51动漫

51动漫 Official Website

Torsi Kista Ovarium Raksasa pada Wanita Pascamenopause dengan Kanker Serviks

Ilustrasi Pita Kanker Serviks (Sumber: DokterSehat)
Ilustrasi Pita Kanker Serviks (Sumber: DokterSehat)

Torsi kista ovarium merupakan kegawatdaruratan ginekologis yang dapat menyebabkan penurunan aliran darah, nekrosis, peritonitis, dan perdarahan. Studi menunjukkan insidensi sebesar 15% selama operasi ovarium. Sebagian besar kasus melibatkan kista yang berukuran >5 cm, dengan ukuran tumor rata-rata 9,5 cm. Kista raksasa (>20 cm) mengalami torsi jarang terjadi. Torsi biasanya terjadi pada wanita usia reproduksi, sementara kasus pascamenopause jarang terjadi.

Sebuah kasus langka ditemukan oleh tim ginekologi onkologi di RSUD Dr.Seotomo. Kasus ini merupakan kombinasi langka antara kista ovarium raksasa dengan torsi pada seorang wanita pascamenopause, yang semakin diperumit oleh kanker serviks. Kasus-kasus seperti ini jarang dilaporkan, sehingga menyoroti tantangan diagnostik dan terapeutik dalam kondisi ginekologi yang kompleks.

Seorang wanita pascamenopause berusia 67 tahun dengan kanker serviks stadium IIIB datang dengan nyeri perut yang semakin parah dan perdarahan vagina selama tiga bulan. Selama operasi, kista ovarium kanan raksasa berukuran 30 cm dengan torsi dan kista dermoid kiri yang lebih kecil teridentifikasi. Pasien menjalani salpingo-ooforektomi bilateral, dan temuan histopatologi mengonfirmasi kistadenoma serosa jinak kanan dengan teratoma matur dan struma ovarium, serta kistadenoma serosa kiri dan kista dermoid. Pascaoperasi, pasien menerima kemoradiasi untuk kanker serviks dan tetap asimtomatik pada tindak lanjut satu tahun.

Kista berukuran besar (>5 cm) menimbulkan risiko torsi yang lebih besar karena ketidakseimbangan yang mereka buat di ovarium. Dalam kasus ini, kista 29 cm mengalami torsi, sedangkan kista 10 cm tidak, menggambarkan ukuran sebagai faktor penting. Kasus torsi kista ovarium jarang terjadi pada wanita pascamenopause. Temuan pencitraan, termasuk kista kompleks dan kadar CA-125 normal, dapat menunjukkan torsi pada populasi ini. Namun, kadar CA-125 pada pasien ini meningkat, kemungkinan mencerminkan kanker serviks. Tumor serviks stadium III sering menunjukkan kadar CA-125 yang tinggi. Sebuah studi sebelumnya tidak menemukan perbedaan kadar CA-125 antara kista ovarium jinak dan ganas. Studi lain menunjukkan kadar CA-125 tidak berhubungan dengan ukuran kista. Selain itu, beberapa laporan kasus menunjukkan kadar CA-125 normal atau rendah pada kista ovarium torsional, yang mempersulit penilaian klinis.

Dalam studi ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kista ovarium raksasa dapat mengalami torsi, dan torsi dapat terjadi bahkan pada wanita pascamenopause dan mereka yang menderita kanker serviks. Pada pasien dengan nyeri kronis, perubahan intensitas nyeri yang tiba-tiba dapat menjadi indikator penting torsi ovarium, yang menekankan perlunya evaluasi dan penanganan yang cepat.

Penulis: Dr. Brahmana Askandar Tjokroprawiro, dr., Sp.OG.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat melalui:

AKSES CEPAT