Sklerosis sistemik (Systemic Sclerosis/SSc) merupakan penyakit autoimun kronis yang ditandai oleh kombinasi disfungsi imun, kerusakan vaskular berkelanjutan, dan fibrosis progresif pada kulit serta organ internal. Manifestasi paru, terutama penyakit paru interstisial (Interstitial Lung Disease/ILD), merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada SSc. ILD dapat ditemukan pada hingga 40% pasien dan berpotensi menyebabkan penurunan fungsi paru yang progresif, sehingga deteksi dini sangat penting. Pola radiologis yang paling sering dijumpai adalah nonspecific interstitial pneumonia (NSIP), yang ditandai oleh ground-glass opacities, retikulasi, dan bronkiektasis traksi dengan tingkat fibrosis yang bervariasi.
Penatalaksanaan SSc-ILD keseimbangan antara kontrol inflamasi dan pencegahan progresi fibrosis. Terapi imunosupresif seperti kortikosteroid, azathioprine, cyclophosphamide, atau mycophenolate mofetil umum digunakan untuk menekan aktivitas penyakit. Terapi ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi oportunistik, terutama tuberkulosis (TB). Indonesia termasuk negara dengan beban TB tertinggi di dunia, sehingga pasien autoimun yang menerima imunosupresif berada pada risiko yang substansial terhadap infeksi baru maupun reaktivasi TB laten.
Diagnostik gejala TB seperti batuk kronis, penurunan berat badan, demam, dan kelelahan dapat menyerupai atau menumpang pada gejala ILD itu sendiri. Selain itu, temuan radiologis TB, terutama nodul, tree-in-bud, atau infiltrat perihiler, dapat bersinggungan dengan gambaran fibrosis pada ILD. Oleh karena itu, pada pasien SSc-ILD di daerah endemis TB, penilaian sistematis melalui pemeriksaan sputum GeneXpert, dan evaluasi radiologis berulang sangat penting.
Kasus yang dilaporkan ini menggambarkan seorang perempuan usia 45 tahun dengan SSc-ILD pola NSIP yang kemudian berkembang menjadi TB paru terkonfirmasi. Situasi ini memperlihatkan interaksi kompleks antara proses autoimun yang memicu kerusakan jaringan paru dan infeksi mikobakterial yang memperberat inflamasi serta mempercepat penurunan fungsi paru. Penghentian sementara terapi imunosupresif sering kali diperlukan untuk mengendalikan infeksi TB tindakan ini dapat menimbulkan risiko pemburukan ILD akibat kekambuhan inflamasi dan progresi fibrosis. Keputusan terapeutik pada pasien SSc-ILD dengan TB aktif sebagai dilema klinis yang memerlukan pertimbangan multidisipliner.
Klinis ini relevan terutama di negara dengan prevalensi TB tinggi, di mana skrining TB laten, pemantauan ketat gejala respirasi, serta evaluasi mikrobiologis berkala perlu dipertimbangkan sebagai bagian integral dari manajemen pasien SSc-ILD. Hal ini sejalan dengan rekomendasi praktik klinis pada populasi imunokompromais, yang menekankan pentingnya deteksi dini dan tata laksana TB sebagai upaya untuk mengurangi mortalitas dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kasus ini menyoroti kompleksitas yang sangat tinggi dalam penatalaksanaan penyakit paru interstisial terkait sklerosis sistemik (systemic sclerosis搑elated interstitial lung disease/SSc-ILD) yang kemudian diperberat oleh terjadinya tuberkulosis (TB) paru aktif. Kombinasi kedua kondisi ini bukan hanya menciptakan tantangan diagnostik, tetapi juga menimbulkan dilema terapeutik yang signifikan. SSc-ILD merupakan salah satu manifestasi tersering dan paling fatal pada sklerosis sistemik, ditandai oleh progresi fibrosis paru yang dapat menyebabkan penurunan fungsi pernapasan yang bersifat irreversible. Pada saat yang sama, tuberkulosis paru tetap menjadi salah satu infeksi paling mematikan di dunia, terutama di negara dengan beban TB tinggi seperti Indonesia. Interaksi kedua kondisi ini menempatkan pasien dalam keadaan klinis yang sangat rentan, di mana risiko komplikasi meningkat secara eksponensial akibat tumpang tindih proses autoimun, kerusakan jaringan paru, dan infeksi mikobakterial aktif.
