Karsinoma sel basal (KSB) paling sering ditemukan pada kulit akibat paparan sinar matahari, dan jarang muncul pada selaput lendir atau telapak tangan dan telapak kaki. KSB adalah penyakit yang rumit karena kemungkinan tertularnya ditentukan oleh interaksi faktor risiko keturunan dan lingkungan. Kanker kulit dapat berkembang di komunitas mana pun, apapun warna kulitnya, menurut penelitian terbaru.
Salah satu kendala terbesar dalam mendiagnosis Karsinoma sel basal di Indonesia adalah tidak semua penyedia layanan kesehatan memiliki akses terhadap tes histologis, terutama di daerah pedesaan yang memiliki sedikit fasilitas kesehatan. Karena tes biopsi bersifat invasif dan memakan waktu, dokter semakin banyak menggunakan dermoskopi untuk mendiagnosis KSB. Pemeriksaan dermoskopi sangat penting dalam membantu meningkatkan keakuratan diagnosis BCC hingga lebih dari 90%. Parameter dermoskopi dalam pendekatan diagnostik KSB berpigmen dikelompokkan menjadi 7 point checklist. Tujuh poin itu adalah large blue-gray ovoid nests, multiple blue-gray globules, maple leaf-like areas, spoke-wheel areas, shiny white areas, ulserasi, dan arborizing telangiectasias.
Parameter
Terdapat total tujuh parameter yang diukur dan dianalisis dalam penelitian ini. Penelitian ini menemukan hasil yang signifikan pada dua kelompok parameter, yaitu antara: 1) dermoskopi 渂lue-gray ovoid nests dan histopatologi 渁gregasi sarang tumor pada dermis papiler dengan pigmentasi; dan 2) dermoskopi “spoke wheel areas” dan histopatologi “sarang tumor yang terhubung ke epidermis yang ditandai dengan tonjolan seperti jari dan pigmentasi yang terletak di tengah”.
Parameter dermoskopi yang paling banyak terdeteksi pada sampel penelitian (ditemukan pada 100% sampel) adalah shiny white areas. Shiny white areas hanya dapat diamati menggunakan dermoskopi terpolarisasi, dan meskipun demikian, operator harus memutar dermoskop di atas lesi. Parameter shiny white areas ditemukan pada 100% sampel, meskipun sampel pada penelitian ini tidak seluruhnya terdiri dari BCC non-pigmen. Sehingga kemungkinan terjadinya positif palsu tidak dapat disangkal, meskipun pembacaan telah dilakukan oleh tiga orang staf ahli.
Arborizing vessels sebagai struktur vaskular dari parameter dermoskopi KSB berada di urutan kelima dari tujuh parameter dermoskopi yang kami analisis. Hal ini sedikit berbeda dengan apa yang diungkap Popadic dalam penelitiannya, dimana mereka menemukan bahwa arborizing vessels menduduki peringkat teratas pada KSB subtipe nodular dan superfisial. Dermoskopi memang merupakan pemeriksaan subjektif. Selain itu, pembacaan dermoskopi langsung juga memiliki akurasi lebih tinggi dibandingkan foto, yang tentunya tidak dapat menangkap keseluruhan bidang pandang suatu lesi.
Kesimpulan
Parameter histopatologi pada penelitian ini sebagian besar didominasi oleh ‘agregasi sarang tumor pada dermis papiler dengan pigmentasi’ yang mewakili dermoskopi blue-gray ovoid nests. Hal ini sejalan dengan yang kami temukan pada pola parameter dermoskopi. Di mana blue-gray ovoid nests menempati jumlah parameter terbanyak kedua pada sampel penelitian ini.
Sebagai kesimpulan, penelitian ini menemukan signifikansi pada dua dari tujuh kelompok parameter (28,6%). Kekuatan asosiasi antara kedua variabel masih berada pada rentang lemah dan sedang. Oleh karena itu, kedua parameter tersebut belum bisa digeneralisasikan pada populasi umum. Untuk meningkatkan identifikasi dini dan kualitas hidup pasien KSB. Penelitian lebih lanjut dengan protokol penelitian yang lebih baik diperlukan untuk menguatkan temuan perintis dalam penelitian ini.
Penulis : dr. Felix Hartanto, M.Ked.Klin, SpDVE
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
Concordance Test Between Dermoscopic and Histopathological Parameters in Basal Cell Carcinoma
Baca Juga: Hidrasi Kulit pada Pasien dengan Dermatitis Atopik





