51动漫

51动漫 Official Website

Tingkat Kesejahteraan Hewan di Kalangan Pemilik Kucing di Banyuwangi

Ilustrasi kucing (info: Kompas.com)


Konsep kesejahteraan hewan menguraikan berbagai aturan khusus mengenai bagaimana manusia harus memahami dan mengartikulasikan hubungan yang baik dengan hewan menjadi tindakan dan perlakuan yang baik, benar, dan tepat. Kesejahteraan hewan sendiri, mengacu pada kondisi fisik dan psikologis hewan menurut ukuran perilaku alaminya. Pedoman kesejahteraan hewan yang berada di bawah kendali manusia disebut “Five Freedom” (Lima Kebebasan), meliputi Kebebasan dari kelaparan, kehausan, dan malnutrisi; Bebas dari rasa takut dan kesusahan; Bebas dari ketidaknyamanan fisik dan termal; Bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit; dan Kebebasan untuk mengekspresikan pola perilaku normal. 淔ive Freedom dapat digunakan sebagai pendekatan untuk menganalisis garis besar kesejahteraan hewan, lebih lanjut dimaksudkan sebagai metode berbasis hasil untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi efektivitas tindakan spesifik yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan.

Penerapan prinsip kesejahteraan hewan hendaknya diwujudkan pada semua kelompok hewan, baik hewan coba, hewan ternak, maupun hewan liar yang dilindungi oleh lembaga konservasi, hingga yang paling dibutuhkan oleh seluruh masyarakat yaitu hewan peliharaan. Jenis hewan peliharaan yang ada di Indonesia sangat beragam. Hewan peliharaan yang populer di Indonesia yaitu kucing (47%), ikan (22%), burung (18%), dan anjing (10%). Secara tidak langsung kesejahteraan hewan terlihat dari pemahaman dan pengetahuan pemilik kucing terhadap kesejahteraan hewan mengenai pola atau manajemen pemeliharaan hewan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 100 pemilik kucing (responden) di Kabupaten Banyuwangi yang diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, kisaran pendapatan bulanan rumah tangga, dan jumlah kucing dalam rumah tangga menunjukkan bahwa 59% pemilik kucing memiliki tingkat pemahaman yang rendah terhadap kesejahteraan hewan. Sebagian besar responden memiliki pemahaman yang rendah terhadap tiga aspek yaitu: aspek Bebas dari kelaparan, haus, dan malnutrisi (56% responden), Bebas dari ketidaknyamanan fisik dan termal (52% responden), dan Bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit (60% responden). Sedangkan pada aspek Kebebasan dari rasa takut dan kesusahan serta Kebebasan untuk mengekspresikan pola perilaku normal sebagian besar responden memiliki tingkat pemahaman sedang, dengan persentase masing-masing 47% dan 74% responden.

Pemilik kucing peliharaan harus mengetahui dan memahami jenis makanan kucing serta jumlah makanan dan minuman yang dibutuhkan kucing. Pemilihan jenis pakan yang tepat merupakan poin penting dalam mencapai aspek bebas lapar dan haus. Pemilik kucing di Kabupaten Banyuwangi paham dalam memberi makan kucing peliharaan secara rutin dan teratur, namun belum memahami porsi yang sesuai dengan kategori umur dan berat badan kucingnya. Selain itu, pemilik kucing juga belum memahami pentingnya menjaga ketersediaan air minum untuk kucing. Pemilik kucing memahami pentingnya menyediakan kandang namun belum memahami jenis alas kandang apa yang cocok untuk kucing peliharaannya dan belum memahami ukuran kandang atau ruang yang diberikan kepada kucing dapat mempengaruhi kesejahteraan kucing. Pemilik kucing umumnya tidak dapat mendeteksi tanda-tanda stres atau ketidaknyamanan, sehingga tidak mengetahui perlu atau tidaknya dilakukan perubahan ruang/ tempat tinggal kucing atau menambah ventilasi yang memadai pada lingkungan tempat kucing dipelihara untuk peningkatan kesejahteraan.

Banyak pemilik kucing yang belum atau tidak menyadari pentingnya menjaga kesehatan hewan peliharaannya. Kebebasan dari rasa sakit, cedera, atau penyakit dapat dicapai dengan mencegah penyakit dan melakukan diagnosis dan terapi yang tepat. Sebagian besar pemilik kucing masih belum menyadari peran dokter hewan dalam pengendalian dan penanganan penyakit. Pemilik hewan peliharaan di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang signifikan untuk menggunakan pencarian internet sebagai sumber utama informasi berkualitas tinggi untuk perawatan hewan peliharaan. Tingginya responden yang belum memahami konsep kesejahteraan hewan (59% responden), dapat berdampak tidak terjaminnya kesejahteraan hewan peliharaan yang dimiliki.

Lebih lanjut, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan bulanan dalam rumah tangga, dan jumlah kucing dalam rumah tangga memiliki korelasi (P<0,05) dengan tingkat pemahaman kesejahteraan hewan dari responden. Pemilik kucing dengan tingkat pendidikan tinggi lebih memahami aspek kesejahteraan hewan. Pendidikan memupuk kecerdasan sosial dan emosional setiap orang dan memberikan setiap individu peluang untuk pertumbuhan pribadi dan penemuan diri. Pendapatan rumah tangga dapat mempengaruhi gaya hidup individu. Pendapatan mempengaruhi tingkat konsumsi seseorang karena status ekonomi juga menentukan tersedianya fasilitas yang dibutuhkan untuk suatu hal atau kegiatan tertentu. Pemilik kucing dengan pendapatan ekonomi di bawah upah minimum (70% responden) akan kesulitan memenuhi kebutuhan kucing peliharaannya, sehingga aspek kesejahteraan hewan belum dapat terealisasi secara memadai. Secara umum, masyarakat masih belum mengetahui kesejahteraan hewan dan peran dokter hewan di Indonesia. Untuk tujuan keberlanjutan lebih lanjut, kita perlu melakukan sosialisasi peran kesejahteraan hewan dari pemerintah, dokter hewan, dan pimpinan daerah.

Penulis : Prima Ayu Wibawati

Sumber: Wulandari CR, Burhanuddin A, Faradina PL, Wibawati PA, and Abdramanov A (2024) Understanding the level of animal welfare and associated factors among cat owners in Banyuwangi, Indonesia, Veterinary World, 17(6): 1210-1215.
Link Jurnal: https://www.veterinaryworld.org/Vol.17/June-2024/4.pdf

AKSES CEPAT