UNAIR NEWS – Program Fakultas Ilmu Sosial dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik FISIP 51动漫 (UNAIR) menggelar kuliah umum bertajuk Quo Vadis Kebijakan Publik Kota Surabaya? pada Rabu (28/5/2025). Acara yang terbuka untuk umum ini berlangsung di Aula Soetandyo lantai 3 FISIP UNAIR, dengan menghadirkan Wali Kota Surabaya Dr Eri Cahyadi ST MT sebagai pembicara utama.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengkaji praktik kebijakan publik berbasis pengalaman langsung kepala daerah. Dalam paparannya, Eri menegaskan komitmen Pemerintah Kota Surabaya untuk membangun kota tanpa diskriminasi dan meninggalkan masyarakat dari pembangunan.
Pemerataan, Digitalisasi, dan Partisipasi Publik
淒alam kebijakan di Surabaya, saya pastikan tidak ada diskriminasi di tengah masyarakat. Sehingga tidak ada daerah dengan masyarakat tertinggal, tegas Eri. Ia menyebutkan, masih adanya masyarakat yang tertinggal mencerminkan kegagalan kebijakan pembangunan.
Salah satu contoh nyata yang diangkat adalah transformasi kawasan kolong jembatan di Surabaya. Pemerintah kota merelokasi warga yang tinggal di sana, memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka, dan pelatihan wirausaha bagi para orang tua. 淪ejak 2022, di Surabaya sudah tidak ada lagi masyarakat yang tinggal di bawah kolong jembatan. Ini kami lakukan jauh sebelum kunjungan kerja presiden pada 2024, tambahnya.
Eri juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam pola pemerintahan. Ia menilai era digital membuka ruang komunikasi dua arah antara masyarakat dan pemerintah. 淒ulu pemerintahan sering sok tahu, tidak paham akar masalah. Sekarang harus berbasis data dan realitas lapangan, ujarnya.
Sinergi Masyarakat dan Pemerintah sebagai Kunci Pembangunan
Berangkat dari latar belakang birokrat, Eri mengaku paham bagaimana merancang program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Ia mencontohkan pembangunan ulang kawasan kota lama dan Jalan Tunjungan yang melibatkan partisipasi publik dalam pemanfaatan ruang pasca-revitalisasi.
Di akhir sesi, Eri menekankan pentingnya menghapus kepentingan pribadi dalam pembangunan kota. 淧erubahan akan berdampak nyata jika pemimpinnya tidak hanya ingin terkenal sendiri. Melibatkan masyarakat adalah kunci, ujarnya.
Salah satu contoh sinergi nyata adalah kerja sama antara pemerintah kota, pelaku bisnis, dan masyarakat. Eri menyebut upaya Pemerintah Surabaya yang menggandeng pemilik hotel dan restoran untuk membeli hasil pertanian dari koperasi warga, lalu menjalin kerja sama antar daerah seperti Mojokerto untuk distribusi pasokannya.
Penulis: Samudra Luhur
Editor: Yulia Rohmawati