Pemberian terapi imunosupresif merupakan tatalaksana SSc-ILD untuk mengendalikan inflamasi dan memperlambat progresi fibrosis. Imunosupresi juga meningkatkan risiko timbulnya infeksi oportunistik, termasuk Mycobacterium tuberculosis. Pada pasien yang tinggal di negara endemis, reaktivasi TB laten merupakan komplikasi yang relatif sering terjadi. Ketika infeksi TB berkembang pada pasien dengan ILD, kondisi ini tidak hanya memperburuk kerusakan jaringan paru, tetapi juga dapat menyulitkan interpretasi gambaran radiologis karena adanya overlap antara pola fibrosis ILD dengan infiltrat tuberkulosis. Oleh karena itu, kecurigaan klinis yang tinggi diperlukan dalam setiap kemunculan gejala respiratori baru pada pasien SSc-ILD yang sedang menjalani terapi imunosupresif.
Dalam kasus ini, keputusan klinis mengenai penghentian sementara terapi imunosupresif merupakan langkah yang tepat untuk mencegah progresi infeksi TB. Penghentian ini juga membawa risiko percepatan fibrosis paru akibat kembali aktifnya proses autoimun yang mendasari SSc. Hal ini menggambarkan bahwa manajemen SSc-ILD dengan TB aktif membutuhkan pertimbangan yang sangat hati-hati dalam menentukan waktu optimal untuk menghentikan dan memulai ulang terapi imunosupresif. Keseimbangan antara infeksi mikobakterial dan kontrol inflamasi autoimun menjadi kunci utama dalam menentukan keberhasilan penatalaksanaan. Kesalahan dalam menunda atau memulai kembali imunosupresi dapat berimplikasi signifikan terhadap luaran pasien, baik berupa eksaserbasi ILD maupun progresi TB.
Selain tantangan terapi, kasus ini menekankan pentingnya skrining TB secara menyeluruh sebelum memulai terapi imunosupresif jangka panjang pada penyakit autoimun. Skrining ini idealnya meliputi pemeriksaan radiologis, tes tuberkulin atau IGRA, serta evaluasi riwayat paparan TB. Pada negara dengan prevalensi TB tinggi, skrining harus dipertimbangkan sebagai bagian wajib dari protokol pengelolaan pasien SSc-ILD. Pemantauan berkala selama terapi imunosupresif juga diperlukan untuk mendeteksi infeksi TB pada tahap paling awal, sebelum terjadi kerusakan paru yang signifikan atau penyebaran infeksi.
Kasus ini juga menunjukkan peran penting kolaborasi multidisiplin, terutama antara spesialis pulmonologi, reumatologi, dan penyakit infeksi. Keputusan mengenai modifikasi terapi, pemantauan intensif, serta evaluasi respons terhadap pengobatan membutuhkan pendekatan integratif yang mempertimbangkan seluruh aspek patofisiologis, imunologis, dan infeksi. Kolaborasi seperti ini sangat menentukan keberhasilan dalam mengurangi risiko komplikasi berat serta meningkatkan prognosis pasien. Pada situasi di mana ILD telah berada pada tahap lanjut, dampak TB terhadap kapasitas respirasi dapat menjadi sangat besar dan meningkatkan risiko mortalitas, sebagaimana terlihat pada kasus ini.
Penulis: Donny Ardika Novananda,Garinda Alma Duta,Resti Yudhawati Meliana,Aris Sudarwoko.
Informasi detail artikel:





