Penelitian ini mengangkat persoalan fundamental dalam studi organisasi nonprofit dan filantropi, yaitu bagaimana sumber daya sosial yang bersifat tidak berwujud dapat dikonversi menjadi kinerja organisasi yang konkret, baik dalam dimensi sosial maupun ekonomi. Dengan berlandaskan Resource-Based View (RBV), penelitian ini menegaskan bahwa keunggulan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh kepemilikan sumber daya, tetapi oleh kemampuan organisasi dalam mengelola, mengintegrasikan, dan mentransformasikan sumber daya tersebut melalui kapabilitas yang tepat. Dalam konteks ini, modal sosial diposisikan sebagai sumber daya strategis yang terdiri atas dimensi relasional yang mencerminkan tingkat kepercayaan dan kualitas hubungan antar aktor, dimensi kognitif yang mencerminkan kesamaan nilai, norma, dan visi organisasi, serta dimensi struktural yang menggambarkan luas dan kedalaman jaringan sosial yang dimiliki organisasi.
Namun demikian, penelitian ini secara kritis menunjukkan bahwa modal sosial tidak memiliki daya ungkit langsung terhadap kinerja organisasi. Modal sosial hanya menjadi potensi laten yang baru akan menghasilkan dampak apabila dikonversi melalui suatu kapabilitas organisasi yang spesifik, yaitu penciptaan nilai sosial (social value creation). Penciptaan nilai sosial dalam penelitian ini dipahami sebagai serangkaian proses terstruktur yang meliputi identifikasi masalah sosial, keterlibatan pemangku kepentingan dalam co-production, serta mekanisme evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan. Melalui proses ini, modal sosial yang sebelumnya bersifat abstrak diubah menjadi program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat legitimasi organisasi.
Hasil empiris penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penciptaan nilai sosial, yang berarti bahwa organisasi dengan tingkat kepercayaan tinggi, keselarasan visi yang kuat, dan jaringan yang luas cenderung lebih mampu merancang dan mengimplementasikan program-program sosial yang berdampak. Selanjutnya, penciptaan nilai sosial terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja sosial, yang tercermin dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan partisipasi pemangku kepentingan, serta meningkatnya kepercayaan publik terhadap organisasi. Tidak hanya itu, penciptaan nilai sosial juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja ekonomi organisasi, terutama melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi penggunaan sumber daya, serta penguatan keberlanjutan finansial.
Lebih jauh, penelitian ini menegaskan peran sentral penciptaan nilai sosial sebagai variabel mediasi yang menjembatani hubungan antara modal sosial dan kinerja organisasi. Dengan kata lain, modal sosial tidak secara langsung menghasilkan kinerja sosial maupun ekonomi, tetapi bekerja melalui mekanisme penciptaan nilai sosial sebagai 渕esin konversi utama. Temuan ini memperkuat argumen dalam RBV dan dynamic capabilities theory bahwa kapabilitas organisasi berperan sebagai penghubung antara sumber daya dan kinerja, sehingga organisasi yang mampu mengelola kapabilitas ini secara efektif akan memiliki keunggulan yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi peran inovasi sosial sebagai variabel moderasi yang memperkuat hubungan antara modal sosial dan penciptaan nilai sosial. Inovasi sosial dipahami sebagai kemampuan organisasi dalam mengembangkan pendekatan baru, melakukan eksperimen, serta mengombinasikan sumber daya secara kreatif untuk menjawab permasalahan sosial yang kompleks. Temuan menunjukkan bahwa pada organisasi dengan tingkat inovasi sosial yang tinggi, modal sosial dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk menghasilkan nilai sosial yang lebih besar. Sebaliknya, pada organisasi dengan tingkat inovasi yang rendah, potensi modal sosial cenderung tidak termanfaatkan secara maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi sosial tidak menggantikan peran modal sosial, tetapi berfungsi sebagai katalis yang mempercepat dan memperkuat proses konversi sumber daya menjadi nilai.
Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan mengembangkan model resource揷apability損erformance dalam konteks organisasi filantropi berbasis agama, di mana modal sosial berperan sebagai input, penciptaan nilai sosial sebagai kapabilitas inti, dan kinerja sosial serta ekonomi sebagai output. Temuan ini juga memperluas penerapan RBV ke dalam konteks Global South dan organisasi berbasis nilai keagamaan yang selama ini relatif kurang terwakili dalam literatur manajemen. Dari sisi praktis, penelitian ini menegaskan bahwa organisasi filantropi tidak cukup hanya membangun jaringan sosial yang kuat, tetapi perlu mengembangkan sistem dan proses yang mampu mengonversi jaringan tersebut menjadi program yang berdampak, terukur, dan berkelanjutan. Dengan demikian, keberhasilan transformasi organisasi tidak terletak pada seberapa besar sumber daya sosial yang dimiliki, melainkan pada seberapa efektif organisasi mampu mengelolanya menjadi nilai nyata bagi masyarakat.
Dinar Apriyanto, Fendy Suhariadi & Muhammad Miftahussurur





