51动漫

51动漫 Official Website

UNAIR Gelar Webinar Bareng Reporter iNews TV, Kupas Jurnalisme sebagai Aktualisasi Diri

Sesi materi Journalistic Class pada Webinar bersama iNews TV pada Sabtu (16/8/2025). (Foto: Tangkapan layar Zoom Meeting)

UNAIR NEWS Badan Semi Otonom (BSO) Insight (FPsi) 51动漫 (UNAIR) menggelar Journalistic Class bertajuk Bold Empowerment Self-Actualization Through Journalism atau BESTARI. Webinar yang berlangsung pada Sabtu (16/8/2025) melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Esra Freswita Ambarita, Reporter iNews TV sebagai narasumber utama.

Turut hadir membuka kegiatan, Dr Nur Ainy Fardana N MSi Psikolog selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni FPsi UNAIR. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa melalui jurnalisme, manusia dapat menuangkan ide dan gagasan secara otentik serta memberi manfaat jangka panjang.

淜alau hanya menuturkan, orang mungkin cepat melupakan suatu peristiwa. Tetapi ketika menuliskannya, peristiwa itu meninggalkan jejak dan berdampak lebih panjang, ujarnya.

Jurnalisme sebagai Aktualisasi Diri

Mengawali sesi materi, Esra menceritakan awal ketertarikannya pada dunia jurnalistik. Sejak kecil, ia selalu kagum pada reporter di televisi yang tetap tenang menyampaikan berita meski berada di tengah situasi kacau. Dari sanalah tumbuh mimpi untuk suatu hari bisa berada di layar kaca.

淎ku ingin ada di sana (TV) suatu hari nanti. Perjalanannya tentu nggak mudah, aku mulai dari magang di media, menulis di portal lokal, sampai akhirnya masuk ke Okezone dan kemudian pindah ke TV. Dan ternyata mimpi masa kecil itu perlahan kesampaian, jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, Esra kemudian membawakan materi bertajuk Writing the World, Writing Yourself: Jurnalisme sebagai Aktualisasi Diri. Ia menjelaskan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan juga ruang untuk aktualisasi diri. Lewat tulisan, jurnalis dapat menuangkan gagasan. Sementara lewat visual, jurnalis dapat menyuarakan hal-hal yang tidak berani orang lain katakan.

Dinamika dan Tantangan di Lapangan

Esra kemudian menyinggung pertanyaan yang sering ia terima soal bagaimana kondisi di lapangan. Ia menekankan bahwa menjaga fisik dan mental menjadi hal utama, sebab jurnalis tidak pernah bisa memprediksi situasi di lapangan. 淲aktu liputan banjir, aku harus nyebur sampai pinggang. Saat demo, gas air mata di mana-mana, tapi kita tetap harus live report, tambahnya.

Namun, dari sanalah ia belajar bahwa aktualisasi diri tidak selalu soal mendapat spotlight. Justru ketika dapat menjadi perpanjangan suara orang kecil yang tidak pernah terlihat, di situlah puncak aktualisasi seorang jurnalis.

Di era serba cepat saat ini, Esra menilai tantangan jurnalis semakin kompleks. Kecepatan menyajikan berita memang penting, tetapi akurasi tetap harus dijaga. Dalam situasi inilah, media lokal berperan besar. Media lokal, sambungnya, mampu memberikan gambaran cepat sekaligus akurat, sehingga jurnalis dapat memahami konteks suatu peristiwa dengan baik. 

Kreativitas sebagai Kunci

Selain akurasi, kreativitas juga tak kalah penting dalam dunia jurnalistik. Menurutnya, jurnalis tidak cukup hanya piawai menulis hard news, tetapi juga perlu menghadirkan angle lain, serta peka terhadap visual. 淭ulisan bagus tapi visual jelek, pesannya nggak sampai. Visual bagus tapi tanpa substansi, juga hambar. Jadi keduanya harus seimbang, imbuhnya.

Menutup materi, Esra berpesan agar peserta tidak ragu memulai perjalanan dari level apapun. Media kampus, portal lokal, hingga program magang dapat menjadi batu loncatan berharga. 淚ngat, menulis bukan hanya tentang dunia luar, tapi juga tentang diri sendiri. Writing the world, writing yourself, pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT