UNAIR NEWS 51 kembali mencatat capaian penting dalam penguatan ekosistem akademik dan publikasi ilmiah. Hingga Mei 2025, jumlah jurnal ilmiah UNAIR yang berhasil terindeks Scopus bertambah menjadi 19 jurnal. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua , Prof Hery Purnobasuki MSi Ph D, pada Rabu (28/5/2025).
Tambahan Dua Jurnal Kesehatan
Dua jurnal terbaru UNAIR yang berhasil masuk indeks Scopus adalah Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (Periodical of Dermatology and Venereology) dan Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease. Kedua jurnal ini memperkuat posisi UNAIR dalam bidang publikasi kesehatan, sekaligus menjawab kebutuhan global akan literatur yang relevan dalam penyakit tropis dan spesialisasi dermatologi.
Alhamdulillah sekarang jurnal dari Kedokteran sudah dua yang masuk Scopus. Ini bukti dari kerja kolaboratif antara akademisi dan pengelola jurnal, ungkap Prof Hery.
Strategi Konsisten dan Pendampingan Berkelanjutan
Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pendampingan yang berkesinambungan. Prof Hery menegaskan bahwa penguatan jurnal UNAIR tetap berjalan dengan prinsip kesinambungan, mulai dari pengelolaan konten, proofreading berstandar internasional, hingga diversifikasi penulis dari berbagai negara.
Kami tetap pakai strategi lama, tetapi lebih fokus pada peningkatan kualitas paper dan perluasan mitra luar negeri. Untuk proofreading misalnya, kini sudah banyak platform daring yang kita manfaatkan, jelasnya.
Tantangan: Kuantitas, Kualitas, dan Keberlanjutan
Meski berhasil menembus indeksasi, Prof. Hery mengingatkan bahwa tantangan selanjutnya adalah menjaga keberlanjutan dan kualitas jurnal. Salah satunya adalah konsistensi publikasi artikel dan peningkatan jumlah sitasi.
Kami tidak hanya kejar jumlah, tapi menjaga ritme agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pengindeks. Konsistensi jadi kunci agar jurnal tetap bertahan di Scopus, tegasnya.
Tak hanya itu, upaya promosi jurnal juga menjadi perhatian utama LIPJPHKI. Dengan memaksimalkan kanal digital dan jejaring akademik global, UNAIR berupaya memastikan jurnal-jurnalnya tidak hanya terbit, tetapi juga terbaca dan disitasi oleh komunitas ilmiah internasional.
Kita rancang promosi agar jurnal bisa menjadi terkenal dan banyak orang yang membaca. Tidak cukup hanya terbit. Harus bisa disitasi, pungkas Prof. Hery.
Dengan semangat sinergi dan inovasi berkelanjutan, UNAIR terus melangkah dalam mewujudkan visi sebagai universitas kelas dunia berbasis riset.(*)
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





