Tumor kelenjar susu merupakan salah satu jenis neoplasma yang paling sering ditemukan pada anjing betina yang belum disterilkan. Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam dunia kedokteran hewan karena tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga memiliki relevansi dalam pendekatan One Health, yaitu keterkaitan antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Salah satu jenis yang sering dikaji adalah Canine mammary tumor, yang dapat berkembang dari jinak hingga ganas dengan potensi metastasis.
Perkembangan tumor ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor hormonal, genetik, dan lingkungan. Paparan hormon estrogen dan progesteron dalam jangka panjang pada anjing yang tidak disterilkan menjadi salah satu faktor utama yang memicu proliferasi sel abnormal. Di tingkat molekuler, berbagai jalur sinyal seperti PI3K/AKT/mTOR, Wnt/尾-catenin, HER2/neu, dan JAK/STAT berperan dalam mendorong pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Selain itu, inaktivasi gen penekan tumor seperti p53 serta peningkatan angiogenesis melalui VEGF semakin mempercepat perkembangan keganasan.
Kasus yang dilaporkan dalam studi ini melibatkan seekor anjing betina tua ras Golden Retriever berusia 13 tahun yang belum disterilkan. Hewan tersebut menunjukkan adanya benjolan pada kelenjar susu bagian inguinal kanan dengan diameter sekitar 8,2 cm. Massa tersebut teraba keras, tidak berbatas jelas, dan tidak dapat digerakkan攃iri-ciri yang sering mengarah pada kecurigaan keganasan. Namun, ukuran tumor saja tidak cukup untuk memastikan apakah suatu tumor bersifat jinak atau ganas.
Di sinilah pentingnya metode diagnostik yang cepat dan akurat. Salah satu teknik yang digunakan dalam kasus ini adalah Fine Needle Aspiration (FNA), yaitu pengambilan sampel sel menggunakan jarum halus tanpa memerlukan tindakan bedah besar. Metode ini tergolong minim invasif, relatif aman, dan dapat memberikan hasil dalam waktu singkat.
Hasil pemeriksaan sitologi dari FNA menunjukkan adanya sel epitel pleomorfik dengan nukleolus menonjol, sitoplasma bervakuola, serta tanda-tanda anaplasia. Karakteristik ini mengindikasikan adanya neoplasia ganas. Untuk memastikan apakah tumor telah menyebar ke organ lain, dilakukan pemeriksaan radiografi toraks. Hasilnya menunjukkan tidak adanya metastasis ke paru-paru maupun jaringan regional lainnya, yang merupakan kabar baik dalam penentuan prognosis.
Penanganan utama yang dilakukan adalah tindakan bedah berupa pengangkatan massa tumor (lumpektomi). Namun, dalam kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan histopatologi lanjutan karena keterbatasan biaya serta kekhawatiran pemilik terhadap kondisi hewan. Hal ini mencerminkan tantangan nyata di lapangan, di mana faktor ekonomi sering kali memengaruhi keputusan medis.
Meskipun demikian, kombinasi antara temuan klinis, sitologi, dan radiologi sudah cukup kuat untuk mendukung diagnosis tumor ganas. Studi ini menyoroti adanya kesenjangan dalam praktik klinis, yaitu kecenderungan mengandalkan ukuran tumor sebagai indikator utama keganasan. Padahal, tumor berukuran besar tidak selalu ganas, dan sebaliknya, tumor kecil pun dapat bersifat agresif.
Penggunaan FNA dalam kasus ini menunjukkan bahwa metode tersebut dapat menjadi alat diagnostik yang sangat berguna, terutama dalam kondisi dengan keterbatasan sumber daya. Selain cepat dan hemat biaya, FNA juga dapat membantu dokter hewan dalam menentukan langkah terapi yang tepat sebelum melakukan tindakan lebih lanjut. Dengan demikian, risiko kesalahan diagnosis dan keterlambatan penanganan dapat diminimalkan.
Dari perspektif yang lebih luas, kasus ini juga mengingatkan pentingnya deteksi dini dan pencegahan. Sterilisasi dini pada anjing betina telah terbukti dapat menurunkan risiko terjadinya tumor kelenjar susu secara signifikan. Selain itu, pemantauan rutin oleh pemilik hewan terhadap adanya perubahan pada tubuh hewan peliharaan juga sangat penting.
Dalam konteks One Health, penelitian ini memberikan gambaran bahwa faktor risiko seperti paparan hormon dan lingkungan tidak hanya relevan pada hewan, tetapi juga pada manusia, khususnya dalam kasus kanker payudara. Oleh karena itu, studi pada hewan dapat memberikan wawasan tambahan yang berharga bagi dunia medis secara umum.
Kesimpulannya, tumor kelenjar susu pada anjing merupakan kondisi serius yang memerlukan perhatian khusus. Pendekatan diagnostik yang tepat, seperti penggunaan FNA, dapat menjadi solusi efektif dalam mendeteksi keganasan secara dini. Dengan diagnosis yang cepat dan penanganan yang tepat, peluang kesembuhan dan kualitas hidup hewan dapat ditingkatkan secara signifikan.
Penulis: Dr. Agus Widodo, drh., M.Vet.
Artikel lengkap dapat dibaca di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/cytology-over-size-malignant-cytology-in-a-large-canine-mammary-m/





