51动漫

51动漫 Official Website

Pakar Budaya FIB UNAIR Uraikan Sejarah Malam Takbiran di Nusantara

Ilustrasi malam takbiran (sumber: detik.com)
Ilustrasi malam takbiran (sumber: detik.com)

UNAIR NEWS – Malam takbiran selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Gema takbir yang berkumandang dari masjid menandai kemenangan setelah sebulan berpuasa. Di Indonesia, takbiran bukan sekadar ritual ibadah, melainkan warisan budaya Islam yang kaya dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Sejarah Takbiran Nusantara

UNAIR Ahmad Syauqi S Hum MSi mengungkap sejarah tradisi takbiran di Nusantara sudah ada sejak masa kesultanan Islam. Tepatnya abad 15-18 M tradisi takbiran identik dengan tradisi keagamaan Islam.

Era kedua yaitu kolonial, sekitar abad 19-20 M pada zaman belanda dilaksanakan dengan kondisi yang terbatas. 淭akbiran juga seringkali menjadi bentuk perlawanan simbolis era penjajahan, terangnya. 

Hingga kini takbiran identik dengan tabuhan bedug yang menggema. Namun, seiring waktu, tradisi ini terus berkembang, bahkan merambah ke ranah digital.

淪aat ini kita melihat fenomena takbiran virtual, melalui siaran langsung. Ini membuktikan bahwa esensi takbiran tetap bertahan, meskipun bentuknya terus beradaptasi, imbuhnya.

Pakar budaya Islam Fakultas Ilmu Budaya UNAIR Ahmad Syauqi S Hum MSi
Takbir yang Bergema, Tradisi yang Bercerita

Ia menyikapi tradisi takbiran di beberapa negara memiliki keunikannya sendiri. 淒i Indonesia, elemen budaya sangat kental dan Islam berakulturasi dengan budaya menghasilkan pawai obor, gema bedug, takbir keliling,漷erangnya. 

Contohnya di pulau Jawa, terdapat Takbir Keliling seperti Yogyakarta dan Solo. Sementara di Madura, takbiran dilakukan dengan tradisi Tellasan Topa dan di luar jawa seperti di Aceh, melakukan seni Rateb Meuseukat atau tarian sufistik dan di Minangkabau, Sumatera Barat, masyarakat mengadakan Takbiran Bararak. Sementara di Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan, terdapat tradisi Mappadendang, yang diiringi bunyi tabuhan lesung sebagai simbol rasa syukur.

淢asyarakat di nusantara sangat inklusif, tidak hanya menghargai ajaran Islam tetapi merangkul kebudayaan lokal. Keterlibatan masyarakat dari seluruh lapisan masyarakat baik di kota maupun di pelosok, jadi tidak ada perbedaan, ungkapnya.

Malam Spiritualitas atau Sekadar Euforia?

Di beberapa daerah, takbiran berubah menjadi ajang kompetisi siapa yang memiliki bedug terbesar, siapa yang bisa membuat replika masjid paling megah, atau siapa yang memiliki pawai takbir paling meriah. Tak jarang, perayaan ini juga diiringi dengan petasan dan kembang api, yang justru menjauhkan dari makna asli takbir.

淢alam takbiran adalah momentum sakral untuk merenungkan kebesaran Allah, bukan sekadar pesta. Jangan sampai kemeriahan justru menghilangkan substansi spiritualnya tegasnya. 

Ia juga mengingatkan takbir adalah bentuk pengakuan atas kebesaran Allah, sekaligus bagaimana Islam berinteraksi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensinya. 淵ang perlu kita jaga adalah keseimbangan antara tradisi dan spiritualitas. Takbiran harus tetap menjadi ajang syiar Islam, bukan sekadar euforia sesaat, pungkasnya. 

Penulis:

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

AKSES CEPAT