UNAIR NEWS – 51动漫 melalui bersama dengan dan resmi membuka rangkaian AUN Summer Camp: Airlangga Adventure (AIRVENTURE) 2025 pada Senin (11/08/2025). Program ini merupakan kerjasama dengan ASEAN University Network (AUN) dan berlangsung dalam format daring dan luring di Surabaya.
Program ini mengusung tema Protecting Marine Biodiversity, dan menjadi wadah bagi mahasiswa lintas budaya untuk mengenal Indonesia terutama Kota Surabaya, serta memperkuat kesadaran akan pentingnya melindungi keanekaragaman hayati laut. Dalam sambutannya, Astria Okta selaku perwakilan AGE UNAIR menyampaikan pesan bagi seluruh peserta yang bergabung.
淜ami mengucapkan terima kasih kepada ASEAN University Network (AUN) atas kesempatan bagi 51动漫 untuk berpartisipasi dalam rangkaian summer program ini. Tahun ini, AIRVENTURE 2025 berfokus pada pelestarian habitat laut dengan tema Protecting Marine Biodiversity. Program ini menjadi wadah terbaik untuk belajar, membangun koneksi, dan meningkatkan kesadaran konservasi keanekaragaman hayati. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan semoga dapat memberi dampak signifikan bagi kelestarian lingkungan, ujar Astria Okta
Perkenalan Surabaya sebagai Kota Pahlawan
Sesi materi menghadirkan Prof. Diah Ariani Arimbi, S S, MA, Ph D selaku dosen dan Ketua . Prof. Diah memaparkan materi dengan topik Surabaya and its landscape. Ia menjelaskan Kota Surabaya merupakan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, posisi strategis di pesisir timur laut Jawa dan Pulau Madura.
Prof. Diah juga mengungkapkan julukan Kota Pahlawan yang didapat Kota Surabaya. Dulu, julukan ini merefleksikan perjuangan arek-arek Surabaya dalam melawan kolonial hingga 10 November 1945 yang kemudian dikenang dengan pelaksanaan drama teatrikal. 淛ulukan City of Heroes lahir dari perjuangan rakyat Surabaya. Dulu arek Suroboyo menajamkan bambu untuk melawan kolonial. Saat ini kawasan tersebut (Tunjungan) yang menjadi saksi sejarah telah berubah menjadi destinasi wisata dan belanja dengan bangunan bersejarah yang menarik minat anak muda, ujar Prof. Diah.
Keberagaman Budaya dan Revitalisasi Tata Ruang
Lebih lanjut, Prof. Diah menguraikan komposisi etnis di Surabaya yang terdiri atas etnis Jawa, Madura, Chinese-Indonesia, dan Arab. Hal ini menunjukkan keberagam yang membentuk budaya baru, yang mana nilai tradisional bercampur dengan aneka perbedaan. Salah satu contoh yang Prof. Diah berikan adalah letak tempat ibadah yang berdampingan, sebagai simbol toleransi beragama di Surabaya.
Keberagaman di Kota Surabaya juga tercermin dalam ciri khas kehidupan masyarakat, terutama pada kawasan yang disebut kampung kota. Di kampung kota, masyarakat hidup rukun, melaksanakan kegiatan bersama, serta saling peduli. Kepedulian ini terlihat saat masa pandemi, ketika mereka berbagi kebutuhan pokok dengan menempatkannya di titik tertentu yang telah disepakati bersama.
淜alau datang ke Surabaya, Anda akan melihat gang-gang kecil padat penduduk, namun warganya hidup akrab layaknya keluarga. Rumah-rumah berjajar di lorong sempit menjadi pemandangan khas, berbeda dari kota besar yang penuh dengan gedung apartemen. Surabaya justru identik dengan desa di tengah kota, ungkap Prof. Diah.
Nama: Kania Khansanadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





