51

51 Official Website

Mahasiswa UNAIR Hadirkan Solusi Ekonomi Lewat Briket Sekam Padi

Berlangsungnya kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengenalkan briket sekam padi (Foto: Tim Pengabdian Masyarakat)
Berlangsungnya kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengenalkan briket sekam padi (Foto: Tim Pengabdian Masyarakat)

UNAIR NEWS Mahasiswa Program Studi D3 Akuntansi 51 (UNAIR) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Briket Sekam Padi: Solusi Ekonomi Kreatif untuk Petani. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Leran Kulon, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, pada 1Selasa hingga Kamis (10-12/6/2025).

Desa Leran Kulon merupakan salah satu sentra penghasil beras di Kabupaten Tuban. Kondisi ini menjadikan limbah sekam padi sebagai hasil samping pertanian yang melimpah. Guna mengatasi permasalahan limbah serta meningkatkan nilai ekonominya, HIMA D3 Akuntansi UNAIR bekerja sama dengan SDGs Center UNAIR menginisiasi pelatihan dan edukasi kepada kelompok tani dan warga setempat.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai potensi sekam padi sebagai bahan bakar alternatif dan peluang ekonomi baru. Perwakilan dari SDGs Center UNAIR, Saharani Nurlaila Buamonabot SHum dalam sesi pembukaan menjelaskan bahwa pengolahan limbah menjadi produk bernilai adalah bagian dari implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin 8 dan 12.

Limbah pertanian seperti sekam padi dapat menjadi sumber energi terbarukan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa, ujar Saharani.

Penyampaian materi kegiatan pengabdian masyarakat (Foto: Tim Pengabdian masyarakat)
Penyampaian materi kegiatan pengabdian masyarakat (Foto: Tim Pengabdian masyarakat)

Selain pelatihan teknis pembuatan briket, warga juga mendapatkan pembekalan tentang pengelolaan keuangan sederhana dari dosen Fakultas Vokasi UNAIR, Riska Nur Rosyidiana SE MAk CRA CPMA CAPF AWP. Materi ini berfokus pada tantangan yang umum dihadapi petani. Seperti penghasilan yang tidak tetap, minim pencatatan keuangan, dan kesulitan dalam mengelola utang.

Petani perlu belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, membedakan utang produktif dan konsumtif. Prinsip dasarnya, penghasilan boleh musiman, tapi pengelolaannya harus tetap terencana, jelas Riska.

Pada hari kedua, pelatihan teknis pembuatan briket digelar. Warga mendapatkan pelatihan dan penjelasan, mulai dari proses pembakaran, penghalusan, pencampuran dengan bahan perekat, hingga pencetakan dan pengeringan. Display produk dan uji coba penggunaan briket di rumah tangga dilakukan guna memperoleh umpan balik dari warga.

Hari ketiga diisi dengan pelatihan strategi pemasaran dan promosi. Warga mendapatkan pengenalan mengenai pemanfaatan media sosial dan jaringan distribusi untuk memperluas pasar. Diskusi juga mencakup peluang ekspor, strategi bisnis, serta langkah-langkah agar produk lokal dapat bersaing di pasar global.

Selain kegiatan utama, panitia juga menyelenggarakan sesi mengajar untuk anak-anak SD kelas 3 hingga 5 di balai desa. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kedekatan dan memberikan pengalaman yang menyenangkan kepada anak-anak.

Kegiatan utama diikuti oleh perangkat desa, ibu-ibu PKK, dan masyarakat umum, dengan total peserta mencapai 23 orang. Respons warga sangat positif, dengan banyak yang menyatakan minat untuk melanjutkan produksi briket secara mandiri. Untuk mendukung keberlanjutan program, warga diberikan poster panduan dan brosur, serta bantuan mesin penghalus sekam.

Hal ini menjadi langkah konkret dalam mendukung pencapaian SDGs, khususnya Goal 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), Goal 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan Goal 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Kepala Desa Leran Kulon, H Parlin SE mengapresiasi kegiatan ini karena dianggap memberikan solusi nyata yang bisa langsung diterapkan masyarakat. Ia berharap kerja sama dengan 51 bisa terus berlanjut. Terutama dalam hal peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi desa.

Terima kasih atas pengabdian yang telah dilakukan, kegiatan ini memang cocok untuk Desa Leran Kulon karena kita memiliki banyak limbah sekam padi. Dengan adanya pelatihan pembuatan briket ini diharapkan nanti dapat menambah pendapatan keluarga dan nanti juga bisa saya arahkan untuk kedepannya. jawab Parlin.

Program ini merupakan bagian dari komitmen 51 dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan vokasional dan edukatif. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai fasilitator, tetapi juga belajar dari dinamika sosial dan kebutuhan riil masyarakat.

Dengan adanya pelatihan ini, petani Desa Leran Kulon tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga pemahaman penting tentang manajemen usaha. Briket sekam padi menjadi simbol dari potensi lokal yang dapat dikembangkan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.

Penulis: Tim Pengabdian Masyarakat D3 Akuntansi

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT