Jembrana sudah menjadi penyakit endemik di Indonesia, terutama di pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Sejak 2013, penyebarannya semakin meluas, mengindikasikan bahwa penyakit ini sudah cukup widespread. Sebelumnya, perdagangan sapi Bali dari Bali ke pulau-pulau lain maupun ekspor ke Hong Kong dan Singapura dilakukan tanpa pembatasan. Kini, perdagangan antar pulau dari daerah endemis dilarang demi mencegah penyebaran virus.

Jembrana bukanlah penyakit zoonotik攁rtinya tidak menular ke manusia攏amun dampaknya secara ekonomi cukup besar akibat tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Gejala klinis yang tampil meliputi demam, lesu, kehilangan nafsu makan, pembengkakan kelenjar getah bening superfisial, keringat berdarah, diare bercampur darah, serta produksi saliva yang berlebihan. Selain itu, infeksi ini juga menyebabkan leukopenia, trombositopenia, anemia, peningkatan kadar urea dalam darah, serta penurunan protein plasma.

Virus JDV diindikasikan menyebar melalui kontak langsung antara sapi yang sakit dan yang sehat. Infeksi secara vertikal dari induk ke anak tidak terjadi, sehingga sapi yang terinfeksi tetap dapat memiliki keturunan yang normal. Penyebaran juga diduga dilakukan melalui gigitan serangga pengisap darah seperti lalat, kutu, dan nyamuk, yang membawa virus dari satu hewan ke hewan lain. Dalam jangka panjang, metode pengukuran beban virus (viral load) melalui titrasi JDV telah menjadi standar, namun saat ini telah dikembangkan teknik lain seperti ELISA, Western blot, imunohistokimia, dan PCR untuk mendukung analisis lebih mendalam tentang dinamika virus selama proses infeksi.

Indonesia merupakan satu-satunya negara yang secara resmi dikenal memiliki penyakit Jembrana di wilayahnya, menjadikannya kasus yang unik dan menarik untuk penelitian lebih lanjut. Penanganan penyakit ini penting untuk mengendalikan penyebarannya dan melindungi industri peternakan sapi Bali yang bernilai strategis.

Tujuan dari artikel ini adalah menyajikan informasi lengkap tentang etiologi, sejarah, epidemiologi, rentang inang, patogenesis, respons imun, patologi, gejala klinis, diagnosis, transmisi, faktor risiko, dampak ekonomi, vaksinasi, dan pengendalian Penyakit Jembrana . Diharapkan, hasil kajian ini dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak, termasuk peternak, peneliti, dan pengambil kebijakan, dalam rangka mengurangi risiko dan kerugian akibat penyakit ini.

Secara umum, meskipun belum ada pengobatan spesifik, vaksinasi menjadi salah satu strategi utama dalam pencegahan Penyakit Jembrana , selain pengelolaan transportasi ternak yang ketat untuk mencegah penyebaran virus. Penyakit Jembrana  adalah tantangan kesehatan hewan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pemangku kepentingan demi keberlanjutan dan kestabilan industri peternakan di Indonesia.

Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes.

Meles DK, Khairullah AR, Utama S, Wurlina W, Mulyati S, Mustofa I, Rimayanti R, Lestari TD, Moses IB, Wibowo S, Wardhani BWK, Kurniasih DAA, Kusala MKJ, Ahmad RZ, Fauziah I, Wasito W, Akintunde AO. Jembrana Disease in Indonesia: An updated review. Open Vet J. 2025 Mar;15(3):1091-1100. doi: 10.5455/OVJ.2025.v15.i3.3. Epub 2025 Mar 31. PMID: 40276188; PMCID: PMC12017734.

AKSES CEPAT