Pornografi merupakan materi yang dianggap memiliki kontek seksual yang diproduksi, didistribusikan dengan persetujuan semua yang terlibat untuk membangkitkan seksualitas bagi yang mengakses kontennya. Terjadi lonjakan akses ke konten pornografi di seluruh dunia selama beberapa dekade terakhir sebagai akibat dari mudahnya akses internet dan teknologi. Para ahli kesehatan termasuk peneliti dan dokter menyebut kondisi ini 淧roblematic Porn Use atau PPU.
Tingkat prevalensi PPU terus meningkat di berbagai jenis kelamin, kelompok umur, budaya, dan negara yang berbeda karena faktor “triple A” (aksesibilitas, Affordability (keterjangkauan), dan Anonimitas). Saat ini, PPU tidak dapat dianggap sebagai gangguan atau kecanduan karena kegagalannya untuk memenuhi kondisi yang diperlukan untuk mendiagnosis tindakan yang terkait sebagai kecanduan atau gangguan.
Pentingnya PPU dalam hubungannya dengan kesehatan tidak bisa diremehkan. Memahami PPU akan membantu mencegah dan/atau mungkin membatasi potensi negatifnya
pada kesehatan. Literatur saat ini menegaskan bahwa PPU berfungsi sebagai manifestasi kompulsif gangguan perilaku seksual (CSBD) dan gangguan hiperseksual.
Artikel yang berjudul Problematic Porn Use and Cross怌ultural Diferences: A Brief Review bertujuan untuk memahami PPU lintas budaya di lima benua. Artikel ini diharapkan mampu untuk menikatkan pemahaman tentang situasi PPU dengan pembahasan mengenai prevalensi, kelompok sasaran, dampak kesehatan, dan skala/pengukuran yang digunakan.
Hasil penelitian yang disampaikan dalam artikel ini menunjukkan negara-negara Eropa, Amerika, dan Oseania tampaknya memiliki literatur mendalam tentang pornografi, kepercayaan liberal, dan sikap terhadap pornografi, serta protokol dan fasilitas perawatan khusus. Sedangkan negara-negara Asia memiliki literatir yang sudah baik akan tetapi masih konservatif dalam keyakinan dan sikap terhadap pornografi sehingga berdampak pada pilihan dan fasilitas perawatan khusus untuk orang dengan PPU. Negara-negara Afrika memiliki kesamaan dengan negara-negara Asia kecuali bahwa ada kelangkaan literatur tentang pornografi di Afrika. Semua budaya mengungkapkan bahwa PPU cenderung mengarah ke perilaku seksual yang agresif sehingga ada risiko dampak kesehatan mental pada korbannya. Informasi lengkap mengenai artikel ini dapat dilihat pada artikel kami di Current Addiction Reports yang bisa diakses pada link berikut:
PENULIS: Ira Nurmala, S.KM., M.PH., PhD
Jurnal:
Ahorsu, D.K., Adjorlolo, S., Nurmala, I. et al. Problematic Porn Use and Cross-Cultural Differences: A Brief Review. Curr Addict Rep (2023). https://doi.org/10.1007/s40429-023-00505-3





